Pojok Dekan

RAMADHAN DAN LIVING QUR’AN

GAIRAH membaca Alquran di bulan Ramadhan ini meningkat seiring dengan berbagai keutamaannya yang digembor-gemborkan para penceramah.Tidak ada bacaan paling sering dibaca di bulan suci ini yang melebihi Alquran. Bantuan teknologi...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

Menata Ego, Merespon Dunia Positivistik Tangga Menuju Ilahiah
Update: Minggu, 7-OKT-2018

 

Lamhod Burju Moko Pinayungan

Tidak bisa dipungkiri, posisi dunia kini semakin maju, baik itu diukur dari intelektualitas manusianya maupun teknologinya. Tentu bukan tanpa alasan, hal ini bisa dilihat dari banyaknya perubahan-perubahan di pentas dunia yang cenderung dimobilisasi oleh teknologi. Mengutip perkataan Bambang Sugiharto, secara materi, kemajuan dunia saat ini telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologinya, dan saat ini posisi teknologi telah berkuasa di setiap sektor.

Kemajuan ini tentu melewati proses yang cukup rumit, bermula dari masa primitif sampai pada masa modernitas. Dalam istilah August Comte, manusia berjalan di atas tiga tahap, mulai dari teologis yang cenderung menilai kebenaran melalui hal-hal mistis, sampai pada positivistik yang menilai kebenaran dari sifat ilmiahnya. Perkembangan ini sungguh luar biasa, dunia mengalami akselerasi yang begitu cepat dan tak terasa, meskipun jalan yang dilaluinya relatif panjang dan penuh tantangan. Sangka-sangka, dampak yang dihasilkan pun luar biasa nantinya, baik cepat ataupun lambat, negatif atau positif.

Perubahan ini tak lain adalah hasil dari kreativitas manusia sebagai makhluk yang dilengkapi naluri dan akal. Sehingga, setiap kali ia menciptakan sesuatu, setiap itu pula ia memberikan babak baru dalam peradaban manusia. Dalam hal ini, manusia berposisi sebagai dalang dari setiap perubahan yang ada. Namun demikian, ada hal lain yang mesti kita perhatikan, yaitu di samping manusia sebagai dalang, ternyata manusia juga berperan sebagai korban. Yang kedua ini yang sangat memprihatinkan dan jarang terpikirkan, kita selalu merasa berada di ambang kebahagiaan, padahal nyatanya kita sedang ditindas oleh kemajuan itu sendiri.  Inilah dampak yang sebenarnya terjadi, dan sedikit yang sadar.

Dengan kondisi seperti itu, “manusia terlihat mencipta tetapi juga sekaligus menista”, baik itu di komunitasnya sendiri, yakni tempat ia tumbuh dan berkembang, atau komunitas lainnya yang juga memiliki maksud dan tujuan yang sama. Meskipun terlihat halus dalam pegerakannya, tetapi hasilnya begitu jelas, manusia mulai bertindak semau egonya, tak pandang bulu siapa selain dia, sikap hedonis serta individualis pun sudah merasuki tubuh mereka, dan ekstremnya boleh jadi area Tuhan pun dibajaknya (kalau mampu). Ini adalah masalah besar. Dari sini timbul pertanyaan serius, mengapa manusia berperilaku demikian? Apa yang mempengaruhinya? Bisakah kita menjadikan kemajuan sebagai tangga taqarrub ila al-Allah? Dengan melihat problem di atas, salah satu faktor yang mempengaruhi hal itu ialah adanya ketidakstabilan (unstability) antara potensi dengan ego. Berbahaya? Sangat. Oleh karena itu, tugas kita ialah berupaya menata egoisme ke arah yang lebih positif. Dan yang mesti kita tanamkan ialah bukan menghilangkan tapi mengelolanya layaknya nafsu.

Berangkat dari itu, maka sangat diperlukan sebuah langkah untuk mengatasi ketidakstabilan tersebut agar menjadi seimbang, salah satunya dengan mengaplikasikan ayat-ayat al-quran, seperti “berlomba-lombalah dalam hal kebaikan”. Namun, di samping itu, manusia juga diharapkan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak saling menjatuhkan karena sejatinya kita adalah satu, sebagaimana yang terekam dalam surah al-Baqarah, “kaana an-naasu ummatan waahidatan”. Dari langkah inilah terangkum menjadi satu, yaitu tasawuf.

