(8/10/2026)FU.UINSGD –
Komitmen memperluas wawasan dan jenjang karir siswa disabilitas terus ditunjukkan SLB Negeri Cileunyi. Melalui kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) Pengurus OSIS SMPLB-SMALB Tahun 2026, sekolah ini melakukan kunjungan sekaligus penjajakan kerja sama dengan Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi (TP) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Kunjungan yang diikuti 20 siswa pengurus OSIS dan 20 guru pendamping ini menjadi momentum belajar langsung di lingkungan kampus.
Kerja Sama Sudah Berjalan 5 Tahun

Ketua Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Dr. Cucu Setiawan, M.A., menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, hubungan antara Prodi TP dengan SLB Negeri Cileunyi sebenarnya sudah terjalin sejak lama.
“Kerja sama sudah berjalan 5 tahun dengan SLBN Cileunyi. Sisi yang bagus, kami didatangi bersama teman-teman OSIS untuk melihat langsung perkuliahan TP seperti apa,” ujar Dr. Cucu.
Ia menambahkan, banyak alumni Tasawuf dan Psikoterapi yang kini berkiprah menjadi pendamping di berbagai SLB.
“TP merasa bahagia dan diapresiasi dengan kedatangan dari SLB untuk melihat langsung KBM di Prodi TP,” katanya.
Ke depan, Prodi TP akan mengembangkan program pengkhususan yang lebih terkonsentrasi kepada anak berkebutuhan khusus dengan metode psikoterapi sufistik dan konseling sufistik.
Bekal Kepemimpinan dan Jenjang Karir

Sementara itu, penanggung jawab kegiatan, Raden Roro Setiawati selaku Pembina OSIS SLB Negeri Cileunyi, menyampaikan tujuan utama kunjungan ini adalah memberikan pengalaman belajar di luar kelas.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar, memperluas wawasan, serta mempererat hubungan silaturahmi dan informasi mengenai jenjang pendidikan dan karir yang dapat ditempuh selanjutnya bagi siswa SLB,” ujarnya.
Lebih dari sekadar LDKS, kunjungan ini diharapkan menjadi pintu awal penguatan kerja sama berkelanjutan antara SLB Negeri Cileunyi dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.Bentuk kolaborasi yang diharapkan meliputi pengalaman civitas akademik, kegiatan inklusi, pendampingan psikologis, serta bidang lain yang relevan dengan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Langkah ini dinilai sebagai terobosan penting, karena Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi memiliki relevansi kuat dalam pendampingan mental, karakter, dan penguatan kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan bagi siswa disabilitas untuk menjadi pemimpin.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi pendidikan inklusi antara SLB dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Jawa Barat.***haryadi



