Pojok Dekan

BIMBINGAN MAHASISWA MODEL USHULUDDIN UIN BANDUNG



TULISAN ini merupakan bentuk bimbingan mahasiswa yang berlangsung di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Setiap dosen memiliki tugas bimbingan mahasiswa. Pembagian...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

MENJANGKAU HATI DENGAN REGULASI

HANYA dalam sinetron persilangan pernikahan antara si kaya dan si miskin terjadi. Hanya dalam cerita-cerita fiksi, pernikahan antara mereka yang status sosialnya tinggi dengan yang status sosialnya rendah dirayakan. Dalam dunia...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

SAMAKAN PERSEPSI ,DOSEN IAT GELAR DISKUSI KONTRUKSI ILMU TAFSIR
Update: Jumat, 28-FEB-2020

RUMAHMODERASI – GUNA kepentingan pengembangan dan pendalaman Ilmu Tafsir Alquran, Jurusan Ilmu Alquran Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin UIN Bandung secara rutin menggelar diskusi. Ketua Jurusan IAT Ecep Ismail M.Ag mengatakan Diskusi rutin dilaksanakan sekali dalam seminggu pada setiap Jumat, (28/02/2020).

 

Menjadi pembicara dalam diskusi itu adalah DR Badruzaman Yunus MA. Sedangkan moderator adalah Ecep Ismail MA, dan pesertanya terdiri atas sejumlah Dosen dan Mahasiswa. Adapun tema diskusi “Menyamakan Persepsi Kontruksi Ilmu Tafsir”. 

 

DR Badruzaman Yunus MA mengungkap tentang epistemology ilmu tafsir. Menurutnya, Al-Quran adalah kitab suci yang cocok di setiap zaman dan waktu. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah, kaidah-kaidah syari’at, asas-asasperilaku, serta menuntun manusiakejalan yang lurus dalam berpikir dan beramal.

 

Namun demikian, lanjutnya,  Allah SWT Tidak member perincian-perincian dalam masalah-masalah tersebut sehingga banyak lafal al-Qur’an yang membutuhkan tafsir. Terlebih sering menggunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya.

 

“Lafazh yang pendek tapi terhimpun sekian banyak makna di dalamnya. Untuk itulah, diperlukan penjelasan berupa tafsir Al-Qur’an,” paparnya.

 

Tafsir jika ditinjau dari segi sumbernya terbagi dua, yaitu tafsir bi al-ma`tsûr (berdasarkan riwayah) dan tafsir bi al-ra’yi (ijtihad). Tafsir bi al-ma`tsûr terbagi dua, yaitu tafsir bi al-ma`tsûr murni dan tafsir bi al-ma`tsûr yang bercampur dengan ra’yu (ijtihad).

 

Begitu pula tafsir bi al-ra`yi terbagi dua, yakni tafsir bi al-ra`yi murni, dan tafsir bi al-ra`yi yang mengandung unsur tasir bi al-ma`tsûr.

 

“Metode tafsir terbagi dua lagi, yakni metode tafsir umum yaitu tahlili,   ijmali (penfsiran secara global), muqarin (perbandingan) dan maudhu’i (tematik),” jelasnya seraya menegaskan bahwa metode tafsir khusus, yakni metode tafsir yang dikembangkan dan digunakan oleh masing-masing penafsir.

 

Sementara itu, corak tafsir tebagi dibagi dua pula. Yang pertama adalah corak tafsir yang didasarkan pada latar belakang mufassir, dan kedua corak tafsir yang didasarkan pada tujuan mufassir dalam menafsirkan al-Quran. “Corak dari kedua tafsir tersebut tidak terbatas jumlah,” ujarnya.

 

Dari diskusi ini melahirkan pemahaman bersama dosen IAT UIN SGD yang memiliki distingsi tersendiri dalam bangunan ilmu tafsir,diantaranya bahwa:

 

Tafsir bi al-Matsurt erbagi dua yaitu mujarrod al alatsar dan al-makhluthbaina al-atsarwa al ra’y. Bagitupun Tafsir bi l-Ra’yterbagidua pula, yaitu mujarrod al alra’y dan al-makhluthbaina al-ra’yrwa al-atsar.

 

Selama ini pembagian sumber tafsir hanya dikelompokan ke dalam bi al-matsur dan bi al-ra’ys emata, padahal karya tafsir kebanyakan berjenis al-makhluthbaina al-ra’yrwa al- atsar.

 

Kesimpulan berikutnya adalah perlu dikajiulang pendapat yang menyatakan bahwa penafsiran alquran dengan alquran merupakan jenis tafsir bi al- matsur. Sebab penafsiran jenis ini termasuk bi al-rayi bukan tafsir bi al-matsur, kecuali ada riwayat yang bersumber dari Nabi Saw atau para Sahabat yang menyatakannya. Selama tidak ada riwayat, maka jenis penafsiran ini termasuk bi al-ra’y.(edited by nurholis)