Namun, sebelum masuk lebih jauh lagi, penulis akan mengawalinya dengan memunculkan karisma tasawuf terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar memberikan stimulus bagaimana tasawuf memiliki hubungan kuat dengan penataan egoisme manusia menuju ilahiah.

Karisma Tasawuf

Tidak seperti disiplin ilmu lainnya, dalam eksistensinya tasawuf memiliki karisma tersendiri. Ia memiliki identitas serta karakter yang sangat khas. Ajarannya begitu menyentuh karena menggunakan cara serta model yang berbeda dari beberapa literatur keislaman lainnya. Dari tasawuf, tidak ada tujuan lain dari ajaran ini kecuali melatih manusia menjalani jejak-jejak ketuhanan di samping kemajuan akal yang dirasakannya.

Islam, dalam ajarannya memiliki dua aspek: eksoteris (dzohir) dan esoteris (bathin). Kedua hal itu tidak bisa dilepaskan. Islam selalu melihat keduanya, ia tak bisa hanya melihat satu sisi (eksoteris) saja, -apalagi sisi tersebut adalah hasil adopsi dari kitab-kitab fiqh yang sifatnya sebatas hitam-putih-, tetapi dalam prosesnya, untuk mencapai kesempurnaan, Islam juga harus melihat sisi yang lain (esoteris) yang tak kalah pentingnya dari yang pertama.

Dari kedua aspek tersebut tidak etis jika diperdebatkan dan dibanding-bandingkan. Adalah keliru membandingkan kedua aspek ini, sebab keduanya akan berjalan seiringan, dan saling mementingkan. Tetapi, ironisnya, meskipun kita mengatakan keduanya beriringan, aspek esoteris ini seringkali dilupakan oleh kebanyakan orang, bahkan dalam kajian-kajian keislaman yang kita temui pun tak menjamin akan membahas hal yang bersifat esoteris ini. Maka, demi merawat wajah Islam yang kedua itu, tasawuf hadir sebagai diskursus khusus yang menyentuh aspek esoteris tersebut.

Lebih jauh lagi, karisma itu muncul ketika saat pendefinisian yang dilakukan oleh beberapa kaum sarjana muslim, salah satu di antara mereka ialah Haidar Bagir dalam karyanya yang monumental, “Islam Tuhan Islam Manusia”, ia memandang bahwa tasawuf adalah upaya manusia menuju kesucian. Dan kesucian itu menurutnya dapat diraih melalui pengetahuan atau tentang hakikat segala sesuatu, yang kemudian diikuti oleh sikap kehati-hatian  ekstra untuk tidak melanggar batas-batas agama.

Dari pernyataan beliau, terlihat jelas bahwa setiap kemajuan yang kita perjuangkan dan rasakan, seharusnya tetap berada pada nilai-nilai ketuhanan yang nantinya membawa manusia menuju kesucian. Dan seharusnya, semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi daya tarik diri dari perbuatan yang bisa menjauhkan diri dari Tuhan. Hal ini menarik, sebab manusia zaman sekarang seringkali memisahkan antara kemajuan teknologi dengan nilai-nilai ketuhanan. Bahkan lembaga-lembaga Islam yang memiliki jargon “wahyu memandu ilmu” sekalipun terkadang merasa kesulitan dalam pengaplikasiannya.

Tasawuf bukanlah ilmu kolot yang anti-teknologi serta anti kemajuan lainnya. Tapi justru ia melek dari setiap kemajuan yang ada. Memang benar, dulunya, awal kemunculan tasawuf itu dimotivasi oleh sikap Zuhud (menjauhi dunia) para sufi yang meninggalkan hiruk-pikuk keduniawian. Namun dalam perkembangannya, apalagi satu abad setelahnya, tasawuf mulai memposisikan dirinya sebagai ajaran Islam yang fleksibel yang sesuai dengan zaman dan tidak menolak perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti menghilangkan zuhud dalam tradisi sufiah, melainkan merubah konsep zuhud yang selama ini perlu diperbaharui. Salah satu pembaharunya ialah Imam Junaid al-Baghdadi, menurutnya, zuhud adalah keadaan pada saat tangan kosong dari pemilikan, dan hati dari ambisi.

