Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Membangun Keluarga tanpa Kekerasan
Update: Senin, 23-MEI-2016

‘Indonesia darurat kekerasan seksual,’ itulah yang sedang dialami oleh Indonesia saat ini. Dan pemerintah masih saja enggan untuk memasukkan sex education (pendidikan seks) ke dalam kurikulum dengan alasan moral, etika dan/atau agama. Pendidikan sek (dengan bingkai agama) bagi anak-anak dirasakan perlu untuk membekali mereka dengan berbagai informasi tentang kesehatan, keamanan dan keselamatan yang berkaitan dengan tubuh mereka. Padahal, di saat yang sama anak-anak ini mencari sendiri informasi tersebut, yang kebanyakan didapat dari sumber yang tidak bisa dipertanggung jawabkan dan bisa mengarah pada tindakan-tindakan yang membahayakan seperti yang kita lihat dan dengar dari berbagai berita akhir-akhir ini. Anak-anak sekarang dengan mudahnya mengakses situs-situs yang berkaitan dengan sex dan kekerasan dengan sangat mudahnya – kapanpun dan di manapun mereka menginginkannya -  karena media tersebut ada dalam genggaman mereka. Pemerintah, msyarakat, dan kita masih menutup mata akan hal tersebut. 

 

Kekerasan seksual ini bukan hanya terjadi, dialami dan dilakukan oleh/ antara orang dewasa saja, akan tetapi juga dilakukan dan dialami oleh/antara orang dewasa dan anak-anak dan bahkan sekarang oleh/antara anak-anak sendiri.  Tentunya, hal ini tidak bisa kita diamkan begitu saja atau hanya berdecak dan berkomentar betapa mengerikannya hal ini bisa terjadi. Tetapi, sudah saatnya sekarang kita bertindak atas nama agama, atas nama moral, dan atas nama kemanusiaan untuk mencegah kekerasan ini berkelanjutan. Merupakan tanggung jawab bersama: Pemerintah, masyarakat, keluarga, dan individu mencegah dan meminimalisisr segala tindakan kekerasan ini atas nama apaun juga.

 

Dalam rangka merespon persoalan ini, PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) UIN SGD Bandung merasa perlu untuk menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Membangun Keluarga tanpa Kekerasan.” Tulisan ini sekaligus merupakan laporan hasil seminar tersebut yang dihadiri oleh penulis sebagai utusan dari Fakultas Ushuluddin bersama rekan lainnya yaitu Ibu Dadah dan Ibu Eni Zulaiha. Seminar yang di buka oleh Bapak Rektor UIN SGD Bandung ini dilaksanakan pada tanggal 4 mei 2016 di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor. Seminar yang dimulai dari jam 9.00 am ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing. 

 

Sesi pertama dimulai oleh Ibu Dra. Dian Mardianawati, M.Pd dari BP3AKB (Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana) Jawa Barat memaparkan tentang mewujudkan kota Bandung yang ramah anak. Ibu Dian mengawali pemaparannya dengan menyajikan beberapa kasus kekerasan seksual yang terjadi di Jawa Barat terhadap anak-anak. Yang mengerikannya adalah tindakan kekerasan seksual tersebut banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat dalam lingkungan keluarga. Menurutnya, lebih lanjut ia memaparkan, bahwa persoalan sosial yang marak muncul ini salah satu penyebabnya adalah karena terlalu padatnya jumlah penduduk yang ada di Jawa Barat. Padatnya jumlah penduduk ini menyebabkan tidak kondusifnya tempat untuk anak tumbuh, selain itu mulai lunturnya nilai-nilai pendidikan, kekeluargaan dan kebersamaan dalam keluarga.Upaya BP3AKB ini adalah untuk meningkatkan kualitas anak dengan menumbuhkan lagi nilai-nilai lokal yang positif dan memberikan ruang serta perlindungan bagi anak dengan melibatkan pihak-pihak terkait mulai dari keluarga, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan hingga Kabupaten. 

 

Sesi ke-2 disampaikan oleh narasumber dari Jakarta yaitu Dr. Badriyah Fayumi, ketua Alimat (kumpulan para Ulama Perempuan) dengan judul “Peran Ulama Perempuan dalam Penguatan Fondasi Keluarga Islami.” Alimat ini adalah sekelompok cendekia Muslim yang bergerak untuk Gerakan Kesetaraan dan Keadilan Keluarga Indonesia. Pemikiran dan gerakan Alimat menjadikan perempuan sebagai subyek dan perspektif sekaligus dalam penciptaan tatanan keluarga yang adil dan setara gender. Salah satunya adalah dengan memberikan informasi atas teks-teks agama Islam yang seimbang dan upaya reinterpretasi atasnya. Pemahaman konteks merupakan hal yang penting untuk tidak diabaikan ketika memahami teks-teks agama tentang relasi laki-laki dan perempuan. 

 

Sesi ke-3 sebagai penutup acara di paparkan oleh Dr. Nani Sugandi, M.Pd tentang “Pendidikan Pra Nikah.” Pendidikan ini menjadi penting sebagai gerbang dan bekal informasi bagi para pasangan yang akan menjalani kehidupan berkeluarga. Namun pada kenyataannya, walaupun Indonesia sudah memiliki SUSCATIN (Kursus calon Pengantin) di setiap KUA, sesi ini tidak dijalankan dengan maksimal, tetapi hanya formalitas saja. Untuk beberapa pasangan malah tidak menjalaninya sama sekali. Pendidikan pra nikah di masa sekarang ini sangat perlu dilakukan dengan wawasan untuk membangun keluarga yang berkeadilan, kebersamaan serta terhindar dari berbagai tindak kekerasan. Dan pemerintah harus lebih mengoptimalkan lagi pelaksanaan SUSCATIN ini di berbagai KUA untuk membangun keluarga Indonesia yang lebih baik lagi.

 

Demikian laporan ini saya sampaikan untuk menjadi bahan perenungan bagi civitas akademik yang ada dilingkungan Fakultas Ushuluddin untuk bergerak dan bertindak dimulai dari sekarang tentang apa yang bisa kita kontribusikan bagi penyelamatan bangsa ini supaya terhindar dari berbagai kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Sebagai core UIN Bandung, Fakultas Ushuluddin bisa melakukan infentarisasi dan reinterpretasi atas berbagai teks-teks agama: Al-Qur’an dan hadits yang seolah-olah mengarah pada kekerasan dan mensosialisasikannya sehingga teks-teks ini tidak disalahfahami dan dijadikan justifikasi tindak kekerasan. Hal yang paling mudah adalah dimulai dari diri kita sendiri dan di lingkungan fakultas ini untuk tidak melakukan berbagai jenis kekerasan (verbal, fisik, seksual, emosional, ekonomi) terhadap orang lain: mahasiswa dan sesama anggota staf, dan untuk tetap saling menjaga dan menghargai satu sama lainnya. @Irma 2016.