(5/6/2026)fu.uinsgd-
Komitmen pendidikan inklusif makin nyata. Program Studi Ilmu Hadis,Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung menjalin sinergi dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an atau LPMQ Kementerian Agama RI. Keduanya sepakat mengembangkan program kolaboratif penulisan literasi hadis yang ramah disabilitas, khususnya tunanetra, tunarungu, dan tuna wicara.Kamis,4 Juni 2026.
Kunjungan dinas delegasi Prodi Ilmu Hadis ke Gedung LPMQ Jakarta berlangsung hangat dan produktif. Hadir Kepala LPMQ Dr. Abdul Aziz Sidqi, M.A., Ketua Prodi Ilmu Hadis Dr. Agus Suyadi Raharusun, Lc., M.Ag., serta pimpinan Pesantren Tunanetra Sam’an Netra Mulia Bandung Dr. Ridwan Efendi, M.Ag. Pertemuan ini difasilitasi langsung otoritas LPMQ bidang pentashihan literasi keagamaan.

Menjawab Kesenjangan Akses Hadis bagi Disabilitas
Selama ini literasi keagamaan untuk penyandang disabilitas netra lebih fokus pada Al-Qur’an Braille. Sementara akses kitab hadis shahih yang representatif dan mudah diakses masih terbatas.
Kepala LPMQ menegaskan lembaga yang dipimpinnya sudah merambah literasi selain Al-Qur’an, seperti literatur periwayatan asbabul wurud yang memuat banyak riwayat hadis. Langkah ini sejalan dengan penerbitan Mushaf Braille untuk tunanetra dan Mushaf Isyarat bagi tunarungu-tuna wicara, serta pelatihan Juru Bahasa Isyarat dan Braille di berbagai daerah termasuk UIN Bandung beberapa bulan lalu
Ketua Prodi Ilmu Hadis menyebut kunjungan ini langkah awal krusial menindaklanjuti keberpihakan LPMQ pada ranah inklusi.
“Kami ingin memastikan sabda Rasulullah dapat dipelajari mudah dan akurat oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. LPMQ punya pengalaman luar biasa dalam standardisasi master Braille dan digitalisasi inklusif. Kami ingin belajar dan bersinergi di bidang hadis,” ujar Dr. Ridwan Efendi mewakili pesantren tunanetra.

Tiga Agenda Strategis Kolaborasi
Diskusi menghasilkan tiga poin kerja sama yang jadi fondasi program ke depan:
1.Penyusunan Literatur Hadis Braille
Prodi Ilmu Hadis dan LPMQ akan mengalihbahasakan Kitab Hadis Arbain Nawawi ke Braille, lengkap syarah singkat, teks Arab, sanad, dan terjemahan yang ramah konversi ke Braille serta aplikasi screen reader. Ini melengkapi kontribusi Prodi tahun 2017 yang dipercaya Kemensos RI melalui Badan Literasi Braille Indonesia untuk menyusun Riyadhus Shalihin Braille dan Audio yang kini digunakan nasional.
2.Penyediaan Bahan Hafalan Lomba Hafalan Hadis Tunanetra
Seiring perkembangan MTQ menjadi MTQH/STQH, cabang hafalan hadis membuka peluang bagi peserta tunanetra. Saat ini naskah lomba LPTQ baru tersedia untuk peserta awas. Lewat kolaborasi ini, Prodi Ilmu Hadis UIN Bandung akan mengalihaksarakan naskah cabang hafalan hadis ke format Braille agar tunanetra bisa ikut berkompetisi setara.
3.Penyusunan Literasi Hadis Bahasa Isyarat
Mengikuti jejak LPMQ yang menerbitkan Mushaf Al-Qur’an Bahasa Isyarat, Prodi Ilmu Hadis akan menyusun literatur kitab hadis bahasa isyarat bagi disabilitas rungu dan wicara. Program ini dikoordinasikan dengan LPMQ dan komunitas tuli-bisu untuk memastikan akurasi dan kebermanfaatan.
Semua agenda di atas akan melibatkan sivitas akademika Prodi Ilmu Hadis mulai input data, penyuntingan teks, hingga validasi kesahihan hadis yang diterbitkan.
Dukungan Penuh LPMQ dan Penandatanganan MoA
LPMQ menyambut positif inisiatif ini. Dr. Abdul Aziz Sidqi menilai langkah Prodi Ilmu Hadis visioner dan selaras semangat moderasi beragama inklusif Kemenag. LPMQ siap memberi asistensi metodologis terkait sistem pentashihan dan standarisasi media baca khusus agar produk literasi hadis tepat guna dan bebas kesalahan fatal.
Sebagai bagian kunjungan, delegasi juga meninjau dapur produksi, laboratorium Al-Qur’an Braille, dan museum mushaf LPMQ untuk memahami alur standardisasi literasi keagamaan.
Kunjungan ditutup penandatanganan Memorandum of Agreement sebagai dasar kerja sama resmi. Ke depan ditargetkan lahir produk nyata: buku hadis Braille dan isyarat, serta materi hafalan hadis tunanetra untuk MTQH/STQH
.“Prodi Ilmu Hadis menegaskan komitmen bukan hanya sebagai pusat keunggulan akademik, tapi juga agen perubahan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat dalam bingkai kampus inklusif ramah disabilitas,” tegas Agus Suyadi ***