Apa yang dinyatakan olehnya telah memberikan pengertian baru tentang zuhud. Zuhud bukan lagi meninggalkan ahwal yang bersifat keduiniawian, melainkan mengolah hati agar tidak berambisi dan tidak terpaut dengan godaan serta rayuan dunia yang sifatnya fana. Tidak logis jika kita harus meninggalkan dunia sedangkan kita hidup di dunia. Kalau kita lihat, Imam Junaid sendiri adalah seorang ahli perniagaan di kota baghdad. Tentu hal ini semakin memperkuat bahwa zuhud bukanlah meniggalkan duniawiah.

Dari sini terlihat jelas bahwa tasawuf hadir dengan karismanya sendiri. Ia bertugas menata egoisme manusia agar dapat terolah dengan baik dan mengasah nafsuisme manusia agar manjadi nafsu yang diridhai.

Menata Ego: Sebuah Ikhtiar Menuju Ilahiah

Fakta sejarah menyatakan, semenjak revolusi industri dimulai, banyak ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi, seperti kasus pada tahun 2013 dan 2014, dunia Amerika diguncang oleh pegawai NSA Edward Snowdown yang membelot dan membocorkan rahasia nasional Amerika bahwa negara adidaya itu menyadap telepon orang-orang pemimpin dunia. Juga, tahun-tahun sebelumnya pun banyak menuai permasalahan, seperti tahun 2002 terjadi kasus serangan bom Bali, kemudian disusul dengan serangan bom di Hotel J.W Marriot pada tahun 2003; dan serangan bom kedutaan Australia pada tahun 2004. Ini adalah efek dari kecanggihan yang membuat segala sesuatunya menjadi mudah.

Telah diketahui bersama bahwa pengetahuan dan teknologi saat ini telah menguasai dunia, dan mustahil kita bisa menghentikannya. Dari sini, boleh jadi permasalahan di atas atau semisal lainnya atau bahkan yang lebih dari itu sangat mudah untuk terulang lagi. Maka, langkah untuk mengantisipasinya ialah menata ego manusia. Sebab, ego manusialah yang telah banyak mengendalikan manusia untuk merusak. Padahal, kalau kita telaah, sebenarnya kemajuan pengetahuan dan teknologi itu fungsinya hanya sebatas imunitas bagi suatu negara atau sub-sub sosial lainnya, bukan untuk menyerang. Hanya karena ego yang tidak diridhai itulah manusia menjadi beringas dan merusak. Oleh sebab itu, ego mesti mendapat perhatian penuh, ia tidak dihilangakan, akan tetapi ditata dengan baik. Sebab kalau ia dihilangkan, sama saja kita menghilangkan sebagian kecil kemanusiaan kita.

Dalam tasawuf, persoalan ego adalah persoalan pokok yang tidak bisa dilepaskan. Tasawuf selalu berjalan di atas permukaan ego agar ego tidak menjadi raja dalam rohaniah manusia. Tasawuf, seperti yang penulis kutip dari sarjana muslim di atas, merupakan jalan menuju kesucian yang mengupayakan pengendalian terhadap ego. Hal ini sedikit banyaknya agak bertentangan dengan positivistik. Dunia postivistik kini terlihat tidak peduli dengan ego. Karena ketidakpeduliannya, mereka meletakkannya pada posisi yang pertama dan menjadikannya raja. Akibatnya, kecerdasan pengetahuan serta kecanggihan teknologi yang mereka buat tidak membawanya pada taqarrub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah) tapi justru menjurus pada keberpalingan pada nilai-nilai ketuhanan.

