(18/6/2026)fu.uinsgd-
Dekan Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag resmi membuka Sidang Komprehensif Berbasis Kompetensi periode Juni,Rabu,(17/6 2026).Dalam sambutannya, Prof. Wahyudin menekankan dua kata kunci yang wajib melekat pada lulusan Ushuluddin: kompetensi dan penelitian.

Kompetensi, Bekal Menghadapi Kompleksitas Zaman
“Mahasiswa Ushuluddin tidak cukup hanya menguasai teks. Kompetensi itu berarti mampu membaca Al-Qur’an, hadis, akidah, filsafat, dan studi agama-agama, lalu menghubungkannya dengan persoalan nyata umat,” tegas Prof. Wahyudin.
Menurutnya, kompetensi yang dituntut Fakultas Ushuluddin bersifat integratif. Mahasiswa harus punya keteguhan epistemologis untuk memahami dasar keilmuan Islam, kedalaman metodologis untuk mengkaji secara ilmiah, serta kepekaan sosial-spiritual agar ilmunya jadi rahmat bagi sesama.
Sidang komprehensif, lanjut Dekan, bukan sekadar ujian hafalan atau teori. Ini forum untuk menguji sejauh mana mahasiswa bisa mengintegrasikan disiplin keilmuan yang dipelajari selama kuliah dan mengubahnya jadi cara berpikir kritis-moderat.
Penelitian, Jantung Lulusan Ushuluddin
Penekanan kedua yang disampaikan Prof. Wahyudin adalah riset. “Kompetensi tanpa penelitian itu seperti hafal tanpa kontribusi. Lulusan Ushuluddin harus terbiasa bertanya, mencari data, menguji argumen, dan menghasilkan gagasan baru,” ujarnya.
Ia mengingatkan, tantangan umat hari ini: disinformasi keagamaan, ekstremisme, krisis ekologi, hingga etika AI. Semua itu butuh jawaban dari sarjana Ushuluddin yang melek riset. Karena itu, tradisi akademik Fakultas Ushuluddin harus terus didorong dari bangku kuliah sampai sidang komprehensif.“Penelitian membuat kalian tidak hanya jadi konsumen ilmu, tapi produsen ilmu. Dari sinilah lahir pemikiran Islam yang responsif dan solutif,” kata Guru Besar Studi Hadis itu.
Sidang Komprehensif sebagai Gerbang PengabdianProf. Wahyudin juga meluruskan pemahaman mahasiswa tentang makna kelulusan. Sidang komprehensif bukan garis akhir, melainkan gerbang menuju pengabdian yang lebih luas.“Hari ini kalian diuji penguji. Setelah ini kalian akan diuji masyarakat. Jadikan kritik dan masukan penguji sebagai bahan menempa diri. Ilmu yang kalian dapat harus kembali ke masyarakat dalam bentuk dakwah, pengajaran, penelitian, dan kebijakan yang berkeadilan,” pesannya.*** haryadi



