(18/05/2026)fu.uinsgd
– Program Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung bersama Paramadina Center for Religious and Philosophy (PCRP) menyelenggarakan _Mini Workshop Mahasiswa_ bertema “Dialog Antaragama sebagai Strategi Pendidikan Perdamaian di Perguruan Tinggi”.bettempat di Aula lantai IV Gd.Pascasarjana UIN SGD Bandung, Rabu,13 Mei 2026
Acara ini merupakan kelanjutan dari program perjumpaan mahasiswa lintas kampus dan Deklarasi Mahasiswa Lintas Kampus yang digelar pada 11 Mei 2026 di Bogor.
Membangun Perdamaian Lewat Dialog
Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Dr. R. Yuli Ahmad Hambali, M.Hum., dalam sambutannya menekankan pentingnya pertemuan antarpribadi.
“Manusia bisa menjadi eksis jika manusia itu berjumpa dan berdialog dengan manusia lainnya, bukan sebagai benda,” ujarnya.
Ia berharap melalui mini workshop ini mahasiswa mampu menyusun pola perdamaian sesuai konteks yang mereka alami.
Kegiatan yang diikuti 40 mahasiswa Fakultas Ushuluddin itu menghadirkan Dr. Budhy Munawar Rachman selaku Direktur PCRP, Dr. Ahmad Gaos SP sebagai analis kegiatan, dan Laksamana Madya Purn. M. Sunarto sebagai pengurus JAI. Acara dipandu oleh tim workshop yang terdiri dari Nita Lusaid, Dr. Neng Hanah, Anick HT, dan Nisa.
Kampus Harus Hadir Dalam Dialog Antaragama
Ketua Program Studi Agama-Agama,Fakultas Ushuluddin, Dr. Ilim Abdul Halim, MA., menegaskan bahwa perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam, memiliki peran strategis dalam dialog antaragama.
“Kampus bisa memberi inisiatif, legitimasi, dan kontrol sosial dalam menyikapi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, serta kehidupan global,” katanya.
Ia menyebut perguruan tinggi keagamaan Islam dapat berperan dalam transformasi damai karena memiliki ilmu pengetahuan modern yang bercorak keagamaan dan empiris. Dengan demikian, manfaatnya bisa dirasakan tidak hanya oleh umat Islam, tetapi semua pihak, sejalan dengan nilai raḥmatan lil ‘ālamīn
Dr. Ilim juga memperkenalkan istilah “Hiber ka Jumantara” – terbang ke angkasa – sebagai semangat internasionalisasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Menurutnya, peran global perguruan tinggi harus ditopang oleh kualitas lokal, nasional, dan internasional melalui berbagai dialog.
Delapan Jenis Dialog untuk Transformasi
Hal senada disampaikan Dr. Budhy Munawar Rachman. Ia menyebut dialog harus dilandasi semangat transformasi, belas kasih, dan keimanan. Ada delapan jenis dialog yang relevan:
1. Dialog kehidupan
2. Dialog karya/aksi sosial
3. Dialog teologis
4. Dialog pengalaman spiritual
5. Dialog etik global
6. Dialog pembebasan
7. Dialog peradaban
8. Dialog ekologis
Ahmad Gaos AF, penulis buku ensiklopedia Nurcholis Madjid, mengingatkan bahwa pada tahun 1990-an banyak tokoh dialog antaragama seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Johan Effendi, dan Dawam Rahardjo. “Semua tokoh ini telah memberi pelajaran dialog antaragama kepada masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Dialog dan Kerja Sama untuk Kehidupan Beragam
Laksamana Madya Purn. M. Sunarto menekankan pentingnya dialog dan kerja sama dalam kehidupan yang beragam. “Dengan dialog dan kerja sama dapat menambah wawasan, pengalaman, dan saling membantu,” ungkap mantan Kapuspen TNI 2006 dan Danseskoal 2007 itu.
Pengurus JAI lainnya, Harvan Ahmad, MBSY, menambahkan bahwa dialog teologi perlu terus dilakukan agar menambah wawasan bagi peserta maupun penonton.
Dalam workshop yang berlangsung pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, mahasiswa merancang model dialog antaragama sesuai kondisi kampus masing-masing. Mereka juga berlatih menyusun strategi kampanye dialog yang efektif untuk generasi yang mereka hadapi.