Tasawuf berupaya mengendalikan ego manusia dengan memahami kebutuhan manusia. Secara kebutuhan, manusia setidaknya memiliki lima kebutuhan. Secara garis besarnya, yaitu; (a) kebutuhan fa’ali (kebutuhan makan, minum, dan hubungan seksual): (b) kebutuhan akan ketentraman dan keamanan; (c) kebutuhan akan keterikatan pada kelompok; (d) kebutuhan akan rasa penghormatan; dan (e) kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

Kebutuhan-kebutuhan ini akan terus menuntut manusia untuk dipenuhi. Hanya kesadaran yang akan menghentikan tuntutan-tuntutan tersebut. Dan kesadaran itu muncul ketika kita meneladani sifat-sifat Allah dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sosial bersama. Penulis pikir di sinilah peran tasawuf, yaitu mendesak manusia untuk selalu berakhlak dan bertingkah laku sesuai dengan sifat-sifat Allah.

Kita bisa banyak belajar dari beberapa tokoh-tokoh agama yang ada di Indonesia, beberapa di antaranya; Quraish Shihab, Haidar bagir, dan Nasarudin Umar. Mereka adalah sebagian tokoh yang telah menuangkan kehidupannya untuk memberikan pencerahan kepada umat untuk hidup pada nilai-nilai ketuhanan meskipun hidup di tengah-tengah kemajuan, Seperti Quraish Shihab dengan karyanya “Membumikan al-Quran”, Haidar Bagir dengan karyanya “Islam Tuhan Islam Manusia”, dan Nasarudin Umar “Tasawuf Modern”.

Untuk itu, meskipun kita hidup di tengah-tengah kemajuan, nilai-nilai ketuhanan harus tetap kita pegang erat-erat, agar kemajuan-kemajuan tersebut tidak menjerumuskan kita pada sesuatu yang hina dina. Kita diperintahkan untuk berkreasi sebebas apapun, tetapi mesti diingat juga, kita mencipta bukan untuk menista. Bukankah Allah yang Maha Mencipta tapi juga memberikan Rahmah? Maka, harapannya, sebagai makhluk yang mulia, kita mesti menjadi manusia yang melek terhadap perkembangan zaman dan melek terhadap nilai-nilai ilahiah. Karena pada akhirnya kita akan kembali menuju Tuhan. Bayangkan saja jika kita kembali dalam keadaan seburuk-buruknya manusia.Wallahu ‘Alam.


    Menata Ego, Merespon Dunia Positivistik Tangga Menuju Ilahiah
    Update: Sabtu, 6-OKT-2018

    Oleh : Lamhod Burju Moko Pinayungan


    INTELEKTUALITAS dan teknologi manusia yang terus bergerak dinamis berdampak pada perubahan dunia yang semakin maju. Perubahan tersebut terlihat pada perubahan prilaku dan budaya manusia yang semakin dimobilisasi oleh teknologi. Mengutip perkataan Bambang Sugiharto, secara materi, kemajuan dunia saat ini telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologinya, dan saat ini posisi teknologi telah berkuasa di setiap sektor. 

    Kemajuan dan perubahan tersebut tentu melewati proses yang cukup rumit, bermula dari masa primitif sampai pada masa modernitas. Dalam istilah August Comte, manusia berjalan di atas tiga tahap, mulai dari teologis yang cenderung menilai kebenaran melalui hal-hal mistis, sampai pada positivistik yang menilai kebenaran dari sifat ilmiahnya. Perkembangan ini sungguh luar biasa, dunia mengalami akselerasi yang begitu cepat dan tak terasa, meskipun jalan yang dilaluinya relatif panjang dan penuh tantangan. Sangka-sangka, dampak yang dihasilkan pun luar biasa nantinya, baik cepat ataupun lambat, negatif atau positif.

    Perubahan ini tak lain adalah hasil dari kreativitas manusia sebagai makhluk yang dilengkapi naluri dan akal. Sehingga, setiap kali ia menciptakan sesuatu, setiap itu pula ia memberikan babak baru dalam peradaban manusia. Dalam hal ini, manusia berposisi sebagai dalang dari setiap perubahan yang ada. Namun demikian, ada hal lain yang mesti kita perhatikan, yaitu di samping manusia sebagai dalang, ternyata manusia juga berperan sebagai korban. Yang kedua ini yang sangat memprihatinkan dan jarang terpikirkan, kita selalu merasa berada di ambang kebahagiaan, padahal nyatanya kita sedang ditindas oleh kemajuan itu sendiri.  Inilah dampak yang sebenarnya terjadi, dan sedikit yang sadar.

