Ketua Prodi SAA: Pelatihan HAK Keuskupan,Pentingnya Dialog Keluarga dan Ekologis Menjaga Kerukunan

(8/6/2026)fu.uinsgd.

Pelatihan Penggiat Hubungan Antaragama dan Kepercayaan atau HAK yang digelar Komisi HAK Keuskupan Bandung pada 6-7 Juni 2026 mendapat apresiasi positif dari akademisi. Dr. Ilim Abdul Halim, MA, Ketua Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menyebut kegiatan berlangsung lancar, tertib, dan disiplin dari registrasi hingga penutupan.Ilim memberikan testimoni langsung di hadapan peserta dan pengurus Komisi HAK.

Ia menyoroti 4 aspek utama: penyelenggaraan, peserta, narasumber, dan materi pelatihan. Menurutnya, kehadiran penuh panitia, narasumber, dan peserta menjadi indikator keseriusan kegiatan.

Dialog Lintas Iman Terjadi di Kelas Pelatihan

Yang menarik, peserta pelatihan dari berbagai Paroki Keuskupan Bandung berdialog langsung dengan mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama UIN SGD Bandung dan santri Pesantren Darut Taubah. Momen ini melahirkan rencana aksi dialog yang beragam.

“Rencana aksi yang disusun peserta sangat relevan. Ada dialog keagamaan keluarga, dialog pendidikan, dialog kebangsaan, dan dialog ekologis. Ini menunjukkan peserta tidak hanya belajar teori, tapi langsung merancang aksi nyata,” ujar Ilim.

Empat Pilar Dialog yang Disorot

1.Dialog Keagamaan Keluarga – Ecclesia Domestica

Ilim menekankan pentingnya pendidikan keagamaan di keluarga. Ia menyebut konsep ecclesia domestica yang populer di Gereja Katolik sejalan dengan konsep “keluarga sakinah, mawadah warahmah wabarkah” dalam Islam.“Di keluarga atau usia dini perlu ada dialog teologis agar nilai-nilai keagamaan tertanam dan membentuk karakter. Pendidik di sekolah juga perlu mengenalkan kebinekaan lewat dialog kehidupan,” jelasnya.

2.Dialog Kebangsaan

Menurutnya, dialog kebangsaan sangat krusial bagi pemuda sebagai warga negara. Tujuannya menjembatani perbedaan, mencari titik temu, dan meredam potensi konflik akibat keberagaman.

3.Dialog Ekologis

Ilim mengajak umat beragama merawat bumi sebagai “rumah bersama”.Dialog ekologis dianggap penting agar nilai spiritual diterjemahkan dalam aksi nyata menjaga lingkungan.

4.Dialog Peran Perempuan

Saat ditanya peran wanita, Ilim menegaskan kehadiran perempuan dalam kehidupan sosial harus mendapat ruang. “Wanita memiliki potensi besar untuk mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab,” tegasnya.

Materi dari Sekretaris KWI dan Apresiasi ke Panitia

Materi utama disampaikan Romo Dr. Aloysius Budi Purnomo Pr, Sekretaris Konferensi Wali Gereja Indonesia KWI. Ia membawakan “Dialog sebagai Panggilan Iman Katolik” dan “Bagaimana Berdialog Tanpa Kehilangan Iman?”. Rektor Seminari St Petrus Pematang Siantar itu berbagi pengalaman berdialog lintas agama.

Ketua Komisi HAK Keuskupan Bandung, Romo P. Johanes Surono, hadir didampingi Sekretaris Brochardus Widjajatjandra dan jajaran pengurus. Ilim menilai mereka bekerja sesuai tugas dan fungsi masing-masing.

Di akhir kegiatan, Romo Budi Purnomo kembali menegaskan dua poin penting: peran wanita dalam kehidupan sosial dan ajakan aktif berdialog dengan berbagai kalangan.Pelatihan ini dinilai Ilim sebagai model baik kolaborasi kampus, pesantren, dan lembaga gereja dalam merawat kerukunan.

“Dialog bukan sekadar wacana. Ketika dimulai dari keluarga, sekolah, dan komunitas, maka kerukunan akan tumbuh dari bawah,” pungkasnya ***haryadi

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top