(24/8/2026) fu.uinsgd-
Di tengah lajunya perkembangan sains dan teknologi, manusia justru menghadapi tantangan besar: memori kolektif dan kearifan lokal yang terdokumentasi dalam manuskrip kuno mulai terlupakan. Kesadaran instan dan pragmatis menguat, sementara relasi resiprokal antara manusia, alam, dan nilai keagamaan kian memudar.

Untuk menjawab tantangan itu, Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) bekerja sama dengan Prodi Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung akan menggelar Simposium Nasional dengan tema:
“Religious Studies and Ecological Issues in the Nusantara Manuscript: Past Influence and Future Challenge”Kegiatan dijadwalkan berlangsung Rabu-Jumat, 19-21 Agustus 2026 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Hotel Shakti Jalan Soekarno -Hatta.
Acara di hadiri Rektor UIN SGD Bandung, Prof.Dr.Rosihon Anwar,M.Ag, Wakil Rektor, Prof.Dr.Dadan Rukmana, M.Ag, Dekan FU, Prof.Dr.Wahyudin Darmalaksna,M.Ag, serta para wadek,para ketua jurusan, ketua lab, dosen, tendik dan para tamu undangan lainnya.
Jembatan Masa Lalu untuk Masa Depan

Dalam sambutannya, Rektor Prof.Rosihon mengapresiasi kegiatan ASAI, Ia berharap kegiatan krusial ini bukan sekadar forum akademik. Ini adalah upaya mengkampanyekan kesadaran ekologis dalam bingkai agama yang terekam pada manuskrip kuno.
“Dengan menggali warisan tulis adiluhung, kita bisa menemukan kembali konsep dasar relasi spiritual, budaya, dan lingkungan. Dari sana lahir perspektif baru untuk konservasi dan keberlanjutan,” tegas rektor.

Melalui simposium ini, ia mendorong kajian SAA di Indonesia tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi menjadi gerakan akademik yang berdampak bagi kebijakan, pendidikan, dan praktik keberagamaan yang ramah lingkungan
Membaca Ulang Manuskrip untuk Menjawab Krisis Ekologi

Ketua Umum Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) Prof.Deni Miharja, M.Ag menegaskan bahwa agama dan ekologi tidak bisa lagi dibicarakan secara terpisah. Keduanya bertemu dalam manuskrip Nusantara yang menyimpan memori intelektual tentang relasi manusia dengan alam.
“Kerusakan lingkungan terjadi bukan karena manusia tidak tahu. Kita punya data, teknologi, bahkan AI. Persoalannya adalah cara pandang. Ketika alam hanya dilihat sebagai sumber daya, maka ia dieksploitasi. Ketika alam dilihat sebagai ciptaan Tuhan dan amanah, maka hubungan kita berubah,” ujar prof Deni

Pada kesempatan sama, Ketua Panitia, Dr. Ilim Abdul Halim, M.A. menyampaikan, simposium ini lahir dari keprihatinan bahwa banyak pesan-pesan masa lalu dalam manuskrip belum terungkap. Padahal di dalamnya terkandung aspek collective memory, local wisdom, dan relasi manusia dengan alam semesta yang dibingkai kesadaran keagamaan pada level ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
“Saat ruang privat digital menguat, kita justru kehilangan intimasi sosial dengan alam. Padahal manuskrip-manuskrip Nusantara sudah lama merekam bagaimana agama mengajarkan cinta kasih, konservasi, dan tanggung jawab ekologis,” ujar Ilim.
Simposium ini menjadi ruang bagi akademisi untuk mengeksplorasi epistemologi Studi Agama-Agama (SAA) agar relevan menjawab isu kontemporer. Kajian SAA sendiri kini berkembang di 22 Prodi di berbagai PT di Indonesia, namun jejaring akademik antarprodi belum maksimal.
ASAI hadir sebagai wadah untuk menjembatani. Melalui simposium ini diharapkan terbangun model jejaring kerja, pemetaan keilmuan, dan diseminasi kesadaran empatik serta compassion dalam menjelaskan fenomena keagamaan.
11 Subtema, dari Ekoteologi hingga Kebencanaan
Simposium akan mengangkat 11 subtema strategis:
- Agama dan Lingkungan Hidup
- Agama dan Lingkungan Sosial
- Agama dan Arsitektur Lokal
- Agama dan Tata Ruang Ramah Lingkungan
- Agama dan Kebencanaan
- Agama dan Kesadaran Pengelolaan Sampah
- Ekoteologi dalam Sajian Manuskrip Nusantara
- Ekoteologi dalam Teks Agama-Agama
- Manuskrip, Keberagamaan, dan Lingkungan Hidup
- Spiritualitas, Konservasi Alam, dan Keragaman Hayati
- Kearifan Lokal, Keberagamaan, dan Kelestarian Alam
Tujuannya jelas: mendiskusikan relasi agama dan lingkungan dalam manuskrip, mengkaji pemahaman ekologi dalam konteks agama dan tradisi lokal, hingga mendorong pemikiran kritis tentang penerapan nilai agama untuk konservasi alam dan mitigasi isu lingkungan.
Pakar Nasional dan Internasional Hadir

Simposium akan menghadirkan narasumber lintas keilmuan dan kebangsaan, antara lain:
Prof. Amarjiva Lochan Vice President IAHR, Prof. Dr. Dody S. Truna, M.A Dewan Penasehat ASAI, Samsul Maarif, Ph.D CRCS UGM, Prof. Ignatius Bambang Sugiharto, LPh Unpar, Dr. Steve G.C. Gaspersz, M.A UKI Maluku, Dr. Budy Munawar Rachman Penasehat Menteri Agama bidang Ekoteologi, Prof. Dr. Wawan Hernawan, M.Ag, Prof. Ahmad Muttaqin, Ph.D UIN Sunan Kalijaga, Dr. Busro, M.Ag dan Thiyas Tono Taufiq, M.Ag.
Moderator: Irma Riyani, Ph.D, Dr. Raden Roro Sri Rejeki Waluyojati, M.A, dan Herlina Nurani, M.Ag dari UIN SGD Bandung.
Peserta meliputi pengurus dan anggota ASAI, dosen Prodi SAA PTKIN, STAB, IAKN, UKI, UGM, USD, UKDW, alumni, mahasiswa S1-S3, serta masyarakat dan praktisi agama dan lingkungan.***