    Dengan kondisi seperti itu, “manusia terlihat mencipta tetapi juga sekaligus menista”, baik itu di komunitasnya sendiri, yakni tempat ia tumbuh dan berkembang, atau komunitas lainnya yang juga memiliki maksud dan tujuan yang sama. Meskipun terlihat halus dalam pegerakannya, tetapi hasilnya begitu jelas, manusia mulai bertindak semau egonya, tak pandang bulu siapa selain dia, sikap hedonis serta individualis pun sudah merasuki tubuh mereka, dan ekstremnya boleh jadi area Tuhan pun dibajaknya (kalau mampu). Ini adalah masalah besar. Dari sini timbul pertanyaan serius, mengapa manusia berperilaku demikian? Apa yang mempengaruhinya? Bisakah kita menjadikan kemajuan sebagai tangga taqarrub ila al-Allah? Dengan melihat problem di atas, salah satu faktor yang mempengaruhi hal itu ialah adanya ketidakstabilan (unstability) antara potensi dengan ego. Berbahaya? Sangat. Oleh karena itu, tugas kita ialah berupaya menata egoisme ke arah yang lebih positif. Dan yang mesti kita tanamkan ialah bukan menghilangkan tapi mengelolanya layaknya nafsu.

    Berangkat dari itu, maka sangat diperlukan sebuah langkah untuk mengatasi ketidakstabilan tersebut agar menjadi seimbang, salah satunya dengan mengaplikasikan ayat-ayat al-quran, seperti “berlomba-lombalah dalam hal kebaikan”. Namun, di samping itu, manusia juga diharapkan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak saling menjatuhkan karena sejatinya kita adalah satu, sebagaimana yang terekam dalam surah al-Baqarah, “kaana an-naasu ummatan waahidatan”. Dari langkah inilah terangkum menjadi satu, yaitu tasawuf.

    Namun, sebelum masuk lebih jauh lagi, penulis akan mengawalinya dengan memunculkan karisma tasawuf terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar memberikan stimulus bagaimana tasawuf memiliki hubungan kuat dengan penataan egoisme manusia menuju ilahiah.

    Karisma Tasawuf

    Tidak seperti disiplin ilmu lainnya, dalam eksistensinya tasawuf memiliki karisma tersendiri. Ia memiliki identitas serta karakter yang sangat khas. Ajarannya begitu menyentuh karena menggunakan cara serta model yang berbeda dari beberapa literatur keislaman lainnya. Dari tasawuf, tidak ada tujuan lain dari ajaran ini kecuali melatih manusia menjalani jejak-jejak ketuhanan di samping kemajuan akal yang dirasakannya. 

    Islam, dalam ajarannya memiliki dua aspek: eksoteris (dzohir) dan esoteris (bathin). Kedua hal itu tidak bisa dilepaskan. Islam selalu melihat keduanya, ia tak bisa hanya melihat satu sisi (eksoteris) saja, -apalagi sisi tersebut adalah hasil adopsi dari kitab-kitab fiqh yang sifatnya sebatas hitam-putih-, tetapi dalam prosesnya, untuk mencapai kesempurnaan, Islam juga harus melihat sisi yang lain (esoteris) yang tak kalah pentingnya dari yang pertama. 

    Dari kedua aspek tersebut tidak etis jika diperdebatkan dan dibanding-bandingkan. Adalah keliru membandingkan kedua aspek ini, sebab keduanya akan berjalan seiringan, dan saling mementingkan. Tetapi, ironisnya, meskipun kita mengatakan keduanya beriringan, aspek esoteris ini seringkali dilupakan oleh kebanyakan orang, bahkan dalam kajian-kajian keislaman yang kita temui pun tak menjamin akan membahas hal yang bersifat esoteris ini. Maka, demi merawat wajah Islam yang kedua itu, tasawuf hadir sebagai diskursus khusus yang menyentuh aspek esoteris tersebut.

