Pojok Dekan

RAMADHAN DAN LIVING QUR’AN

GAIRAH membaca Alquran di bulan Ramadhan ini meningkat seiring dengan berbagai keutamaannya yang digembor-gemborkan para penceramah.Tidak ada bacaan paling sering dibaca di bulan suci ini yang melebihi Alquran. Bantuan teknologi...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

SEMINAR KEBANGSAAN UNTUK CEGAH RADIKALISME
Update: Kamis, 24-MEI-2018

USHULUDDIN NEWS - Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tasawuf Psikoterapi menggelar ‘Seminar Kebangsaan’ dalam rangka Gebyar Semarak Milad Tasawuf Psikoterapi yang ke-20 di Aula Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, Senin (21/05/2018). Seminar kebangsaan ini merupakan salah satu rangkaian acara SEMI TAPSI 20 setelah sebelumnya digelar Forum Group Discussion (FGD) pada Sabtu (19/5/2018) pekan lalu. 

 

Dengan bertemakan “Tasawuf Revolusi Mental : Membangun Karakter Bangsa dan Menangkal Radikalisme di NKRI”, seminar ini mengundang tiga pembicara, yaitu Bambang Sugiarto yang juga sebagai Guru Besar Unpar, Kapolda Jabar Agung Budi Maryoto, dan Kholid Al Walid dosen Tasawuf Psikoterapi. Tema yang diambil merupakan salah satu problematika di Indonesia yang sedang hangat saat ini, yakni tentang bagaimana cara menangkal radikalisme. 

 

Salah satu pembicara yang sekaligus Dosen Tasawuf Psikoterapi, Khalid Al Walid mengungkapkan bahwa problem paling mendasar seorang manusia adalah ketika sudah berhenti mencari kebenaran. Khalid juga menilai bahwa kekerasan yang terjadi dengan atas nama agama akhir-akhir ini dikarenakan dua faktor, yaitu pemahaman agama yang sempit dan juga kepentingan politik. 

 

“Problem paling mendasar adalah ketika sudah berhenti mencari kebenaran, ini pokok dasar munculnya radikalisme,” ungkap Khalid Al Walid yang juga merupakan Pendiri Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra Jakarta.

 

Sementara itu salah seorang peserta seminar, Alya Fauzan Mustofa mengingatkan sikap mahasiswa sekarang dalam menghadapi problematika yang ada untuk tidak Fundamental. Karena melihat fenomena sekarang banyak sekali yang ‘menawarkan’ fundamental dan radikalisme di sosial media. 

 

“Banyak sekali dari kita yang tertarik untuk memasuki suatu golongan tertentu tanpa mengkritisi atau mengetahui hal tersebut lebih dalam. iya itu mentah sekali bagi mahasiswa,” tutupnya.