(21/04/2026)fu.uinsgd-
Kreativitas dan keunikan keris karya Empu Puryadi serta personalisasi keris pusaka sebagai upaya memelihara tradisi lama menjadi pokok bahasan dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Fakultas Ushuluddin,UIN SGD Bandung, Selasa, 21 April 2026.
FGD ini menghadirkan Narasumber Muhammad Alfan, M.A, dihadiri Ketua Jurusan Tasawuf Psikoterapi Dr.Cucu Setiawan,MA., dan para peserta dari mahasiswa TP. Mereka menggelar kegiatan tersebut, untuk mendiskusikan posisi keris di tengah arus modernisasi.

Salah satu fokus utama adalah karya Empu Puryadi yang dinilai mampu memadukan pakem tradisi dengan sentuhan kreativitas tanpa menghilangkan nilai filosofis keris.Keunikan keris Empu Puryadi terletak pada kemampuannya membaca karakter calon pemilik. Setiap bilah tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki taksu yang selaras dengan pemesan. Ini bentuk personalisasi keris pusaka yang menghidupkan kembali fungsi keris sebagai sipat kandel sekaligus karya seni.
Diskusi juga menyoroti pentingnya personalisasi dalam menjaga relevansi keris pusaka. Di era digital, keris tidak lagi sekadar benda pusaka yang diwariskan, tetapi dapat dirancang khusus sesuai nilai, harapan, dan jati diri pemiliknya. Pendekatan ini dinilai efektif menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mencintai tradisi perkerisan.
Personalisasi bukan berarti meninggalkan pakem. Justru dengan memahami karakter, dapur, pamor, dan ricikan, seorang empu bisa mencipta karya baru yang tetap berpijak pada tradisi lama. Di sinilah kreativitas bertemu dengan pelestarian,
Pelestarian keris memerlukan tiga hal: regenerasi empu, edukasi publik, dan ruang apresiasi. Kreativitas seperti yang ditunjukkan Empu Puryadi menjadi jembatan agar keris tetap hidup, tidak hanya sebagai artefak museum, tetapi sebagai warisan budaya yang terus bernafas.
Membangun ekosistem perkerisan yang sehat, di mana tradisi lama terpelihara, sementara inovasi tetap tumbuh.Keris telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2005. Forum ini menegaskan bahwa menjaga keris berarti menjaga identitas dan kearifan lokal bangsa***



