Prof.Wahyudin sebagai Tim Promotor, Busro Sukses Raih Doktor Studi Agama-Agama

(08/08/2025) fu.uinsgd-

Perjuangan Busro dalam menyelesaikan riset tentang aktivitas Bertani sebagai Pengalaman Keagamaan  di Komunitas Agriquran akhirnya berbuah manis. Busro  yang juga dosen Fakultas Ushuluddin ini   telah sukses mengukir dengan tinta emas dalam jenjang karir akademik tertingginya meraih gelar DOKTOR dalam bidang Studi Agama-Agama  di Pascasarjana UIN SGD Bandung dalam sidang terbuka di Aula Lantai 4 Gedung Pascasarjana, Kampus 2 Jalan Soekarno-Hatta,Bandung,Jumat ,08 Agustus 2025.

 

Dengan judul Disertasi  “AKTIVITAS BERTANI SEBAGAI EKSPRESI PENGALAMAN KEAGAMAAN: STUDI PADA KOMUNITAS AGRIQURAN” Busro  sukses  meraih IPK 3.85 ( yudisium sangat memuaskan). Dr.Busro,M.Ag  tercatat sebagai doktor yang ke-1002 yang diluluskan  Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati Bandung dan doktor yang ke-220 di bidang Studi Agama-Agama di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati Bandung.

Busro di promosikan untuk sidang terbuka program doktoral salah satunya oleh  Prof.Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag ( Dekan Fakultas Ushuluddin) sebagai salah satu tim Promotor.

Inilah Promotor dan Ketua  Tim Sidang  Terbuka Busro :

Promotor :
Prof. Dr. Asep Muhyiddin,M.Ag
Prof. Dr. M. Yusuf Wibisono, M.Ag
Prof.Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag

Ketua sidang : Prof. Dr. Ajid Thahir, M.Ag
Sekretaris Sidang : Dr. Dadang Darmawan, MA.

Oponen Ahli : Dr. Muliadi  M.Hum
Oponen Ahli : Dr. Ilim Abdul Halim, MA.
Oponen Ahli : Dr. Dadang Kuswana,M.Ag
Guru Besar : Prof. Dr.Dody S.Truna. M.A

Dihadapan tim penguji dalam sidang terbuka, Busro  mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan penguji. Bahkan dengan dengan argumentatif dan rasional Ia bisa memaparkan dengan detail  semua sanggahan penguji. Dari hasil riset dan pembahasan Disertasinya Busro menyimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan utama terkait dengan komunitas Agriquran, yaitu tentang pemahaman keagamaan, praktik pengelolaan pertanian dan konservasi alam, serta struktur organisasi dan dinamika sosial komunitas ini. Berikut adalah kesimpulan dari temuan penelitian:

1. Pemahaman keagamaan anggota komunitas Agriquran yang mendasari praktik pertanian dan konservasi alam didasarkan pada konsep-konsep teologis seperti khalifah, falah, dan keberkahan yang terkandung dalam ajaran Al-Qur’an. Sebagai khalifah di bumi, anggota komunitas memandang pertanian sebagai amanah Ilahi yang harus dijalankan dengan tanggung jawab terhadap keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan alam. Melalui metode tadabur AlQur’an, mereka menggali makna mendalam dari ayat-ayat yang berkaitan dengan hubungan manusia dan alam, seperti pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya dan menghindari kerusakan lingkungan. Pemahaman ini mengarahkan mereka untuk mempraktikkan pertanian yang tidak hanya mengejar hasil ekonomi, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai spiritual dan ekologis. Selain itu, praktik pertanian dianggap sebagai bentuk ibadah yang merefleksikan syukur atas karunia Tuhan, kemandirian ekonomi yang berkah, dan kontribusi terhadap solidaritas sosial melalui wakaf dan sedekah. Denganlandasan ini, komunitas Agriquran berhasil mengintegrasikan keyakinan agama mereka ke dalam praktik agraris yang berkelanjutan dan bermakna.

