Pojok Dekan

BIMBINGAN MAHASISWA MODEL USHULUDDIN UIN BANDUNG



TULISAN ini merupakan bentuk bimbingan mahasiswa yang berlangsung di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Setiap dosen memiliki tugas bimbingan mahasiswa. Pembagian...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

MENJANGKAU HATI DENGAN REGULASI

HANYA dalam sinetron persilangan pernikahan antara si kaya dan si miskin terjadi. Hanya dalam cerita-cerita fiksi, pernikahan antara mereka yang status sosialnya tinggi dengan yang status sosialnya rendah dirayakan. Dalam dunia...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

IMMANUEL KANT DAN PEMBELAAN FILSAFAT DI UNIVERSITAS
Update: Kamis, 21-NOV-2019

Oleh: M. Taufik

 

JARANG sekali ada tulisan-tulisan yang menerangkan tentang peran jurusan ataupun fakultas filsafat dalam kehidupan universitas. Bahkan mahasiswa ataupun pendidiknya sendiri mungkin tidak terlalu mengetahui apa yang dapat mereka berikan bagi kemajuan sebuah universitas. Kemunculan jurusan ataupun fakultas filsafat sering dianggap terpisah dari jurusan ataupun fakultas lainnya. Sehingga mahasiswa dan pendidik filsafat sering dianggap sibuk dalam ruangannya sendiri. Mereka mahasiswa dan pendidik filsafat hanya melakukan penelitian, diskusi, dan membuat tulisan yang hanya dapat dimengerti oleh komunitasnya sendiri. Sehingga hal demikian membuat peran jurusan ataupun fakultas filsafat semakin berdiri di menara gading dalam kehidupan universitas.

Ketertutupan fakultas filsafat bahkan sering menjadi kecurigaan bagi fakultas ataupun jurusan yang lainnya. Fakultas filsafat sering dianggap bersikap subversif dan kerapkali melancarkan kritik-kritik yang membuat suatu sistem stabil menjadi goyah. Hal ini terjadi karena filsafat benar-benar melancarkan kebebasan berfikir dalam proses kerjanya. Sehingga para akademisi dan pengajar filsafat dituntut untuk memperbaharui setiap pengetahuan yang telah diterimanya. Karena gaya filsafat yang demikian, eksistensi fakultas filsafat akhirnya menjadi musuh bagi fakultas yang lainnya. Bahkan rasa permusuhan terhadap fakultas filsafat tidak hanya dalam lembaga universitas belaka, melainkan juga dalam institusi sosial yang lebih besar, semisal negara. Akibat hal itu kehidupan filsafat dalam lingkup universitas mau tak mau mesti ditundukan oleh otoritas kekuasaan yang tak ingin keuasaannya hancur.

 

Konflik Antar Fakultas

Problem antara kebebasan pengajaran filsafat dan pembatasannya merupakan hal yang penting bagi kehidupan filsafat itu sendiri. Maka, pada masa-masa pengakhiran abad ke-17, seorang filsuf asal Jerman Immanuel Kant pernah membuat risalah tentang pembelaannya atas fakultas filsafat.  Waktu itu Kant sedang menjabat sebagai pengajar di Fakultas Filsafat kerajaan Prusia. Ia terlibat dalam sebuah polemik dalam lingkup universitas. Tepatnya pada tahun 1794 ketika universitas di Koenigsberg (Sekarang menjadi wilayah Rusia) tengah berada dalam pembaruan kebudayaan. Keadaan Prusia saat itu sedang dikuasai oleh pemerintahan Frederich Wilhelm II. Kekuasaan Frederich Wilhelm II benar-benar menetapkan kebijakan yang ketat bagi Prusia waktu itu. Maksudnya setiap tindakan masyarakat dikontrol ketat oleh kekuasaan Friederrich Wilhelm II. Termasuk dalam kehidupan dunia universitas.

 

Frederich Wilhelm II menginginkan setiap universitas berada dibawah kendalinya. Tujuan dari setiap universitas oleh karena itu untuk mendukung dan mempertahankan status quo pemerintahan Prusia. Kant sebagai seorang Liberal sangat terdesak dalam pemerintahan semacam ini. Kehidupannya pun di universitas perkembangannya terhambat akibat kontrol pemerintahan Prusia. Namun, dalam situasi tersebut Kant masih membuat tulisan yang menginginkan kebebasan dalam lingkup kehidupan akademiknya. Salah tulisan yang menunjukan Kant membela kebebasan akademiknya di hadapan suatu otoritas adalah karya terakhirnya yang berjudul “The Conflict of The Faculties” atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya berarti konflik antar fakultas.. Kant menulis ini di ambang akhir hidup hayatnya. Karya ini juga tidak langsung diterbitkan oleh Kant. Mengingat badan sensor kerajaan Prusia di bawah kendali Friedrich William II sangat begitu ketat. Konflik antar fakultas sendiri setelah rampung dan diselsaikan oleh Kant tidak langsung ia terbitkan. Ia mesti menunggu raja William II meninggal dunia.

