Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Jurnal Wawasan Volume 30 No 2 Tahun 2007
Update: Kamis, 18-APR-2013

Kata Pengantar

Apa yang bisa kita harapkan dari sebuah proses demokrasi? Sejatinya, demokrasi adalah mekanisme dari sebuah proses politik yang menurut sejarah lahir karena alasan untuk mempertahankan keyakinan bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” (volks populi volks dei). Tapi realitas kehidupan tak pernah membuktikan itu secara fasih. Kenyataannya, sejarah selalu bertutur hal yang sebaliknya. Suara rakyat selalu kalah oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang menyesatkan dan menipu.

Panggung demokrasi dan mimbar politik sering menjadi media yang disalahgunakan. Demokrasi akhirnya menjadi alasan dan wewenang untuk mengintimidasi, menakut-nakuti, dan membuat miris lawan politiknya. Bagi yang tidak memiliki akses ataupun daya tawar, hanya dituntut untuk turut, patuh, dan tak usah ribut-ribut mempertanyakan, kenapa ini begitu? kenapa itu begini? Demokrasi yang kita jalankan adalah demokrasi yang riuh di ruang-ruang yang senyap dan sempit. Demokrasi yang menjadi hasrat kita hari ini adalah demokrasi yang dibumbui argumen-argumen ad hominem atau pun argumen ad populum. Jadinya, alasan orang berdemokrasi dalam kondisi seperti ini adalah sibuk menyusun dan mengatur posisi dan jabatan apa yang bisa diraih: Siapa lawan yang harus disingkirkan dan siapa kawan yang harus dipertahankan?

Tak adakah keinginan dari masing-masing kita untuk mengembali-kan arah dan spirit demokrasi ke jalan yang seharusnya? Kita tidak pernah tahu. Sebab kita tidak pernah punya kemauan yang kuat atau pun memiliki kesungguhan yang sebenar-benarnya bahwa demokrasi yang sejati punya manfaat. Demokrasi yang sejati malah sering membuat kita kecewa. Demokrasi yang sebenar-benarnya sering membuat kita terluka. Karena demokrasi pula, Socrates harus rela mengorbankan dirinya untuk minum racun cemara.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Lembaga politik kita, bahkan lembaga pendidikan di Indonesia khususnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, baru mampu menyelesaikan sebagian proses politik tersebut. Kita berharap, bahwa proses politik yang dijalankan adalah proses politik yang mengedepan-kan kemaslahatan. Politik yang menjaga keutuhan dan politik yang bisa merasa bahwa masing-masing kita merupakan satu kesatuan. Dan politik yang memberikan rasa nyaman bahwa UIN merupakan rumah bersama. Jauh di atas segalanya, politik yang kita jalankan diupayakan didasari oleh nilai-nilai sosial terpuji, berpijak pada norma akademik dan spirit untuk "maju bersama".

Kenapa harus dengan nilai sosial terpuji? Kita menyadari bahwa martabat dan ketinggian nilai-nilai sosial manusia ditentukan oleh sejauh mana kita bisa menghargai dan memperlakukan orang lain secara baik. Di titik ini, terasa bahwa nilai-nilai sosial yang berbentuk akhlak merupakan pagar dan medan kesadaran bahwa sikap dan aktivitas kita tidak boleh membuat orang lain terluka yang kemudian memendam rasa permusuhan yang tak berkesudahan. Benarlah apa yang dikatakan oleh sebuah petuah bijak: Ihfadz lisânaka wakhtarij min lafdzhi falmar'u yaslamu bi-llisânihi wa ya’tub".

Kenapa mesti dengan pijakan norma akademik? Lembaga seperti UIN dengan Ushuluddinnya ini merupakan lembaga pendidikan. Sejatinya, proses pengalihan kekuasaan dari satu generasi ke generasi berikut yang merupakan proses politik diupayakan berjalan dan diletakkan di atas alasan untuk memperbaiki kualitas dan diarahkan pada usaha untuk meningkatkan citra dan kualitas lembaga ini di mata masyarakat. Di sini diperlukan kebersamaan.

Kenapa harus dengan "maju bersama"? Kebersamaan adalah modal dan sebuah kekuatan. Sejarah selalu menorehkan pelajaran penting bahwa kejayaan dan capaian-capaian gemilang sebuah kelompok masyarakat dihasilkan hanya jika tiap-tiap orang merasa bersatu dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Maju bersama, tentu saja bukan dalam pengertian bahwa masing-masing kita harus punya posisi dan jabatan tertentu. Maju bersama, berarti bahwa masing-masing kita menyadari dan mau bekerja keras sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-­masing untuk sebuah tujuan yang mulia.

Dengan ini pula, Jurnal Wawasan merasa perlu untuk menyampai-kan selamat atas terpilihnya sejumlah anggota senat dan munculnya sosok Rektor dan Dekan yang baru. Semoga mereka yang terpilih betul-betul mengemban amanat dan mau bekerja keras untuk menjadikan UIN dan Ushuludin lebih baik.

Bisakah kita menyadari dan mau mewujudkan itu semua? Gloria Estefan punya jawaban yang menarik tentang ini: Good night my love, pleasant dream, sleep tight my love".*** Wallahu a'lam bi-Shawab. (RYH).

Sumber, Jurnal Wawasan Volume 30 No 2 Tahun 2007

  1. Jurnal Wawasan.pdf - unduh