(25/5/2026)fu.uinsgd-
Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana,M.A., memberikan motivasi kepada 49 peserta ujian skripsi atau munaqasah periode Mei 2026. Dalam arahannya, Prof. Wahyudin menegaskan bahwa ujian munaqasah bukan sekadar evaluasi akhir studi, melainkan momentum bagi mahasiswa untuk mempresentasikan kemampuan intelektual, kreativitas, dan inovasi yang telah dibangun selama proses perkuliahan.
“Munaqasah adalah panggung milik anda. Jadilah anda bersinar, menemukan diri sendiri, dan meraih masa depan yang cemerlang,” ujarnya di hadapan para peserta.
Jadikan Sidang Panggung untuk Bersinar

Ia berharap para peserta dapat menampilkan hasil penelitian terbaik dengan percaya diri dan menjadikannya sebagai pijakan awal untuk melangkah ke dunia profesional maupun akademik selanjutnya. Ujian munaqasah periode Mei 2026 diikuti oleh 49 mahasiswa Fakultas Ushuluddin dari berbagai program studi. Kegiatan ini menjadi tahapan akhir sebelum mahasiswa dinyatakan lulus dan menyandang gelar sarjana.
Tekankan Etika Akademik

Dalam kesempatan yang sama,Wakil Dekan I Dr.Ecep Ismail, MA., mengingatkan seluruh peserta untuk menjunjung tinggi etika akademik selama proses sidang berlangsung. Penekanan ini disampaikan agar sidang tidak hanya menjadi ajang ujian pengetahuan, tetapi juga ujian integritas dan karakter akademik mahasiswa.
Setiap peserta diharapkan menampilkan sikap jujur dan menjaga orisinalitas karya ilmiah. Segala bentuk plagiarisme, fabrikasi data, maupun manipulasi informasi ditegaskan harus dihindari sepenuhnya.
“Sidang ini adalah momentum untuk menunjukkan bukan hanya kompetensi intelektual, tetapi juga keluhuran budi pekerti sebagai calon sarjana yang berintegritas,” ujar Wadek I

Selain aspek substansi, peserta juga diwajibkan menunjukkan sikap profesional saat presentasi skripsi. Hal itu meliputi mendengarkan pertanyaan penguji dengan saksama, menjawab dengan rendah hati namun percaya diri, serta berani mengakui jika ada hal yang perlu dikoreksi. Sikap hormat kepada penguji menjadi bagian penting dari tata krama akademik yang harus dijaga.
Menurutnya, etika akademik yang terjaga akan menjadi fondasi utama bagi reputasi pribadi mahasiswa, fakultas, dan almamater secara keseluruhan.Dengan menekankan integritas sejak tahap sidang akhir, diharapkan lulusan yang dihasilkan tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat sebagai akademisi yang bertanggung jawab.*** Haryadi




