Pojok Dekan

SAYA DULU BELUM MENEMU TRADISI RISET

 

DR.Wahyudin Darmalaksana, MA

TAHUN 1996 saya harus menyusun skripsi. Ketika itu di Fakultas Ushuluddin apa yang disebut masalah tidak selalu dihubungkan dengan masalah praktis semisal adanya ketimpangan di...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi Drs. H.O. Djauharudin AR (1933-1995).

Ilmu Harus Membentuk Akhlaq

“….pengamalan ilmu pengetahuan yang diperoleh para mahasiswa harus dapat membentuk watak/karakter mahasiswa. Watak dan karakter itu...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

HANYA AGAMA YANG SEJALAN DENGAN SAINS YANG BERTAHAN
Update: Rabu, 9-OKT-2019

 

USHULUDDINNEWS- "SEBATANG pohon mati karena tidak dirawat, dipelihara, karena dinilai tidak memberi manfaat. Ada juga pohon yang mati sengaja ditebang karena tidak memberi manfaat. Begitu juga dengan agama."

Ilustrasi itu disampaikan Prof.DR.Afif Muhammad, MA mengawali pembicaraannya saat menjadi pembicara kunci dalam acara Bedah Buku berjudul The End ofReligion Era, yang digelar Jurusan Himpiunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hadits Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, Selasa (08/10/2019).

Lebih spesipik, Sang Profesor juga memberi ilustrasi lain. Menurutnya, ada ajaran agama yang mengajarkan bumi itu datar. Pendapat tersebut tentu saja bertentangan dengan pendapat sains yang berdasarkan penelitian empiris dan positivis mengatakan bumi itu bulat. 

Demikian juga pendapat yang mengatakan, ketika seorang anak terlahir ke dunia dia telah membawa dosa turunan. Anggapan ini bisa dipatahkan seorang ilmuwan moderen bernama Jhon Lock yang mengatakan ketika manusia lahir seperti kertas. 

"Jhon Lock menjelaskannya dengan apa yang disebut teori Tabula Rasa," jelasnya.

Karena sains oleh orang Barat pada waktu itu lebih dipercaya maka orang-orang Barat mulai lari dan meninggalkan agama. Tapi tidak demikian halnya dengan Islam. "Yang terjad, hasil penelitian sain yang positipistik dan empiris justru memperkuat ajaran Islam. Ini artinya Islam sejalan beriringan dengan sains, ilmu pengetahuan, teknologi, seperti bumi itu bulat dan berputar serta anak yang baru lahir itu suci," sambungnya.

Apalagi pada saat fungsi agama tidak memberikan kepastian, harapan dan masa depan, maka semakin ditinggalkan. Misalnya dalam membangun karakter, kejujuran, bisa dilakukan melalui manajemen, personalia. 

Buku ini dibagi menjadi empat bahasan. Pertama, the end of religion era. Menceritakan tentang bagaimana awalnya agama di bumi. Kondisi pada abad kegelapan, hingga cara menakar nilai-nilai agama Islam dalam diri kita dan kondisi keberagamaan di era milenial.

Kedua, refleksi meraih ikhlas. Tentang bagaimana proses fathu Mekkah, persepsi jihad, ijtihad dan mujahadah, muhasabah, berkolusi dengan Allah, ikhlas dan sunatulloh.

Ketiga, refleksi atas masalah ibadah. Menceritakan tentang kebiasaan-kebiasaan umat dalam beribadah, bahkan ada yang tidak merasakan ketenangan dalam hati saat beribadah.

Keempat, refleksi membangun umat. Menceritakan perjalanan, perkembangan Islam di Indonesia, sejak masa penjajahan hingga perkembangan Islam yang tidak bisa lepas dari pengaruh perjalanan para penduduk Indonesia yang melaksanakan ibadah haji, Setya perkembangan jumlah dan cara mereka melakukan ibadah dari zaman penjajahan hingga kini.

Sebagai contoh sederhana kata Prof Afif, agama melarang berbuat korupsi. "Akan tetapi umatnya tidak mau, malah jadi koruptor. Untuk di Indonesia yang semakin banyak pemimpin yang korup. Jangan KPK. Wong Tuhan tidak ditakuti. Jadi terus tumbuh subur perilaku korupsi ini," keluhnya.

Jika melihat perilaku pemimpin yang tidak adil, korup, lalim, umatnya malah mengikuti, maka dapat dipastikan Islam akan ditinggikan, mati, seperti pohon yang tidak disiram, diberi pupuk.

Dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam, apakah 87 persen muslim itu dapat menyumbangkan kemacetan, ikut memberantas korupsi.

"Saya suka jengkel dengan para koruptor yang hafal Qur'an, bahkan pengadaan Qur'an dikorup. Dengan begitu, ajaran Islam tidak bisa memberikan warna, malah diwarnai. Oleh karena itu, perilaku kita lebih seluler dari pengertian lain. Inilah benih-benih kematian agama," pungkasnya. (edited by nurholis)