(1/10/2026)FU.UINSGD–
Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung gas pol cetak penulis. Lewat Akademi Kelas Menulis, mahasiswa didorong tidak hanya jadi pembaca, tapi jadi produsen ilmu.
Kegiatan bergengsi ini menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., Guru Besar Ilmu Hadis, tokoh literasi kampus yang dikenal sebagai motor gerakan publikasi ilmiah di UIN SGD.
Acara yang digelar Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai jurusan, dengan fokus membedah cara menulis yang tembus jurnal.
Menulis Bukan Bakat,Tetapi Skill Yang Dilatih

Dalam paparannya yang tajam dan praktis, Prof. Wahyudin menegaskan, menulis bukan soal bakat. Menulis adalah keterampilan yang bisa dilatih dengan metode.
“Mahasiswa Ushuluddin harus jadi penulis. Kita punya khazanah keislaman yang luar biasa, tapi kalau tidak ditulis, ilmu itu akan hilang. Menulislah setiap hari, minimal satu paragraf,” tegas Prof. Wahyudin.
Ia membongkar rumus menulis cepat dan produktif: mulai dari menemukan ide dari keresahan akademik, membangun kerangka argumentasi, hingga teknik parafrase dan sitasi agar lolos dari plagiarisme.
Menurutnya, ada tiga level penulis yang harus dikuasai mahasiswa hari ini:Menulis Akademik: Artikel jurnal, skripsi, tesis, yang berbasis data dan metodologi.
Menulis Populer: Opini dan esai di media massa untuk mengasah nalar kritis publik.
Menulis Digital: Konten di blog,dan media sosial untuk dakwah keilmuan di era Gen Z.
Gerakan Literasi Harus Jadi Budaya

Dekan Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung menegaskan, Akademi Kelas Menulis ini bukan kegiatan seremonial. Ini adalah investasi jangka panjang.
“Fakultas Ushuluddin harus menjadi garda terdepan dalam melahirkan sarjana yang tidak hanya paham teks klasik, tapi juga mampu menuliskan gagasan Islam yang moderat, rasional, dan relevan dengan isu global,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat tinggi. Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Banyak mahasiswa yang selama ini buntu ide dan takut ditolak jurnal, langsung mendapat solusi praktis dari Prof. Wahyudin.
Kegiatan ini diharapkan menjadi agenda rutin. Targetnya jelas: setiap mahasiswa Fakultas Ushuluddin lulus tidak hanya membawa ijazah, tapi juga karya tulis yang terpublikasi.
“Jangan menunggu sempurna untuk menulis. Menulislah untuk menjadi sempurna,” pungkas Prof. Wahyudin.
**** (haryadi)