 

Dalam tulisannya ini Kant menyoroti tentang kebebasan filsafat dalam dunia akademik. Menurutnya filsafat yang hidup dalam diskursus yang bebas diancam oleh sistem universitas yang membatasinya. Menurut Kant, filsafat adalah peletak di mana universitas memperbaharui diri dan menetapkan arah baru bagi masyarakat. Mulanya Kant melihat bahwa universitas terdiri dari pelbagai fakultas yang terpisah namun dalam kesatuan sistem yang sama. Maksudnya dalam unsur terkecil universitas terdiri dari pelbagai macam fakultas. Tiap-tiap fakultas mempunyai orientasi dan kekhasannya dalam mengembangkan suatu ilmu pengetahuan.

Akan tetapi kekhasan tiap fakultas akan bersinergi dan membentuk suatu harmoni dalam membentuk kehidupan universitas. Menurut Pompilu Alexandru, Kant membagi dua struktur fakultas yang berada dalam sebuah universitas. Yang pertama adalah high faculties yang terdiri dari fakultas teologi, hukum, dan kedokteran. Menurut Kant high Faculty berusaha menerapkan ilmu pengetahuan praktis yang berguna bagi kehidupan manusia. Kedokteran misalnya diperuntukan untuk mengembangkan kesehatan tubuh terhadap masyarakat.

Kemudian hukum untuk membuat kehidupan masyarakat lebih baik, serta teologi untuk memberikan semacam pedoman bagi manusia setelah dirinya tidak hidup lagi di dunia ini. Selanjutnya, yang kedua adalah Low Faculties yang tidak lain adalah fakultas filsafat. Tidak seperti high Faculties yang menerapkan dimensi praktis dalam ilmu pengetahuan, Low Faculties justru cenderung pada ilmu pengetahuan yang bersifat teoritis. Tugas Low Faculties adalah memberikan semacam dasar bagi High Faculties mengenai norma-norma untuk mengarahkan pada tindakan yang praktis. Dengan demikian peran jurusan ataupun fakultas filsafat dalam kehidupan universitas adalah semacam laboraturium paradigma yang mengarahkan fakultas-fakultas lainnya. Tentu peran ini cukup penting dalam kehidupan universitas. Karena jika tidak ada yang menggodok orientasi paradigma dalam universitas maka kehidupan universitas tidak akan mempunyai kejelasan.

Peran filsafat dalam kehidupan universitas yang dikemukakan oleh Kant setidaknya mempunyai banyak kendala.  Karena filsafat yang cenderung teoritis dan bebas dalam kinerjanya membuat tanggapan dari beberapa fakultas. High Faculties tidak begitu saja mau menerima norma-norma atau suatu pendasaran yang diterapkan oleh Low Faculties. Hal ini dikarenakan karena mereka menganggap bahwa High Faculties sudah mendapat norma dan dasar dari diri mereka sendiri tanpa bantuan filsafat. Semisal fakultas kedokteran telah mempunyai norma berdasarkan metode-metode sains yang positivistik. Kemudian fakultas hukum mesti menerapkan ilmu pengetahuannya berdasarkan dasar-dasar yang telah ditetapkan oleh otoritas negara. Serta fakultas teologi mendasarkan dirinya pada kepercayaan kitab suci. Akibatnya peran filsafat menjadi termarjinalisasi dalam kehidupan universitas. Bahkan menurut Kant filsafat seringkali diintervensi oleh ketiga fakultas tersebut. Bagi Kant low faculty mempunyai tugas untuk menilai (judging), mengkritisi, dan memberikan sesuatu yang baru terhadap ilmu-ilmu praktis (high faculty). Akan tetapi perannya tersebut acapkali dibatasi oleh kedaulatan yang dipunyai high faculty.

 

Pada bab pertama misalnya dalam buku konflik antar fakultas Kant mula-mula menyoroti pertentangan antara fakultas teologi dan fakultas filsafat. Menurut Kant metode rasional dari filsafat seringkali berbenturan dengan teologi yang mengandalkan iman terhadap kitab suci. Selain itu metode rasional filsafat membuat suatu penemuan baru terhadap pemikiran teologi. Hal ini kiranya akan berpengaruh pada sistem gereja yang mendominasi pemikiran teologi. Titik tekan dari pertentangan antara fakultas filsafat dan teologi salah satunya adalah tentang metode penafsiran kitab suci.  Persoalan penafiran disini adalah ketika menyangkut “siapa yang berhak menafsirkan kebenaran bible atau kitab suci?”. Tentu, dalam beberapa ajaran agama ada suatu aturan hanya orang-orang tertentu lah yang berhak menafsirkannya. Orang-orang ini adalah mereka yang mempunyai iman dan anugerah spiritual. Sehingga diluar kategori tersebut tidak semerta-merta berhak menafsirkannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kant dalam bukunya:

