Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

PENOLONG (AGAMA) ALLAH
Update: Kamis, 5-JAN-2017

Allah jelas tidak memerlukan pertolongan hamba-Nya. Dia Mahakaya dan Mahamandiri sehingga tidak butuh hamba-Nya. Menolong agama Allah berarti mencintai agama-Nya; berarti mengagungkan dan memuliakan agama-Nya; berarti menangkis segala upaya yang berusaha memadamkan agama-Nya. Jadi, tidak ada yang salah dengan ungkapan “menolong (agama) Allah”. Toh, Allah sendiri memerintahkan-Nya dalam salah satu firman-Nya:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونوا أَنصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ فَآَمَنَت طَّائِفَةٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَت طَّائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir.Maka, Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Q.S. al-Shaff [61]:14)

 

Perhatikan dalam-dalam! Allah memulai ayat ini dengan ungkapan “ya ayyuhalladzina amanu” (wahai orang-orang yang beriman). Biasanya, ketika memerintahkan hal-hal sangat besar dan penting, Allah memulainya dengan ungkapan tersebut. “Beriman” adalah sapaan kedekatan dan kasih dari-Nya bagi orang-orang yang menyandangnya. Sama seperti orang tua menyapa anaknya dengan “sayang”, “pinter”, dan yang lainnya. Yah, penyandang sifat itu layak disayangi Allah karena perjuangannya mematuhi segala perintah-perintah-Nya.

 

Menurut para pakar Ilmu al-Qur’an, ayat yang didahului dengan ungkapan “ya ayyuhalladzina amanu” turun di Madinah. Dari sini kita paham, siapa yang—pada mulanya—dituju dengan ungkapan tersebut. Mereka adalah Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin yang siang-malam senantiasa siaga dalam keimanan kepada Allah, yang berdiri rapat di belakang Nabi dan siaga menerima titahnya.

 

Di balik sifat “beriman” ada kesiagaan untuk menerima perintah Allah dalam keadaan apa pun dan di mana pun; Di balik sifat tersebut terdapat perjuangan untuk menegakkan agama Allah dengan segala apa yang dimiliki; Di balik sifat itu ada kesiapan untuk mengorbankan segalanya untuk Allah; Di balik sifat itu ada kematangan berpikir serta kearifan dalam bertutur dan bertindak; Di balik sifat itu ada tebaran kasih-sayang kepada sesama dan lingkungan.

 

Pada orang-orang yang memiliki karakter-karakter super inilah Allah—melalui ayat di atas—mengalamatkan perintah besar dan penting menjadi “ansharallah“/para penolong (agama) Allah. Maka, sesuatu yang boleh jadi berat dan sulit bagi sebagian orang, bagi orang-orang yang beriman tidaklah demikian. Justru, hal itu melahirkan kenikmatan tersendiri, tak ubahnya kenikmatan seorang anak saleh melaksanakan perintah orang tuanya.

 

Perintah menjadi para penolong Allah dibahasakan dengan redaksi fi`il amar/kata kerja perintah “kunu”. Fiil “kana” memiliki makna istimrariyyah atau kontiunitas atau keberlangsungan. Maknanya, perintah menjadi penolong agama Allah jangan hanya musiman, melainkan harus melekat pada diri seorang mukmin secara terus-menerus.

 

Ansharallah. Kenapa tidak diterjemahkan “para penolong Allah” sebagaimana teks Arabnya? Supaya tidak lahir kesimpulan bahwa Allah memerlukan pertolongan dari makhluk-Nya. Pada ayat ini, Allah ingin memberi pesan betapa mulia dan agungnya menolong agama-Nya sehingga seolah-olah seperti menolong-Nya. Atau, pertolongan apa pun yang dilakukan seyogianya diatasnamakan Allah. Bukankah kita juga suka mengatakan “membela Tanah Air” ketika mensikapi orang yang melecehkan simbol-simbol negara? Mengatakan “membela HAM” ketika mensikapi orang yang dilanggar hak asasinya? Ya, ini masalah keindahan sastra bahasa al-Qur’an.

