Pojok Dekan

MOTIVASI MENULIS ARTIKEL

“Artikel ilmiah adalah pencapaian akademisi bidang ilmu tertentu”

 

“Artikel ilmiah itu detail. Terdiri dari bagian yang kecil-kecil, sangat terperinci, dan segala hal ihwal tentang ketentuan...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

MENJANGKAU HATI DENGAN REGULASI

HANYA dalam sinetron persilangan pernikahan antara si kaya dan si miskin terjadi. Hanya dalam cerita-cerita fiksi, pernikahan antara mereka yang status sosialnya tinggi dengan yang status sosialnya rendah dirayakan. Dalam dunia...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

MATINYA IDE-IDE KEPAKARAN
Update: Selasa, 10-SEP-2019


DALAM dua pekan ini, media sosial dibuat gaduh oleh dua isu utama; Pertama tentang disertasi dosen UIN Yogyakarta tentang hukum hubungan seks di luar nikah, dan Kedua tentang audisi bibit muda bulutangkis PB Djarum yang interupsi oleh KPAI.
Lini masa platform medsos, khususnya Facebook dan Twitter, dibanjiri konten dua isu utama itu, berupa makian (kontra) maupun dukungan (pro). Kedua kubu, celakanya, nyaris tak ada yang masuk dalam kategori 'ahlinya' pada objek, tapi seolah paling paham pada isu utamanya.

Karena itu, mungkin benar seperti yang diungkap oleh Tom Nichols dalam buku "MATINYA KEPAKARAN" (The Death of Expertise)--(2017). Nichols, profesor US Naval War College dan Harvard Extension School, AS, mengkhawatirkan tentang fenomena matinya ide-ide kepakaran berupa kehancuran pembagian antara kelompok profesional dan orang awam, guru dan murid, dan orang yang benar-benar tahu (paham) dengan orang 'merasa' tahu (sotoy) gara-gara Google, Wikipedia dan blog.

"Serangan terhadap pengetahuan yang sudah mapan dan dampak buruk informasi yang setengah-setengah di masyarakat umum, kadang terasa menggelikan, kadang bahkan sangat lucu". Sebagian pihak menyalahkan internet.

Betul. Menurut Nichols, internet hanyalah salah satu alat terbaru dalam masalah berulang yang memperlakulan TV, radio, media cetak, dan beragam inovasi lainnya dengan cara yang sama.


"Internet bukan hanya tempat penyimpanan pengetahuan yang mengangumkan, melainkan juga sumber sekaligus pendorong tersebarnya berbagai kesalaham informasi. Internet bukan saja membuat kita lebih BODOH, melainkan juga lebih KEJAM: sendirian di balik papan ketik, banyak orang berdebat dan bukan berdiskusi, serta MENGHINA bukan MENDENGAR".


Tapi Nichols menekankan, selain internet, adalah faktor "diamnya" pakar yang sejati, sebagai sebab lainnya. "Banyak pakar, khususnya yang di lembaga pendidikan, mengabaikan tugas mereka untuk berhubungan dengan masyarakat. Mereka menarik diri ke dalam jargon dan hal2 yang tak relevan, memilih berinteraksi dengan sesamanya saja". Lalu di manakah kita,,,?