2. Praktik-praktik pengelolaan pertanian dan konservasi alam dalam komunitas Agriquran didasari oleh pemahaman keagamaan yang menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, dengan tanggung jawab menjaga keseimbangan ekologis sesuai ajaran Al-Qur’an. Melalui program-programnya seperti Agrivisit dan Pesantren Berdaya, komunitas ini mengintegrasikan prinsipprinsip Islam dalam pengelolaan lahan wakaf, teknik pertanian berkelanjutan, dan penerapan zero waste. Praktik-praktik tersebut mencerminkan nilai keberlanjutan dan rasa syukur kepada Tuhan, seperti penggunaan teknologi biodigester untuk pengolahan limbah organik dan sistem irigasi pintar untuk efisiensi sumber daya. Selain itu, program Agriqurban menunjukkan bagaimana konsep ibadah qurban diadaptasi untuk mendukung kesejahteraan sosial dan lingkungan, dengan memastikan seluruh prosesnya selaras dengan nilai-nilai syariah. Dengan pendekatan ini, komunitas Agriquran berhasil mewujudkan praktik pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga harmonis dengan ekosistem dan berorientasi pada kesejahteraan kolektif.

3. Struktur organisasi dan dinamika sosial komunitas Agriquran dibangun di atas prinsip keagamaan yang kuat, yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam kedalam tata kelola dan interaksi sosial mereka. Struktur organisasi komunitas ini berbasis pada sistem kolektif yang mengutamakan kerja sama, dengan program-program seperti Wakaf Integrated Farm dan Agriqurban yang menjadi model utama pengelolaan berbasis syariah. Dinamika sosial komunitas ini ditandai oleh solidaritas yang kuat melalui praktik bertani yang melibatkan gotong royong, pengelolaan lahan secara bersama, dan distribusi hasil tani untuk kepentingan umat, termasuk melalui program wakaf produktif. Interaksi sosial yang terjadi tidak hanya memperkuat hubungan antar anggota, tetapi juga memperluas dampaknya ke masyarakat luas melalui pelatihan, dakwah, dan pemberdayaan berbasis pertanian Islami. Dengan pendekatan ini, komunitas Agriquran berhasil menciptakan jaringan sosial berbasis agama yang kokoh, di mana prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kesejahteraan bersama menjadi inti dari struktur organisasi dan dinamika sosial mereka. Salah satu implikasi penting dari hasil penelitian ini adalah ditemukannya bentuk baru dari fenomena hijrah yang tidak berpusat pada transformasi devosional atau ritualistik, melainkan berfokus pada dimensi service atau pelayanan sosialekologis. Komunitas Agriquran merepresentasikan jenis hijrah kontemporer yang tidak menuntut perubahan afiliasi teologis ataupun intensifikasi ibadah mahdhah, sebagaimana lazim ditemui dalam gerakan hijrah populer yang berorientasi pada simbol-simbol keagamaan seperti cara berpakaian, jenis dakwah, atau otoritas keagamaan yang diikuti. Sebaliknya, Agriquran menegaskan dimensi praksis keagamaan sebagai bentuk utama dari transformasi religius, melalui kegiatan

bertani, pengelolaan wakaf produktif, edukasi ekologi Qur’ani, serta pendampingan masyarakat agraris marjinal. Implikasi lainnya, penelitian ini juga gagasan baru berupa pengembangan konsep teologi pertanian “baru” sebagai rekontekstualisasi dari teologi pertanian tradisional, yang secara holistik mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, keberlanjutan ekologis, dan teknologi modern. Konsep ini dirumuskan berdasarkan kajian terhadap komunitas Agriquran, yang berhasil menghubungkan praktikagraris dengan pemaknaan keagamaan dalam menghadapi tantangan global seperti industrialisasi, perubahan iklim, dan modernisasi teknologi. Teologi pertanian “baru” mencakup tiga dimensi utama yang saling melengkapi. Dimensi teoretis mengacu pada keyakinan teologis seperti konsep khalifah, falah, dan keberkahan, yang memberikan dasar spiritual bagi aktivitas agraris sebagai bentuk tanggung jawab manusia kepada Tuhan. Dimensi praktis mengintegrasikan teknologi modern, seperti irigasi pintar dan biodigester, dengan prinsip keberlanjutan untuk meningkatkan produktivitas sambil menjaga keseimbangan ekosistem. Dimensi sosiologis menekankan penguatan solidaritas sosial melalui praktik berbasis komunitas, seperti wakaf produktif dan agrivisit, yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat tetapi juga menyebarluaskan nilai-nilai keagamaan dalam konteks agraris.  Hasil penelitian ini menegaskan bahwa teologi pertanian tradisional, yang menitikberatkan pada keberkahan panen dan harmoni dengan alam, tetap relevan jika direkontekstualisasi untuk menjawab tantangan zaman. Namun, pendekatan tradisional ini perlu diperkuat dengan teknologi modern dan strategi keberlanjutan untuk mengatasi persoalan agraris kontemporer seperti degradasi lingkungan dan krisis pangan. Komunitas Agriquran menjadi contoh konkret dari praktik integrasi nilai spiritual dan teknologi dalam pertanian, dengan inisiatif seperti Wakaf Integrated Farm dan Agriqurban yang membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual dapat selaras dengan efisiensi teknologi dan keberlanjutan ekologis. Tawaran ini memberikan kerangka kerja baru yang dapat menjadi panduan bagi pengembangan  pertanian berbasis nilai di tingkat lokal maupun global.

