Pojok Dekan

RAMADHAN DAN LIVING QUR’AN

Gairah membaca Alquran di bulan Ramadhan ini meningkat seiring dengan berbagai keutamaannya yang digembor-gemborkan para penceramah.Tidak ada bacaan paling sering dibaca di bulan suci ini yang melebihi Alquran. Bantuan teknologi medsos...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi Drs. H.O. Djauharudin AR (1933-1995).

Ilmu Harus Membentuk Akhlaq

“….pengamalan ilmu pengetahuan yang diperoleh para mahasiswa harus dapat membentuk watak/karakter mahasiswa. Watak dan karakter itu...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

MAKNA AKREDITASI A, BEDA DOSEN DAN MAHASISWA
Update: Kamis, 4-APR-2019

SEPULANG mengajar saya beroleh selebaran dari seorang mahasiswi yang sedang berorasi. Selebaran yang disebutnya sebagai "kado" atas prestasi UIN SGD yang beroleh nilai akreditasi A. Pencapaian yang membanggakan, pasti! Hasil yang menggembirakan buat seluruh civitas akademika UIN SGD Bandung, tentu saja!

Tapi kenapa sejumlah mahasiswa malah demo? Menunjukkan ketidakpuasan bahkan kekecewaan atas hasil yang dicapai? Ada apa?! Ketidakpuasan dan kecewaan mahasiswa adalah hal lain. Akreditasi A yang diperoleh adalah hal yang lainnya lagi. Baiklah... !

Diktum sejarah sudah sampai pada waktunya. Ia datang membuktikan taqdirnya. Alam dan kehidupan seumpama menunjukkan keberpihakan. Ikhtiar yang kita lakukan. Doa yang terus menerus dipanjatkan membuahkan hasil sesuai dengan yang kita inginkan. Keringat mungkin juga air mata pengorbanan berubah menjadi bulir mutiara yang membuat kita berbunga-bunga memandang hasilnya.

Dengan pencapaian itu, kita seumpama berdiri di puncak tertinggi. Puncak yang tidak setiap lembaga bisa meraihnya. Puncak yang membuat orang berpayah-payah mengejarnya bahkan tak jarang menyisakan prustrasi karena gagal meraihnya. Puncak yang harus diusahakan dengan rayuan, bujukan, lobi sana-sini bahkan siasat gelap yang harus dimainkan!

Dengan pencapaian itu bolehlah kita membusungkan dada lalu mengarahkan telunjuk kepada mereka yang dulu ragu dengan kemampuan yang kita miliki. Kepada mereka yang sangsi dengan kapasitas yang kita punya. Kepada mereka yang nyinyir bahkan merendahkan bahwa UIN SGD tak akan mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Kita sudah di sini. Di titik yang menebalkan keyakinan bahwa martabat UIN SGD sudah terangkat. Tak harus minder lagi kita bergaul dengan dunia luar. Tak harus malu-malu menyebutkan identitas dan asal. Tak perlu lagi sungkan untuk menunjukkan disiplin ilmu yang kita tekuni. Dan dengan lantang kita bisa menyeru inilah tuah dari mantra "Wahyu Memandu Ilmu"!!!

Wahyu adalah landasan dari keilmuan yang kita punya. Ia menjadi magnet dan orientasi dari seluruh proses belajar mengajar yang kita lakukan. Ia menjadi jangkar yang mengokohkan penelitian dan pengabdian yang kita jalankan. Ia menjadi acuan standar moral dan etika yang kita tampilkan.

Wahyu yang kita letakan sebagai asasnya adalah sandaran bahwa sifat dan sikap kita mustahil berubah seperti binatang. Wahyu, mustahil menjadikan tugas kita sebagai pengajar menjadi kesempatan mengintip dan mengincar selangkangan. Menjadi peluang untuk melampiaskan syahwat. Menjadi jalan untuk menghina dan merendahkan anak didik yang sedang kita tempa akhlaknya. Menjadi cara untuk membuat hatinya terluka dan gelap masa depannya.

Wahyu adalah "guiding factor". Ia memandu akal yang kita punya. Hati yang kita miliki dan tingkah yang dilakukan. Wahyu menuntun mata supaya tak nakal. Mulut tak mudah mengobral bujukan, ajakan dan rayuan. Tangan tak gampang merangkul atau membelai. Wahyu menuntun kaki supaya tak boleh gampang menghampiri anak didik seumpama buruan yang harus segera ditaklukan.

Wahyu adalah pelecut utama tentang keseriusan kita untuk menyelesaikan soal-soal mesum. Membereskan perilaku tercela dan durjana. Wahyu, hanya dengan inilah kita beroleh marwah dan kehormatan. Memiliki harga diri, rasa percaya diri dan kebanggaan.

Akreditasi A adalah jumlah antara kerja dan doa. Resultan antara niat dan kesungguhan. Hasil akhir dan pembuktian yang potensial menjadi aktual. Akreditasi A adalah akumulasi dari penilaian fisik administrasi hingga akhlak yang terpuji. Sinergi antara yang substansi dan aksidensi. Kulit dan isi.

Akreditasi A, kita akan mempertahankannya sebagai modal persaingan menabur benih kebaikan dan kemanfaatan untuk umat, negara dan bangsa.