Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Mengenal Budaya Kasepuhan Cipta Gelar
Update: Kamis, 6-AGS-2015

Pemegang Pertanian Saat Pajajaran Bertahta
Dipercaya memegang kendali bidang pertanian semasa kerajaan Pajajaran bertahta di Pakuan Bogor. Begitulah cikal bakal kasepuhan yang bernama Cipta Gelar. Demikian ungkapan ini mengalir dari mulut Abah Ugi selaku sesepuh yang mewarisi tahta kesepuluh dari pendiri Cipta Gelar.

 

Abah Ugi percaya, asal muasal kasepuhan Cipta Gelar berawal dari kakeknya terdahulu yang dipercayai memegang kendali bidang pertanian yang ditugaskan ke daerah selatan yang kini dia sendiri menyebutnya Banten Kidul.

 

Dalam penuturannya, pertama kali kakeknya sebelum menetap di Cipta Gelar kehidupannya terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Alasan pindah tersebut disesuaikan dengan keadaan cadangan makanan, tapi terutama kata Abah Ugi, perpindahan tersebut berdasarkan wangsit atau mimpi.

 

Diceritakan, perpindahan ini terjadi sampai kurang lebih delapan kali, mulai dari Jasinga Bogor, Gunung Halimun, Tegalumbu, sampai Cisungsang. Kemudian sekitar tahun 1969 ayah dari Abah Ugi mulai membuka lahan baru yang kemudian dinamai Cipta Gelar. Keunikan daerah ini, secara pemerintahan menginduk ke Jawa Barat, namun secara adat menginduk ke Banten.

 

Sebagai pemegang kendali dalam sektor pertanian, kasepuhan Cipta Gelar merasa masih mengemban tugas Sribaduga Maharaja yang dahulu pernah berjaya di tatar Sunda. Dan ternyata, sampai saat ini titah itu masih dipegang teguh oleh garis keturunannya. Demikian ungkapan Ugi yang akrab dipanggil Abah.

 

Mempertahankan pangan dengan cara tradisi merupakan bagian dari warisan pusaka kakeknya terdahulu yang harus dipertahankan. Pasalnya sampai saat ini, Abah berserta masyarakatnya meyakini padi itu sebagai bagian dari pertahanan hidup. Keunikannya, pengelolaan pertaniannya pun harus dilakukan dengan cara tradisional.

 

Dimulai cacar babad (membersihkan rumput), ngaseuk (menanam), atau tanur untuk padi sawah. Bahkan saat panen pun dilakukan dengan cara tradisional dimulai ngétém (memotong padi), mocongan (mengikat padi), ngalantéi (menjemur padi pada bambu dengan cara berjajar), sampai nutu di lisung (menggiling padi dengan ditumbuk).

 

Ada satu hal jika tradisi dilanggar, seseorang akan menerima hukuman kabendon. Menurut Abah, kabendon adalah bentuk kutukan dengan cara mendapat penyakit mendadak pada seorang pelanggar.

 

Biasanya penyakit itu sakit kepala luar biasa, atau sakit perut, bahkan bisa berbagai penyakit yang menimbulkan kematian. Namun penyakit tersebut bisa terobati manakala meminta maaf secara langsung kepada Abah dan berjanji tidak melakukan pelanggaran kembali.

 

Kebanggaan itu tercipta saat Abah masih dapat mempertahankan adat leluhurnya. Bahkan dinilai lantaran berkah mepertahanankan adat, padi hasil penen dari tahun ke tahun selalu melimpah. Tak ayal jika hasil panen sampai menghasilkan berton-ton padi, sementara sisanya biasanya disimpan di Leuit (lumbung padi) untuk menjaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

 

Memang terbukti adanya, jika mengunjungi Cipta Gelar yang berada di aliran hulu sungai Cisono yang bermuara di sungai Cibareno ini. Kita bisa melihat deretan padi sepanjang jalan perkampungan Cicemet yang menghubungkan menuju Cipta Gelar. Padi itu bergantung pada utas bambu yang dipasang memanjang secara menyambung. Tidak hanya itu, deretan leuit menyerupai rumah kecil beratapkan injuk bisa terbilang banyak pula. Hal inilah yang menjadi khas kasepuhan Cipta Gelar sebagai pembeda dari adat lain.

 

Sebagai bukti dan bentuk rasa syukur, Abah bersama masyarakat adat rutin mengadakan sérén taun yang kerap kali digelar setiap bulan September, namun peringatan itu biasanya ditentukan hasil perundingan sesepuh adat.

 

Tiada lain makna sérén taun itu sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Dalam ritual tersebut, masing-masing kepala keluarga memberikan satu pocong padi kepada Abah dengan sukarela, namun masyarakat sendiri menganggap upacara pemberian padi sebagai suatu kewajiban. Dari pemberian tersebut, Abah memberikan doa keberkahan kepada masyarakat supaya hasil panen selanjutnya bisa berlimpah dan dijauhkan dari hama. Ajaibnya, doa Abah dipercaya sebagai sabda.[]

Salim Rosyadi, Alumni Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.