Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Menganalisis Isu Agama dan Negara Harus Di Pisahkan Dalam Perpektif Islam
Update: Jumat, 26-FEB-2016

Oleh: Asrizal A.Upe[1]

Polemik yang berkembang pada zaman sekarang adalah banyaknya peristiwa dan konflik yang terjadi. Konflik ini mengindikasikan terlepasnya semangat keberagaman seseorang dan semangat berbangsa dan bernegara pada diri masyarakat Indonesia. Berbagai konflik ini dilatarbelakangi paham ekslusif suatu golongan dan menganggap hanya golongannya saja yang paling benar, bahkan isu ini berkembang sampai kepada keinginan atau anggapan bahwa Negara dan Agama adalah dua struktrual yang tidak mungkin berdampingan atau hal itu harus di pisahkan.

Tak ayal dengan berjalannya isu ini membuat dikotomi dalam masyarakat misalnya saja kaum Sekularis dan Kaum Fanatis. Kenapa penulis mengambil contoh kedua golongan ini, ketika kita tilik lebih mendalam kepada kedua golongan ini, kita akan melihat adanya potensi untuk membuat pemisahan dan pembagian masing-masing yang katanya ketika dibagi akan indah dan akan lebih terporsikan jadi memiliki tugas masing-masing.

Sekularis begitu kata orang memandang suatu golongan ini, dalam buku (Pergolakan Pemikiran: Ahmad Wahib) menjelaskan tentang sekularisasi dan sekular, katanya itu adalah bak dua sisi mata uang yang tidak akan terpisahkan. Bahkan lanjutnya, Sekularisasi  adalah usaha seseorang untuk memberikan porsi masing-masing terhadap agama dan Negara yang artinya ketika dipisahkan akan berdampak kepada rasa in come yang kuat dan besar demi pembangunan bangsa dan Negara, sedangkan secular adalah keinginan pembaharuan dan pemurnian terhadap suatu peristiwa dan tidak meyandarakan kepada sesuatu apapun itu dengan basis atau dasar agama ataupun syariat hukum yang berlaku.

Sedangkan bagi golongan fanatik, penulis memilki tafsiran tersendiri terhadap golongan ini, dan kenapa penulis menambahkannya kepada golongan yang dapat atau berpotensi kepada isu Pemisahan Agama dan Negara karena dapat kita analogikan “anak yang sangat mencintai atau menyukai bermain bola pasti tidak ingin permainan bola itu diganti atau dicampuri dengan permainan lain seperti tenis, sepak takraw atau yang lain, sehingga si anak ini sangat risih dan berusaha memisahkan apabila nantinya ada permainan lain yang hendak merubah atau mencampuri permainan yang disukainya -- dalam hal ini permainan bola”. Seperti itulah analogi singkat pandangan kaum fanatik terhadap agamanya maupun negaranya apabila kaum yang berpandangan fanatisme ini dicekoki atau di hidangkan dengan sebuah hal baru yang bertolak belakang dengan yang di sukainya.

Kalau melihat pandangan penulis bahwa analisis spekulatif terhadap isu pemisahan agama dan budaya perlu ditinjau ulang oleh para golongan di atas karena agama telah mengatur sedemikian rupa tentang pentingnya bernegara dan kearifan lokal yang membuat suatu bangsa atau Negara bisa maju, sehingga tidak ada dalih bahwa isu pemisahan agama dan budaya ini harus dibenarkan, sebagai umat muslim harus kita percaya dan yakin bahwa firman-firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran banyak menaruh perhatian kepada Pemerintahan bahkan mengaturnya sedimikian rupa seperti yang di firmankan Allah pada QS An-Nisa ayat 59, yang kurang lebih artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah rasul-Nya, dan Ulil al-Amri dintara kamu. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasulnya (al-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) lebih baik akibatnya.”

Pada ayat tersebut mengatakan “taatilah dan serahkan permasalahan kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri”, perlu kita garis bahawi kata Ulil Amri karena ada yang menafsirkannya dengan pemerintah, pemimpin atau penguasa tetapi ada juga yang menfsirkannya dengan Ulama Syara, yaitu golongan Alim-ulama di bidang syariat dan biasanya di jadikan pegangan ketika melandaskan susuatu hukum atau peristiwa dan permasalahan.

Seperti  contoh firman Allah tersebut dapat kita tahu bahwa agama bukan hanya mengurusi masalah moral-etika saja tetapi lebih dari itu Islam telah banyak menceritakan dan menuntun kita sebagai penganutnya dalam bernegara dan berbangsa. Lebih dalam lagi ada beberapa fakta juga yang mengatakan bahwa banyak organisasi atau perkumpulan golongan orang-orang yang malah mau menciptakan atau mendirikan Negara dengan berasaskan penuntun dari suatu agama, contoh kecilnya kita lihat daam sejarah, bahwa NII/DII yang di pimpin oleh Imam Kartosuwiryo menginginkan mendirikan suatu khilafah atau Negara yang berasaskan Islam.

Maka dari itu, tidak ada alasan yang kuat untuk memisahkan agama dan Negara, karena dalam berbagai agama di dunia mengajarkan tentang cara bersosial lebih jauhnya lagi di ajarkan tentang berbangsa dan bernegara. Hanya bagi orang yang fanatic dan sekular yang menginkan hal seperti itu. Sehingga kita berkewajiban untuk merubah paradigm atau dasar pemikiran orang atau golongan-golongan seperti itu.

(Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi, pengurus CSS MoRA )