Pojok Dekan

SAYA DULU BELUM MENEMU TRADISI RISET

 

DR.Wahyudin Darmalaksana, MA

TAHUN 1996 saya harus menyusun skripsi. Ketika itu di Fakultas Ushuluddin apa yang disebut masalah tidak selalu dihubungkan dengan masalah praktis semisal adanya ketimpangan di...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi Drs. H.O. Djauharudin AR (1933-1995).

Ilmu Harus Membentuk Akhlaq

“….pengamalan ilmu pengetahuan yang diperoleh para mahasiswa harus dapat membentuk watak/karakter mahasiswa. Watak dan karakter itu...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

DEKAN; BEDAH BUKU PERLU DALAM MEMBANGUN KULTUR AKADEMIK
Update: Rabu, 9-OKT-2019

Dari Acara Bedah Buku The End of Religion Era

 

USUHULUDDINNEWS-FAKULTAS Ushuluddin UIN Bandung, Selasa (8/10/2019) kemarin menggelar Bedah Buku karya Prof.DR.Afif Muhammad, MA berjudul The End of Religion Era. Bertempat di Aula Koordinatorat Perguruan Tinggi Islam (Kopertais), JL.AH.Nasution 105 Bandung, acara tersebut selain dihadiri langsung penulis buku tersegbut yakni Prof.DR Afif Muhammad,MA.

 

Selain itu, nara sumber lain yang menjadi pembedah dan pembanding adalah Drs. Ahmad Gibson Albustomi, M.Ag, (dosen filsafat), Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag (Dekan Fakuktas Ushuluddin), Dr. Muhlas, S.Ag., M.Hum (Wakil III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama). Acara tersebut dipandung DR. Masmuni Mahatma, M.Ag.

 

Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag, sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan bedah buku the end of religion era yang digelar HMJ Ilmu Hadis dalam rangka menciptakan kultur akademik yang unggul, kompetitif dan mewujudkan Ushuluddin bergegas.

 

"Hari ini acara bedah buku sudah mulai ditinggalkan, menjadi langka, tenggelam, bahkan terbawa arus laut. Seakan-akan bedah buku bukan lagi budaya akademiS. Pahala bedah buku sangat dibutuhkan dalam upaya membangun peradaban kampus," tegasnya.

 

Menurutnya, untuk mewujudkan Ushuluddin bergegas diperlukan ulasan buku yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen dalam bentuk esai yang dipublikasikan pada jurnal terakreditasi dan bereputasi.

 

"Dalam konteks sekarang, riviu  buku the end of religion era karya soko guru ilmu pengetahuan, pemikiran, cendekiawan di Ushuluudin sangat diperlukan. Caranya, keluaran dari bedah buku ini harus dilanjutkan ke dalam bentuk tulis esai yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa untuk dipublikasikan," paparnya.

 

 

 

Baginya buku the end of religion era menunjukan wabah agnotisme di belahan dunia mana pun sebagai benih spiritualisme atheis (spirit tanpa Tuhan) yang terus tumbuh dan berkembang. Agnotisme adalah pandangan filsafat bahwa ada atau tidak adanya Tuhan sama saja tidak dapat jelaskan.

 

"Pertama, untuk sebagai orang buku ini sangat mengejutkan, karena agama hari ini udahan. Era keberakhiran agama semakin nyata. Dalam bahasa kaum milenial, aku, kamu agama, lewat. Meksipun memang sangat sulit untuk mengekspresikan keterkejutan itu, tapi kita harus belajar berekspresi, mengapresiasisi. Salah satu caranya dengan melakukan selfie bareng buku the end of religion era, kemudian diposting di IG, medsos," jelasnya.        

 

Kedua, tamparan bagi agama, sebab yang bukan dari agama justru sedang mendapat dan diberi ruang, yaitu studi nilai dan studi spritual. Sayangnya ruang ini bukan dimenangkan dari agama. Sebaliknya, justru yang bukan dari agama telah meyumbangkan kontribusi konkrit.

 

"Ini tantangan untuk mengembangkan studi agama. Solusinya adalah bagaimana agama sebagai institusi iman bisa diabatraksikan oleh dunia akademik untuk menjadi nilai praktis dan sekaligus spirit yang konkrit," ujarnya.

 

Ketiga, original. Pada saat guru besar dituntut untuk memiliki keberanian dalam mengeluarkan pernyataan yang berkaitan dengan keadaan sikap keberagamaan di Indonesia buku ini hadir. "Hari ini, ketika kita mengebut UIN Jakarta yang terkenal politiknya. UIN Yogyakarta dengan living hadisnya. UIN SGD Bandung apa? Mudah-mudahan dengan adanya gagasan original dari guru kita ini, dapat menagaskan identitas sikap keberagamaan yang dipandu oleh wahyu atau wahyu memandu ilmu dalam kontek UIN SGD Bandung. Untuk itu, segala tantangan masa depan Islam itu perlu kita rumuskan secara bersama-sama tentang keimanan, nilai dan akhlak dalam menyebarluskan ajaran Islam yang sesuai dengan semangat zaman," tegasnya.(edited by nurholis)