(23/7/2026)fu.uin.sgd-
BANDUNG – Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag, resmi membuka Sidang Komprehensif Berbasis Kompetensi Periode Juli 2026,Rabu 23/7/2026. Ujian komprehensif melibatkan 27 peserta dari 5 program studi.
Dalam sambutannya, Prof. Wahyudin menekankan dua kata kunci yang wajib melekat pada lulusan Fakultas Ushuluddin: kompetensi dan penelitian.Kompetensi: Bekal Menghadapi Kompleksitas Zaman

“Mahasiswa Ushuluddin tidak cukup hanya menguasai teks. Kompetensi itu berarti mampu membaca Al-Qur’an, hadis, akidah, filsafat, dan studi agama-agama, lalu menghubungkannya dengan persoalan nyata umat,” tegas Prof. Wahyudin.
Menurutnya, kompetensi yang dituntut bersifat integratif. Ada tiga pilar utama: Keteguhan epistemologis untuk memahami dasar keilmuan IslamKedalaman metodologis untuk mengkaji secara ilmiah Kepekaan sosial-spiritual agar ilmu menjadi rahmat bagi sesamaSidang komprehensif, lanjutnya, bukan sekadar ujian hafalan atau teori.
“Ini forum untuk menguji sejauh mana mahasiswa bisa mengintegrasikan disiplin keilmuan yang dipelajari selama kuliah dan mengubahnya menjadi cara berpikir kritis-moderat,” ujarnya.

Penekanan kedua, adalah riset. “Kompetensi tanpa penelitian itu seperti hafal tanpa kontribusi. Lulusan Ushuluddin harus terbiasa bertanya, mencari data, menguji argumen, dan menghasilkan gagasan baru,” katanya.Ia menyoroti tantangan umat saat ini: disinformasi keagamaan, ekstremisme, krisis ekologi, hingga etika kecerdasan artifisial/AI. Semua itu butuh jawaban dari sarjana Ushuluddin yang melek riset.
“Karena itu tradisi akademik Fakultas Ushuluddin harus terus didorong dari bangku kuliah sampai sidang komprehensif. Penelitian membuat kalian tidak hanya jadi konsumen ilmu, tapi produsen ilmu. Dari sinilah lahir pemikiran Islam yang responsif dan solutif,” ucap Guru Besar Studi Hadis itu.
Sidang Komprehensif sebagai Gerbang Pengabdian

Sementara Wakil Dekan I Dr.Ecep Ismail, M.A, mengatakan bahwa makna kelulusan mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Bagi dia, sidang komprehensif bukan garis akhir, melainkan gerbang menuju pengabdian.“Hari ini kalian diuji penguji. Setelah ini kalian akan diuji masyarakat. Jadikan kritik dan masukan penguji sebagai bahan menempa diri. Ilmu yang kalian dapat harus kembali ke masyarakat dalam bentuk dakwah, pengajaran, penelitian, dan kebijakan yang berkeadilan,” pesannya.
Sidang Komprehensif Berbasis Kompetensi ini diikuti mahasiswa Program Sarjana Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung sebagai syarat akhir sebelum yudisium.
Lebih jauh ia mnyatakan bahwa sidang komprehensif bukan sekadar forum evaluasi akhir penguasaan materi. Ini bagian penting pembentukan kompetensi akademik, integritas intelektual, dan kesiapan profesional mahasiswa Ushuluddin.Melalui sidang ini, mahasiswa diuji kemampuannya mengintegrasikan berbagai disiplin keilmuan: Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Studi Agama-Agama, Akidah dan Filsafat Islam, serta bidang keilmuan Ushuluddin lainnya.

“Fakultas Ushuluddin punya tanggung jawab melahirkan sarjana yang paham teks keagamaan secara mendalam, tapi juga responsif terhadap dinamika masyarakat kontemporer,” ujarnya.
Kompetensi lulusan Ushuluddin tidak berhenti di hafalan dan teori. Lulusan dituntut berpikir kritis, metodologis, moderat, serta mampu berkontribusi akademik bagi umat dan bangsa.*** haryadi