    Lebih jauh lagi, karisma itu muncul ketika saat pendefinisian yang dilakukan oleh beberapa kaum sarjana muslim, salah satu di antara mereka ialah Haidar Bagir dalam karyanya yang monumental, “Islam Tuhan Islam Manusia”, ia memandang bahwa tasawuf adalah upaya manusia menuju kesucian. Dan kesucian itu menurutnya dapat diraih melalui pengetahuan atau tentang hakikat segala sesuatu, yang kemudian diikuti oleh sikap kehati-hatian  ekstra untuk tidak melanggar batas-batas agama.

    Dari pernyataan beliau, terlihat jelas bahwa setiap kemajuan yang kita perjuangkan dan rasakan, seharusnya tetap berada pada nilai-nilai ketuhanan yang nantinya membawa manusia menuju kesucian. Dan seharusnya, semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi daya tarik diri dari perbuatan yang bisa menjauhkan diri dari Tuhan. Hal ini menarik, sebab manusia zaman sekarang seringkali memisahkan antara kemajuan teknologi dengan nilai-nilai ketuhanan. Bahkan lembaga-lembaga Islam yang memiliki jargon “wahyu memandu ilmu” sekalipun terkadang merasa kesulitan dalam pengaplikasiannya. 

    Tasawuf bukanlah ilmu kolot yang anti-teknologi serta anti kemajuan lainnya. Tapi justru ia melek dari setiap kemajuan yang ada. Memang benar, dulunya, awal kemunculan tasawuf itu dimotivasi oleh sikap Zuhud (menjauhi dunia) para sufi yang meninggalkan hiruk-pikuk keduniawian. Namun dalam perkembangannya, apalagi satu abad setelahnya, tasawuf mulai memposisikan dirinya sebagai ajaran Islam yang fleksibel yang sesuai dengan zaman dan tidak menolak perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti menghilangkan zuhud dalam tradisi sufiah, melainkan merubah konsep zuhud yang selama ini perlu diperbaharui. Salah satu pembaharunya ialah Imam Junaid al-Baghdadi, menurutnya, zuhud adalah keadaan pada saat tangan kosong dari pemilikan, dan hati dari ambisi.

     Apa yang dinyatakan olehnya telah memberikan pengertian baru tentang zuhud. Zuhud bukan lagi meninggalkan ahwal yang bersifat keduiniawian, melainkan mengolah hati agar tidak berambisi dan tidak terpaut dengan godaan serta rayuan dunia yang sifatnya fana. Tidak logis jika kita harus meninggalkan dunia sedangkan kita hidup di dunia. Kalau kita lihat, Imam Junaid sendiri adalah seorang ahli perniagaan di kota baghdad. Tentu hal ini semakin memperkuat bahwa zuhud bukanlah meniggalkan duniawiah.

    Dari sini terlihat jelas bahwa tasawuf hadir dengan karismanya sendiri. Ia bertugas menata egoisme manusia agar dapat terolah dengan baik dan mengasah nafsuisme manusia agar manjadi nafsu yang diridhai. 

    Menata Ego: Sebuah Ikhtiar Menuju Ilahiah

    Fakta sejarah menyatakan, semenjak revolusi industri dimulai, banyak ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi, seperti kasus pada tahun 2013 dan 2014, dunia Amerika diguncang oleh pegawai NSA Edward Snowdown yang membelot dan membocorkan rahasia nasional Amerika bahwa negara adidaya itu menyadap telepon orang-orang pemimpin dunia. Juga, tahun-tahun sebelumnya pun banyak menuai permasalahan, seperti tahun 2002 terjadi kasus serangan bom Bali, kemudian disusul dengan serangan bom di Hotel J.W Marriot pada tahun 2003; dan serangan bom kedutaan Australia pada tahun 2004. Ini adalah efek dari kecanggihan yang membuat segala sesuatunya menjadi mudah. 