 

Anshar adalah jamak taksir (menunjukkan arti jamak) yang karenanya diterjemahkan para penolong. Penggunaan bentuk jamak tentu ada maksudnya. Menolong agama Allah itu tidak bisa dilakukan individu-individu, harus dilakukan secara kolektif. Kebersamaan dan keberjamaahan tentu lebih efektif daripada kesendirian dan keseorangan. Seolah yang disentuh oleh kata anshar adalah kolektivitas dan ukhuwwah Islamiyyah, bukan orang beriman orang perorang.

 

Yang menarik, ayat ini tidak menjelaskan cara menolong agama Allah. Tidak dijelaskan kaifiyyat-nya. Lagi-lagi pasti ada tujuannya. Bisa jadi caranya sudah begitu jelas tergambarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an, atau ingin memberikan pesan bahwa “bagaimana cara menolong agama Allah” sangat bergantung kepada siapa, di mana, kapan, dan kenapa. Masing-masing punya cara yang berbeda-beda—tidak harus sama—tetapi dalam satu koridor, yaitu memuliakan agama Allah. Tentu dengan catatan tetap mengedepankan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, agama yang menebarkan kasih sayang kepada sesama. Ungkapan yang terakhir ini dipahami dari redaksi penuh kelembutan yang dipakai Allah ketika memberikan amar menjadi penolong agama Allah. Sebagaimana Allah mengamarkan dengan rahmat, kita pun melaksanakannya dengan rahmat.

 

Jadilah para penolong agama Allah dengan posisi berada di belakang barisan Nabi Muhammad, sebagaimana para penolong agama Allah yang disebut kelompok Hawwariyyun yang berada di belakang barisan Nabi Isa a.s. Ya, mencontohlah kepada Hawwariyyun ketika menolong Nabi Isa menegakkan agama Allah Swt.

 

Ketika Nabi Isa mengumumkan siapa yang siap jadi penolongnya dalam menegakkan agama

 

Allah, maka kaum Hawwariyyun dengan spontan menyatakan kesiapannya. Redaksi yang digunakan Al-Qur’an adalah “qala al-Hawwariyyun”. Perhatikan kata kerja “qala”. Di sana tidak ada huruf sambung apapun baik berupa wawu, atau fa, atau tsumma. Ini menunjukkan bahwa jawaban yang dikatakan mereka langsung (tidak bertele-tele/tidak ada jeda) begitu Nabi Isa menawarkannya. Apa maknanya? Menjadi penolong agama Allah itu bukan pilihan, tetapi keharusan; bukan perlu dipikirkan ya atau tidaknya, tetapi harus dilakukan segera.

 

Di akhir ayat ada ungkapan “Maka, Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” Fa-ayyadna (Maka, Kami berikan kekuatan) didahului dengan kata sambung (athaf) “fa”. Dalam bahasa Arab, huruf ini dipakai untuk menunjukkan sebuah proses. Jadi, pertolongan Allah itu tidak datang sekonyong-konyong, tetapi merupakan sebuah proses. Ia datang setelah diusahakan dan dijemput. Dengan cara apa? Dengan cara menolong agama Allah. Jangan mimpi Allah berikan kekuatan jika kita tidak mau menolong agama-Nya.

 

Begitu pula dengan ungkapan “mereka menjadi orang-orang yang menang”. Ungkapan fa-ashbahu (mereka menjadi) didahului pula dengan kata sambung (athaf) “fa”. Maknanya sama. Kemenangan itu harus diupayakan, bukan datang sekonyong-konyong. Harus dipikirkan, tidak datang sekonyong-konyong dari langit.

 

Wisdom yang bisa kita petik pada ayat ini adalah jadilah penolong agama Allah karena itulah yang akan mendatangkan pertolongan Allah dan mendatangkan kemenangan bagi kaum mukminin. Dengan cara apa kita menolong agama Allah? Dengan berbagai upaya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, dan dilakukan dengan bijak dan arif.

 

Subhanallah. Begitu dalam dan indah makna yang diperlihatkan ayat di atas. Wallahu a`lam bish-shawab.