(15/9/2026)fu.uinsgd —
Punya HP pintar, tapi kitab digitalnya “bisu”. Inilah ironi yang lama dialami santri penyandang disabilitas netra di pesantren. Ponsel bisa bicara lewat screen reader, tapi file PDF, gambar, dan teks Arab gundul tidak bisa “dibacakan”.
Paradoks ini akhirnya dijebol.Sejumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Konversi UIN Sunan Gunung Djati Bandung meluncurkan “Aplikasi Hadis Arbain Audio-Digital” di Pesantren Sam’an, Kabupaten Bandung pada Sabtu (8/8/2026).
Dari Keluhan Santri ke Solusi Nyata
Program pengabdian ini berjalan sejak pertengahan Juli 2026. Berangkat dari keresahan: santri tunanetra kesulitan menghafal hadis secara mandiri karena literatur digital tidak aksesibel.”Anak-anak kami mahir pakai HP. Tapi saat buka kitab digital, mentok. Harus nunggu dibacakan ustaz,” ujar pengurus Pesantren Sam’an.
Melihat itu, tim KKN 5 orang lintas prodi di bawah bimbingan Dr. Ridwan Effendi, S.S., M.Ag merancang solusi.
Tim Lintas Prodi, Satu Misi: Akses Setara
Pembagian tugas dilakukan sistematis:
Konten Keilmuan:
1.Hanafi Nugraha & M. Jabal Al Thariq dari Prodi Ilmu Hadis.
Keduanya memvalidasi 42 Hadis Arbain An-Nawiyyah, mulai dari matan Arab, terjemahan, hingga syarah agar sesuai standar syariat.
2.Pengembang Aplikasi: Fardho Zurrahman & Irsal Shydiq dari Teknik Informatika.
Mereka merancang antarmuka super sederhana dan 100% kompatibel dengan pembaca layar. Navigasinya linier, tombolnya jelas.
3.Manajerial: Azka Wildan Hakim dari Manajemen Keuangan Syariah.
Mengatur anggaran, logistik, dan komunikasi dengan pihak pesantren selama 1 bulan kegiatan.
Santri Ikut “Ngoding” Bareng
Aplikasi ini tidak dibuat sepihak. Tim memakai metode Participatory Action Research. Sejak akhir Juli, santri tunanetra dilibatkan sebagai co-designer. Mereka yang coba tombol, uji suara, dan kasih masukan. Para ustaz juga diajak agar isi aplikasi nyambung dengan kurikulum pesantren.
Fitur Kunci: Offline dan Bisa Diulang
Hasilnya adalah aplikasi berisi 42 Hadis Arbain lengkap dengan:
1.Rekaman audio jernih untuk tilawah dan hafalan
2.Fitur looping agar bisa mengulang satu hadis berkali-kali
3.Mode offline sehingga bisa dipakai di asrama tanpa kuota internet Hasilnya langsung terasa.
Pasca pelatihan, santri kini bisa murojaah mandiri tanpa harus menunggu dibacakan teman atau guru.
Ditinggal KKN, Aplikasi Tetap Hidup
Agar program berkelanjutan, tim menggelar pelatihan administrator untuk pengurus pesantren pada 8 Agustus 2026. Tujuannya, menumbuhkan rasa memiliki. Ke depan, pengurus pesantren yang akan merawat dan meng-update aplikasi. “Teknologi harus jadi rahmat. Dengan ini kami ingin pastikan tidak ada lagi santri yang tertinggal mengakses ilmu hanya karena keterbatasan fisik,” tutup Dr. Ridwan.
Langkah kecil dari Kabupaten Bandung ini membuktikan, inklusi digital di pesantren bukan lagi wacana.***



