(24/10/2026)FU.UINSGD –
Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan Simposium dan Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) 2026 yang digelar pada Kamis-Sabtu (22-24/10).
Forum nasional yang berlangsung di Bandung ini menjadi momentum strategis bagi pengembangan disiplin AFI di perguruan tinggi. Mengusung agenda sentral tentang Pengembangan Kurikulum, Karir Dosen, dan Penguatan Kelembagaan, Munas tahun ini dihadiri oleh 58 peserta yang mewakili 25 Prodi AFI dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Umum ASAFI, Prof. Kholid Al Walid, dalam pidato pembukaannya menyampaikan kegelisahan akademik terkait kondisi pendidikan Islam saat ini. Ia menyoroti paradoks antara melimpahnya lembaga pendidikan Islam dengan krisis lahirnya ilmuwan Muslim kaliber dunia.
“Kegelisahan itu bermula dari satu pertanyaan sederhana yang sering saya ajukan kepada diri sendiri: mengapa pendidikan Islam kita, yang begitu luas dan begitu ramai, dengan puluhan ribu madrasah dan pesantren serta jutaan santri dan siswa, tidak lagi melahirkan Al-Ghazali, Ibn Sina, atau Al-Biruni yang baru?” ujar Prof. Kholid.
Menurutnya, salah satu akar masalah adalah tercabutnya pengajaran logika dan filsafat secara mendalam dari kurikulum madrasah dan pesantren, serta masih kuatnya dikotomi antara ilmu agama dan sains. Upaya integrasi-interkoneksi ilmu yang berjalan selama ini dinilai belum menyentuh fondasi epistemologi.

Sebagai jalan keluar, ia menawarkan pemulihan paradigma tauhid melalui konsep scientia sacra, yang menempatkan keesaan Tuhan sebagai pusat dari seluruh cabang pengetahuan. Filsafat, tegasnya, tidak boleh direduksi hanya dari perspektif pasar kerja.“Filsafat mestinya bukan sekadar pelajaran, tetapi bangunan dari setiap kurikulum fakultas dan prodi di seluruh Indonesia. Logika dan filsafat adalah tulang punggung paradigma pemikiran yang melatih daya nalar dan daya kritis generasi muda,” katanya.
Ketua Panitia Pelaksana, Maman Lukmanul Hakim, menyampaikan bahwa penunjukan Bandung sebagai tuan rumah merupakan amanah sekaligus tanggung jawab untuk memperkuat sinergi antar-prodi.
“Kami berupaya memberikan pelayanan terbaik sebagai tuan rumah. Munas ini kami desain bukan hanya sebagai forum pertanggungjawaban organisasi, tetapi sebagai ruang kerja bersama untuk merumuskan masa depan AFI yang lebih relevan,” ujarnya.
Tiga Agenda Krusial

Simposium tahun ini memfokuskan pada tiga isu krusial yang selama ini menjadi tantangan prodi AFI.
Pertama, Pengembangan Kurikulum.
Ketua Umum ASAFI, Prof. Kholid Al Walid, menekankan pentingnya pemulihan paradigma tauhid dan scientia sacra dalam kurikulum nasional.
Ia menilai kurikulum AFI harus keluar dari jebakan dikotomi ilmu agama dan sains, serta mengembalikan logika dan filsafat sebagai tulang punggung nalar mahasiswa.
“Filsafat mestinya bukan sekadar pelajaran, tetapi bangunan dari setiap kurikulum fakultas dan prodi di seluruh Indonesia,” tegas Prof. Kholid.
Kedua, Karir Dosen.
Forum membahas kepastian jenjang karir dan pengembangan kompetensi dosen AFI di tengah tuntutan akreditasi dan publikasi ilmiah.
Para peserta sepakat perlu ada peta jalan pembinaan dosen muda AFI, baik dalam penguatan metodologi penelitian filsafat Islam maupun dalam penguasaan isu-isu kontemporer.
Ketiga, Kelembagaan.
Perwakilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Munir, M.A., menyoroti tantangan kelembagaan setelah banyak Prodi AFI meraih akreditasi Unggul.
“Sekarang AFI rata-rata sudah terakreditasi Unggul. Tetapi apa setelah Unggul? Apakah jumlah mahasiswa meningkat? Ini tanggung jawab kita bersama untuk membalik opini publik agar AFI semakin diminati,” ujar Dr. Munir.

Menurutnya, penguatan kelembagaan tidak cukup hanya dengan status akreditasi, tetapi harus dibuktikan dengan inovasi prodi, kolaborasi riset lintas kampus, dan pengabdian yang berdampak langsung pada masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Munas di Bandung ini, ASAFI menargetkan lahirnya tiga output utama: rumusan kurikulum inti nasional AFI yang adaptif, kesepakatan pengembangan karir dosen melalui asosiasi, serta penguatan advokasi kelembagaan AFI di tingkat kementerian.
“Momentum tuan rumah ini kami maksimalkan supaya punya nilai lebih untuk kita semua dan untuk prodi. Kalau berkolaborasi, tantangan akan lebih cepat terlewati,” pungkas Maman Lukmanul Hakim.
Kegiatan ditutup dengan laporan pertanggungjawaban pengurus ASAFI periode sebelumnya dan pemilihan Ketua ASAFI yang baru untuk periode mendatang.*** Harry Raspati