    Telah diketahui bersama bahwa pengetahuan dan teknologi saat ini telah menguasai dunia, dan mustahil kita bisa menghentikannya. Dari sini, boleh jadi permasalahan di atas atau semisal lainnya atau bahkan yang lebih dari itu sangat mudah untuk terulang lagi. Maka, langkah untuk mengantisipasinya ialah menata ego manusia. Sebab, ego manusialah yang telah banyak mengendalikan manusia untuk merusak. Padahal, kalau kita telaah, sebenarnya kemajuan pengetahuan dan teknologi itu fungsinya hanya sebatas imunitas bagi suatu negara atau sub-sub sosial lainnya, bukan untuk menyerang. Hanya karena ego yang tidak diridhai itulah manusia menjadi beringas dan merusak. Oleh sebab itu, ego mesti mendapat perhatian penuh, ia tidak dihilangakan, akan tetapi ditata dengan baik. Sebab kalau ia dihilangkan, sama saja kita menghilangkan sebagian kecil kemanusiaan kita.

    Dalam tasawuf, persoalan ego adalah persoalan pokok yang tidak bisa dilepaskan. Tasawuf selalu berjalan di atas permukaan ego agar ego tidak menjadi raja dalam rohaniah manusia. Tasawuf, seperti yang penulis kutip dari sarjana muslim di atas, merupakan jalan menuju kesucian yang mengupayakan pengendalian terhadap ego. Hal ini sedikit banyaknya agak bertentangan dengan positivistik. Dunia postivistik kini terlihat tidak peduli dengan ego. Karena ketidakpeduliannya, mereka meletakkannya pada posisi yang pertama dan menjadikannya raja. Akibatnya, kecerdasan pengetahuan serta kecanggihan teknologi yang mereka buat tidak membawanya pada taqarrub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah) tapi justru menjurus pada keberpalingan pada nilai-nilai ketuhanan. 

    Tasawuf berupaya mengendalikan ego manusia dengan memahami kebutuhan manusia. Secara kebutuhan, manusia setidaknya memiliki lima kebutuhan. Secara garis besarnya, yaitu; (a) kebutuhan fa’ali (kebutuhan makan, minum, dan hubungan seksual): (b) kebutuhan akan ketentraman dan keamanan; (c) kebutuhan akan keterikatan pada kelompok; (d) kebutuhan akan rasa penghormatan; dan (e) kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

    Kebutuhan-kebutuhan ini akan terus menuntut manusia untuk dipenuhi. Hanya kesadaran yang akan menghentikan tuntutan-tuntutan tersebut. Dan kesadaran itu muncul ketika kita meneladani sifat-sifat Allah dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sosial bersama. Penulis pikir di sinilah peran tasawuf, yaitu mendesak manusia untuk selalu berakhlak dan bertingkah laku sesuai dengan sifat-sifat Allah. 

    Kita bisa banyak belajar dari beberapa tokoh-tokoh agama yang ada di Indonesia, beberapa di antaranya; Quraish Shihab, Haidar bagir, dan Nasarudin Umar. Mereka adalah sebagian tokoh yang telah menuangkan kehidupannya untuk memberikan pencerahan kepada umat untuk hidup pada nilai-nilai ketuhanan meskipun hidup di tengah-tengah kemajuan, Seperti Quraish Shihab dengan karyanya “Membumikan al-Quran”, Haidar Bagir dengan karyanya “Islam Tuhan Islam Manusia”, dan Nasarudin Umar “Tasawuf Modern”.

    Untuk itu, meskipun kita hidup di tengah-tengah kemajuan, nilai-nilai ketuhanan harus tetap kita pegang erat-erat, agar kemajuan-kemajuan tersebut tidak menjerumuskan kita pada sesuatu yang hina dina. Kita diperintahkan untuk berkreasi sebebas apapun, tetapi mesti diingat juga, kita mencipta bukan untuk menista. Bukankah Allah yang Maha Mencipta tapi juga memberikan Rahmah? Maka, harapannya, sebagai makhluk yang mulia, kita mesti menjadi manusia yang melek terhadap perkembangan zaman dan melek terhadap nilai-nilai ilahiah. Karena pada akhirnya kita akan kembali menuju Tuhan. Bayangkan saja jika kita kembali dalam keadaan seburuk-buruknya manusia.Wallahu ‘Alam.

     

    */ Penulis adalah mahasiswa Tasawuf Psikoterapi Santri Ponpes Al-Wafa, Cibiru Hilir