Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Menghindar Hoax
Update: Senin, 30-JAN-2017

Salam. Ternyata fenomena hoax pernah terjadi pada zaman Nabi dan hampir saja beliau termakan olehnya. Setelah menyatakan keislamannya, Harits berjanji di hadapan Nabi untuk pulang ke kampungnya/Bani Mushthaliq, mengajak orang-orang masuk Islam, dan mengumpulkan zakat. Disepakati pula waktu bagi utusan Nabi untuk mengambil zakat yang sudah terkumpul.

Waktu yang disepakati telah tiba, tetapi utusan Nabi tidak kunjung tiba. Harits cemas. Nabi tidak mungkin mengingkari janji. Ia mengira ada apa-apa mengenai dirinya dalam persepsi Nabi. Ternyata benar. Nabi marah pada Harits. Apa gerangan yang terjadi? Nabi telah mengutus Walid bin Uqbah utk mengambil zakat dari Harits. Namun, belum juga sampai di tujuan, Walid merasa takut disakiti oleh penduduk Bani Mushthaliq karena sebelumnya ia memang memiliki hubungan tidak baik dengan mereka. Ia kemudian pulang lagi ke Madinah, menemui Nabi, dan merekayasa hoax. “Harits tidak mau menyetorkan zakat dan bahkan hendak membunuhnya,” begitu kira-kira isinya.

Nabi marah dan segera mengutus Khalid bin Walid dan beberapa orang untuk “menegur” Harits. Di tengah jalan rombongan itu bertemu dengan rombongan Harits yang sedang bergerak ke Madinah untuk mengkonfirmasi ketidakhadiran utusan Nabi. Untunglah dialog konfirmatif antara rombongan dengan Harits dan selanjutnya antara Nabi dan Harits menyimpulkan bahwa apa yang disampaikan Walid di atas adalah hoax, sehingga tidak terjadi apa-apa yang tidak diinginkan. Peristiwa inilah—dalam salah satu versi—yang menjadi latar belakang turunnya ayat 6 dari surat al-Hujurat [49].

Ayat ini merupakan petunjuk tentang perlunya klarifikasi atau tabayyun ketika menerima sebuah berita atau pesan, apalagi jika penyampainya orang fasik, atau—apalagi—tidak jelas identitasnya. Sebab, boleh jadi itu hoax yang apabila disikapi akan merugikan orang lain.

Pesan untuk mewaspadai hoax—di antaranya—ditunjukkan ayat:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (al-Isra’/17:36)

Huruf “la” berfungsi makna nahy/larangan; Larangan yang menunjukkan keharaman yang apabila dilanggar menyebabkan berdosa. Yang diseru pada ayat ini adalah orang kedua tunggal, “janganlah kamu”. Umumnya pada ayat-ayat lain yang diseru adalah orang kedua jamak, “kalian”. Kenapa? Ayat ini berkaitan dengan sesuatu yang apabila tidak disikapi secara profesional akan berdampak negatif kepada banyak orang, dan hal itu dimulai dari individu, dari orang perorang. Ayat ini secara tidak langsung memerintahkan muslim—orang perorang/secara individual—untuk profesional dalam menghadapi sesuatu.

“Janganlah kamu mengikuti apa”. “Apa” merupakan terjemahan dari kata “ma”, yang dalam linguistik Arab merujuk sesuatu yang umum, jadi bisa apa saja. Profesionalitas memang menyangkut apa saja. Karenanya, “apa” di sini bisa juga dimaknai berita atau informasi. Kalau dimaknai dengannya, maka pesan ayat ini adalah “janganlah kamu merespons suatu informasi atau berita tanpa disertai pengetahuan yang memadai”.

“Pengetahuan” di sini diterjemahkan dari kata “ilmun”. Pemakaiannya dalam bentuk nakirah (umum/tidak spesifik) mengesankan adanya kematangan pengetahuan untuk menguji sebuah informasi/berita, apakah hoax atau bukan. Atau, bentuk umum ini untuk mengimbangi kata “ma” yang juga merujuk sesuatu yang umum. Artinya, setiap informasi/berita membutuhkan pengujian pengetahuan yang relevan dengan informasi tersebut.

Proses menerima sebuah informasi/berita dan pengukurannya dengan pengetahuan melibatkan indera pendengaran (as-sam`), penglihatan (al-bashar), dan hati/pikiran (fu`ad). Itu sebabnya ketiganya disebut pada ayat ini secara berurutan. Mendengar-melihat –memikirkan sejatinya tiga serangkai yang tidak dipisahkan dalam merespon sebuah informasi.

Ada penjelasan bahwa kata “bashar” dipakai untuk fenomena melihat sesuatu secara jelas. Jadi, sebelum direspon, sebuah pesan harus dilihat duduk persoalannya secara jelas. Kata “fu’ad” ada yang memaknai hati ada pula yang memaknai pikiran. Kedua-duanya bisa disatukan: Sebuah pesan harus disikapi oleh pikiran dan hati. Pikiran dan hati yang jernih bisa membebaskan kita dari ekses hoax.

Yang menarik, ayat ini menyebutkan bahwa indera pendengaran (as-sam`), penglihatan (al-bashar), dan hati/pikiran (fu`ad) akan dimintai pertanggung-jawaban. Apa gerangan yang dimaksud? Sebagian kitab tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah di akherat kelak. Kenapa ketiga itu yang dimintai? Sebab, pilihan sikap seseorang berdasarkan keputusan ketiganya.

Tapi, inspirasinya bisa juga berarti pendengar, penglihatan, dan hati/pikiran sangat bertanggung-jawab untuk menyimpulkan apakah sesuatu itu hoax atau bukan. Seandainya sesuatu itu bukan hoax, ketiganya pun bertanggung-jawab untuk menyimpulkan perlu atau tidak menyebarkannya atau menindaklanjutinya. Inpirasi lainnya, jangan sampai meninggalkan pikiran jernih dan suara hati dalam merespon sesuatu.

Wisdom yang bisa kita petik pada ayat ini adalah berhati-hatilah dengan pesan/informasi/berita yang sampai kepada kita. Pikirkanlah dalam-dalam ketika meresponsnya. Sembrono dalam meresponnya akan melahirkan pilihan sikap yang merugikan pelakunya tidak saja di akhirat, bahkan sudah dirasakan di dunia. Berhati-hatilah dengan hoax.

Subhanallah. Begitu dalam dan indah makna yang diperlihatkan ayat di atas. Wallahu a`lam bish-shawab.