FU.UINSGD-Meski keberadaan paham Ahmadiyah menjadi kontroversi sampai saat ini.Namun, dimata Dr.Ilim Abdul Halim, M.Ag. sebagai Ketua Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin UIN Bandung punya pandangan berbeda.
Menurutnya, kontroversi paham Ahmadiyah itu bagi kalangan MUI, tapi untuk Prodi SAA, perbedaan-perbedaan pandangan atau paham merupakan wilayah akademis yang harus dikaji semuanya.
Sebab itu,Prodi SAA mengundang dan menghadirkan langsung Maulana Mirajudin Sahid ( Amir Nasional Ahmadiyah Indonesia) untuk mendengarkan dan mengkaji dari sumber primer (utama) supaya jelas bisa dipahami semua, bagaimana pemikiran,ritual,dan organisasi keagamaan Ahmadiyah untuk dilakukan dialog dan diskusi bersama.
“ Prodi SAA menganggap paham Ahmadiayah masuk pada kajian akademis, karena di SAA semua agama dan paham dikaji secara akademik. “ ucap Ilim saat menghadiri acara Penguatan Moderasi Beragama Prodi SAA, di Aula lantai I, Kamis, 31 Oktober 2024.
Dijelaskan Ilim dari dialog dan diskusi tersebut, terungkap ada beberapa titik temu yaitu secara Agama, paham Ahmadiyah masih mengaku Islam, mengakui kitab suci Alquran, mengakui Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, dan sebagai warga negara Indoensia.
Tidak hanya itu, lanjut Ilim, Ahmadiyah punya komitmen Kebangsaan, menyikapi perbedaan secara toleransi, mengutamakan akhlaqul karimah, menjungjung persaudaraan, anti kekerasan, dan akomodatif dengan tradisi lokal (kearifan lokal). Dan, semua itu menjadi indikasi moderasi beragama di kalangan Ahmadiyah.
Sementara, Maulana Mirajudin Sahid mengapresiasi undangan Prodi SAA, untuk melakukan silaturahmi,diskusi dan kajian akademik bersama tentang konsep Moderasi Beragama dari pandangan Ahmadiyah.Dengan mengutip QS.An.Nahl ayat 125, Ia menegaskan bahwa Ahmadiyah tetap menjungjung tinggi perdamaian dan dialog dimanapun berada,
“ Kita harus bersyukur sebagai warga negara Indoensia terdiri dari banyak agama, suku, ras dan etnis merupakan anugrah yang harus dijaga keutuhannya. Dan,Ahmadiyah berkomitmen untuk berdialog dengan siapapun dan menebar perdamaian dan anti kekerasan.” ucapnya
Dipaparkan, perbedaan harus menjadi Rahmat, perbedaan bukan berarti perpecahan,tetapi perbedaan harus menjadi penguat persatuan dan kesatuan bangsa.
“ Maka pentingnya melakukan dialog dan diskusi tentang perbedaan paham dan pandangan untuk mencari titik temu kebenaran” ujarnya.
Ia mengakui pandangan yang negatif terhadap Ahmadiyah akibat kurangnya dialog,dan informasi yang salah (Hoak) yang diterima masyarakat luas. Sehingga yang timbul adalah stigma negative,kebencian dan permusuhan.
” Masyarakt luas dari pusat hingga daerah, mengenal Asli ajaran Ahmadiyah hanya 1 persen, sisanya mereka menerima informasi Hoak, sehingga mereka membenci kepada Ahmadiyah.” Ungkapnya.
Padahal, paham Ahmadiyah tetap Bertuhan Allah SWT, Mengakui Nabi Muhammad SAW sebagi nabi trakhir, Al-Quran sebagi kitab suci. Begitu juga dalam konsep Moderasi beragama, Ahmadiyah berkomitmen mengutamakan dialog dan toleransi, menghargai perbedaan, mengutamakan akhlaqul karimah, menjungjung persaudaraan, anti kekerasan, dan akomodatif dengan tradisi lokal (kearifan lokal).
Direktur ekskutif Rumah Moderasi Beragama, UIN Bandung Dr.Usep Dedi Rostandi, mengapresiasi Prodi SAA mengundang kegiatan moderasi beragama menghadirkan Maulana Mirajudin Sahid ( Amir Nasional Ahmadiyah Indonesia) sebagai kajian akademik untuk memperkuat konsep moderasi beragama di kalangan mahasiswa dari berbagai paham keagamaan.
“ Perbedaan atau keberagaman merupakan anugrah dari Allah SWT. yang harus kita rawat dan jaga. Agar perbedaan itu menjadi rahmatan lil ‘alamin,” katanya.
Acara dihadiri Wakil dekan II, Dr.Muhlas, M.Hum, ketua Prodi Bimbingan Konseling Islam, Pascasarjana UIN Bandung, Dr.Dadang Ahmad Fajar, M.Ag. dan tamu undangan lainnya.
***