Saran

Untuk Komunitas Keagamaan

Komunitas keagamaan, seperti Agriquran, memiliki peran penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan praktik ekologis yang berkelanjutan. Oleh karena itu, komunitas lain dapat menjadikan Agriquran sebagai model dalam mengembangkan pendekatan berbasis nilai-nilai spiritual untuk pengelolaan sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat. Disarankan agar komunitas keagamaan lainnya memprioritaskan edukasi anggota tentang hubungan agama dan lingkungan, mengintegrasikan nilai-nilai seperti tanggung jawab, keberlanjutan, dan pelestarian ke dalam praktik sehari-hari. Program berbasis kolaborasi, seperti tadabbur ayat-ayat kauniyah yang dipadukan dengan kegiatan praktis seperti bertani atau konservasi alam, dapat menjadi sarana untuk memperkuat kohesi sosial sekaligus menginternalisasi nilai-nilai agama. Selain itu, komunitas keagamaan diharapkan lebih aktif membangun kemitraan dengan institusi pemerintah, sektor
swasta, dan NGO untuk mendukung program keberlanjutan yang berdampak luas.

Untuk Peneliti 

Penelitian ini membuka ruang untuk eksplorasi lebih lanjut tentang hubungan antara agama, pertanian, dan dinamika sosial dalam konteks yang lebih luas. Peneliti berikutnya disarankan untuk memperluas cakupan penelitian dengan menggali pengalaman komunitas serupa di berbagai daerah, baik di Indonesia maupun di luar negeri, untuk mendapatkan wawasan komparatif. Penelitian juga dapat difokuskan pada aspek-aspek spesifik, seperti efektivitas teknologi ramah lingkungan yang diterapkan dalam komunitas berbasis agama, atau pengaruh
kepemimpinan berbasis syura terhadap keberlanjutan program komunitas. Selain itu, pendekatan kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari program-program yang dijalankan komunitas seperti Agriquran. Penelitian lebih lanjut juga perlu mengidentifikasi kendala atau tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan praktik Islami berbasis keberlanjutan untuk memberikan rekomendasi yang lebih aplikatif.

Untuk Kementerian/Negara

Berdasarkan temuan penelitian ini, penting bagi pemerintah, khususnya Kementerian Agama, untuk memperkuat integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam pendidikan Islam. Upaya ini dapat diwujudkan melalui penyusunan kebijakan dan pedoman nasional yang mengarah pada pemahaman ekoteologi sebagai bagian dari ajaran Islam, serta penerapannya dalam kurikulum pendidikan formal dan nonformal. Selain itu, pengembangan model pendidikan berkelanjutan berbasis ekoteologi di lingkungan pesantren dan madrasah perlu didorong sebagai bagian dari strategi membangun kesadaran ekologis sejak dini. Dengan pendekatan ini, peserta didik tidak hanya memahami aspek spiritual dalam ajaran Islam, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai tanggung jawab lingkungan sebagai bagian dari praktik keberagamaan.

Dalam tataran kebijakan yang lebih luas, sinergi antara Kementerian Agama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan komunitas berbasis lingkungan, perlu diperkuat untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan. Selain itu, kerja sama dengan
mitra internasional dalam pengembangan kajian ekoteologi Islam dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih aktif dalam diskursus global mengenai hubungan antara agama dan lingkungan. Sebagai langkah strategis, pendekatan ini juga dapat dikembangkan lebih  lanjut dalam program pendidikan, penelitian, dan pelatihan bagi tenaga pendidik agar ekoteologi tidak hanya menjadi konsep teoritis, tetapi juga diterapkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ekoteologi Islam dapat menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks, sekaligus memperkuat peran agama dalam menjaga keseimbangan ekosistem global.***haryadi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top