Momentum Rashdul Kiblat, Prodi Ilmu Hadis, BHRD-MUI Kalibrasi Arah Kiblat Masjid di Cimahi

(21/7/2026)fu.uinsgd

Edukasi DKM Gunakan Mizwala dan Tiang Istiwa

CIMAHI – Memanfaatkan momentum Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam, Program Studi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berupa pendampingan kalibrasi arah kiblat di Masjid Miftahus Shiddiq, Kota Cimahi, Rabu, 15 Juli 2026.Kegiatan ini merupakan kerja sama Prodi Ilmu Hadis dengan Badan Hisab Rukyat dan Dakwah BHRD dan MUI Kota Cimahi.

Kalibrasi Menggunakan Mizwala dan Tiang Istiwa

Pengecekan arah kiblat dilakukan dengan Mizwala, alat pengukur kalibrasi kiblat, dan tiang istiwa portable. Alat sederhana ini memanfaatkan bayangan Matahari saat posisinya tepat berada di atas Ka’bah. Pada momentum tersebut, arah bayangan benda yang berdiri tegak dapat dijadikan pedoman untuk mengkalibrasi arah kiblat secara akurat.

Puncak fenomena Istiwa al-A’zam di wilayah Indonesia terjadi pada pukul 16.27 WIB.Acara diawali sambutan Ketua BHRD Kota Cimahi, Drs. TB. Hadi Sutikna. Dilanjutkan pemaparan materi oleh Dr. Agus Suyadi R., M.Ag, Dosen Ilmu Hadis UIN SGD Bandung, tentang prinsip kajian hadis seputar kalibrasi dan rashdul kiblat.Praktek kalibrasi kemudian dipimpin langsung oleh Ketua BHRD saat terjadi Istiwa.

Edukasi untuk DKM Masjid dan Makam

Para peserta yang terdiri dari perwakilan DKM Masjid se-Kota Cimahi mendapatkan dua sesi pelatihan.

Sesi 1: 13.00 – 14.30 WIB

Diawali pretest untuk mengukur pengetahuan awal masyarakat, lalu dilanjutkan sosialisasi mengenai urgensi dan metode penentuan arah kiblat.

Sesi 2: Praktek Lapangan

Peserta melakukan pengecekan langsung arah kiblat Masjid Miftahus Shiddiq di wilayah kerja MUI Kelurahan Leuwigajah, Cimahi Selatan. Selanjutnya, peserta diarahkan untuk melakukan proses rashdul kiblat mandiri pada keesokan harinya, 16 Juli 2026, karena momentum lurusnya Matahari di atas Ka’bah terjadi pada periode 15 dan 16 Juli 2026.

Apresiasi dan Dampak Edukasi

Kaprodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN SGD Bandung, Dr. Agus Suyadi R., M.Ag menyampaikan bahwa program PKM ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu di kelas ke dalam kegiatan nyata di masyarakat.

“Kegiatan ini memadukan kajian teks hadis di kelas yang kemudian diimplementasikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu memastikan ketepatan menghadap Ka’bah ketika melaksanakan salat, baik di masjid, di rumah, maupun di area pemakaman,” ujarnya.

Ketua BHRD, Drs. TB. Hadi Sutikna, mengapresiasi pemilihan wilayahnya sebagai lokasi. Menurutnya, masyarakat setempat belum pernah mendapat pelatihan khusus mengenai metode pengukuran arah kiblat.

“Dengan momentum ini, kami dapat mengecek kembali arah kiblat masjid secara langsung,” katanya.

Berdasarkan hasil pretest, sebagian besar peserta DKM mengaku belum pernah mendapatkan edukasi mengenai pengukuran arah kiblat. Pengetahuan mereka selama ini umumnya masih didasarkan pada kebiasaan, arah bangunan sekitar, dan perkiraan posisi Matahari.

Melalui PKM ini, Kaprodi Ilha berharap dapat meningkatkan akurasi arah kiblat tempat ibadah dan memperkuat literasi keilmuan falak di kalangan masyarakat.*** haryadi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top