Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Kurikulum Islam Moderat
Update: Sabtu, 4-MAR-2017

Dalam beberapa kesempatan Menteri Agama Republik Indonesia menyerukan Islam moderat sebagai model ekspresi keagamaan, terutamaan kaitannya dengan keberagaman dan kebinekaan. Bahkan seruan tersebutpernah disampaikannya pada pembukaan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-16  dan Halaqah Ulama ASEAN pada tahun silam. Seruan ini memiliki relevansi ketika ada sementara orang membagi tipologi ekspresi keagamaan menjadi Islam Garis Keras dan Islam Moderat, dan lebih relevans lagi dengan fenomena kemunculan gerakaan ekstrimisme atas nama agama.

Meskipun tidak ada formulasi tegas yang membedakan antara kedua tipologi di atas, tetapi gambaran umum tentang Islam moderat adalah pemahaman dan prilaku keberagamaan yang melahirkan sikap toleransi dalam menghadapi keragaman, tertutama menyangkut isu pluralisme agama, sehingga mewujudkan nilai-nilai damai dalam Islam. Sikap ini sangat diperlukan dalam konteks merawat kebineka-tunggal-ekaan Indonesia yang memiliki banyak keragaman. Jika itu yang dimaksud, maka moderasi Islam sesungguhnya built-in dengan inti ajaran Islam itu sendiri. Banyak rujukan naqliah yang dapat dihadirkan untuk mendukung kesimpulan ini. Bahkan, moderasi Islam ini seiring dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia dan—khususnya—budaya masyarakat Jawa Barat yang memiliki nilai Silih Asah Silih Asih, Silih Asuh. 

Pertanyaan mendasarnya, sejauh mana seruan Islam moderat dijabarkan dalam konteks penanaman nilai kepada peserta didik, yakni dalam instrumen proses pendidikan di Indonesia di setiap jenjangnya? Islam moderat adalah sebuah hasil dari proses pendidikan yang tentunya tidak muncul secara tiba-tiba dari kesadaran umat beragama. Tanpa diterjemahkan ke dalam instrumen-instrumen tersebut, dikhawatirkan seruan tersebut tak ubahnya seperti jargon yang prakteknya sulit ditemukan.

Dalam tataran teoritisnya, Islam moderat adalah sebuah rumusan yang memiliki spektrum luas dan kompleks. Tidak saja menyasar aspek keyakinan/aqidah, tetapi juga menyasar aspek pemahaman terhadap doktrin-doktrin syariah itu sendiri. Bahkan, dalam konteks kebangsaan, Islam moderat menyasar isu keragaman, masyarakat sipil, dan lainnya. Jadi, kontruks Islam moderat sebagai model ekspresi keberagamaan hanya bisa diwujudkan jika menjadi instrumen penting dalam proses pendidikan di Indonesia.

Jika mau lihat bagaimana proses pendidikan Islam moderat dijalankan dengan baik, kita bisa melihat praktek yang dilakukan oleh Nabi Muhammad kepada para sahabatnya. Madinah adalah sebuah realitas masyarakat sipil (civil society) dimana Islam moderat dipraktekkan. Piagam Madinah adalah modul berisikan nilai-nilai moderasi Islam. Ekspresi keberagamaan muslimin di Madinah yang moderat adalah sebuah proses panjang penanaman pendidikan oleh Nabi yang dimulai dari pembangunan dasar idiologi di Mekah sampai penanaman nilai-nilai kehidupan sosial di Madinah. Keragaman sistem sosialnya membuat Madinah saat itu menjadi kota percontohan praktek Islam moderat. Masyarakat Madani yang sering menjadi gambaran masyarakat ideal pada dasarnya merupakan cerminan masyarakat sipil kota Madinah yang mana Nabi sebagai perekayasa sosialnya.

 

Substansi Kurikulum

Salah satu instrumen dalam mensukseskan pendidikan Islam moderat adalah penyusunan kurikulumnya itu sendiri. Ada beberapa acuan penting yang harus dipertimbangkan dalam merumuskan kurikulum Islam moderat.

Pertama, materi pengajaran harus menyasar semua dimensi ajaran Islam. Moderasi Islam berada dalam semua ajarannya dan saling terkait. Tidak saja dalam dimensi aqidah/idiologi-tauhidi, tetapi juga dalam dimensi implementasi aqidah tersebut, termasuk di dalamnya moderasi ajaran tasawuf, fiqih, bahkan ajaran politik. Ummatan washatan/washatiyah  (sigar tengah) adalah terma yang diambil Al-Qur’an yang memberikan gambaran moderasi dalam segenap ajaran Islam. Penyusunan materi yang komprensif ini harus disertai dengan strategi pembelajaran yang tepat dan menyentuh semua level pendidikan, baik di lembaga formal maupun informal. Sikap moderat dan toleran sejatinya bahkan diajarkan kepada seseorang semenjak usia dininya.

Kedua, perlu diberi penegasan tentang di ruang-ruang publik mana saja Islam moderat memberikan tempat bagi sikap toleran.Hal ini penting dicatat agar kurikulum yang dirumuskan tidak menghasilkan lulusan yang lembek atau tidak berdaya menghadapi berbagai deviasi. Islam tidak saja mengajarkan ruhama (kelembutan, kesantunan, dan toleransi), tetapi juga asyidda’ (ketegasan terhadap deviasi). Islam moderat sejatinya tidak menafikan keteguhan dalam memegang prinsip-prinsip yang diajarkan Islam itu sendiri.

Yang terpenting dari itu semua, para pengajarnya harus benar-benar memahami rumusan Islam moderat itu sendiri. Di sinilah pentingnya pengadaan Training of Trainer (TOT) bagi mereka. Dalam konteks Jawa Barat, pemberdayaan para Penyuluh Agama Islam (PAI), misalnya,sebagai agen penyebaran ajaran Islam moderat tidak bisa dianggap enteng. Mereka sesungguhnya yang seharusnya menjadi agent of moderate Islam di tengah-tengah masyarakat. Tentu saja kita tidak bisa menafikan potensi besar lainnya berupa jumlah para pengajar di lembaga-lembaga formal dan informal. Peran penting lainnya yang harus dioptimalkan adalah yang dipegang oleh Perguruan-Perguruan Tinggi Islam. Lembaga pendidikan yang terakhir ini bisa dijadikan sebagai think tank tentang rumusan kurikulum Islam moderat itu sendiri melalui penelitian-penelitian yang berkualitas. Dan yang lebih penting dari itu semuanya adalah regulasi-regulasi yang dibuat oleh pemerintah sendiri dalam mensukseskan pengajaran Islam moderat.*** (Pernah dimuat di H.U. Pikiran Rakyat, 2 Maret 2017)