 

The biblical theologian can also have no authority to ascribe a nonliteral ⎯ for example, a moral ⎯ meaning to statements in the text. And since there is no human interpreter of the Scriptures authorized by God, he must rather count on a supernatural opening of his understanding by a spirit that guides to all truth than allow reason to intervene and (without any higher authority) maintain its own interpretation. Finally, as far as our will and its fulfillment of God’s commands is concerned, the biblical theologian must not rely on nature ⎯ that is, on man’s own moral power (virtue) ⎯ but on grace (a supernatural but, at the same time, moral influence), which man can obtain only by, an ardent faith that transforms his heart ⎯ a faith that itself, in turn, he can expect only through grace. If the biblical theologian meddles with his reason in any of these tenets, then, even granting that reason strives most sincerely and earnestly for that same objective, he leaps (like Romulus’s brother) over the wall of ecclesiastical faith, the only thing that assures his salvation, and strays into the free and open fields of private judgment and philosophy

Selain itu juga konflik antara fakultas filsafat dan teologi bermuara pada persoalan eksistensi Tuhan. Persoalan tentang Tuhan sebagai dasaran paling penting dalam memahami dunia oleh manusia memperlihatkan persepektif yang berbeda dari fokus filsafat dan teologi. Bagi Kant filsafat selalu mendasarkan problem tentang Tuhan melalui akal. Sementara, agama melihat persoalan Tuhan dalam kerangka kitab suci. Kant menulis:

The biblical theologian proves the existence of God on the grounds that He spoke in the Bible, which also discusses His nature (and even goes so far into it that reason cannot keep up with the text, as when, for example, it speaks of the incomprehensible mystery of His threefold personality). But the biblical theologian as such cannot and need not prove that God Himself spoke through the Bible, since that is a matter of history and belongs to the philosophy faculty. [Treating it] as a matter of faith, he will therefore base it ⎯ even for the scholar ⎯ on a certain (indemonstrable and inexplicable) feeling that the Bible is divine. But the question of the divine origin of the Bible (in the literal sense) must not be raised at all in public discourses directed to the people; since this is a scholarly matter, they. would fail completely to understand it and, as a result, would only get entangled in impertinent speculations and doubts.”

Dengan perbedaan-perbedaan semacam itu, maka konflik antara fakultas filsafat dan teologi sering terjadi. Malahan menurut Kant filsafat seringkali diintervensi ketika membicarakan persoalan religius. Filsafat akhirnya tidak mampu lagi menyelediki teologi dalam kerangka yang dipunyainya. Melainkan melulu dipaksa agar filsafat menyelidiki teologi dengan melepas semua daya kritisnya, dan memasuki kedaulatan iman serta kitab suci.

Kemudian, Kant mencoba menggambarkan tentang konflik antara fakultas filsafat dengan hukum. Kant sedikit mengapresiasi akan fakultas hukum yang mempunyai otoritas lebih bebas ketimbang fakultas teologi. Hal ini diakibatkan karena fakultas hukum tidak terlalu bergantung dengan dogma agama sebagaimana fakultas teologi. Akan tetapi fakultas hukum mempunyai kendalanya sendiri, yakni pengkajiannya yang melulu harus di bawah pelayanan terhadap negara. Fakultas hukum karena kerangkanya yang diperuntukan untuk kepentingan umum, maka ia mau tidak mau harus tidak menyimpang dari aturan umum yang berlaku. Dengan demikian fakultas hukum mesti tunduk pada suatu otoritas kekuasaan, yakni negara yang dipercaya sebagai representasi kehendak umum.

Menurut Hasan Hanafi dalam pembacaannya terhadap konflik antar fakultasnya Kant, orientasi fakultas hukum yang melulu dibawah orientasi kekuasaan berbanding terbalik dengan fakultas filsafat yang mesti hidup tanpa dikte dari otoritas apapun. Adapun titik khusus persoalan konflik antara fakultas hukum dan filsafat, yakni hak filsafat dalam penyelidikan yurisprudensi, sistem, dan undang-undang. Selain itu juga penyelidikan filsafat atas hukum tidaklah melulu dalam kaca mata positivistik. Melainkan, filsafat selalu menyelidiki hukum sembari mengekspresikan kebenaran natural (kodrati). Pada akhirnya filsafat selalu menguatkan kemajuan hukum manusia dan mendorongnya dengan langkah-langkah ke depan. Pada sisi lain, fakultas hukum menetapkan posisi-posisi sistem status quo, mempertahankan sistem-sistem, dan undang-undang dalam negara.

Dengan melihat konflik antar fakultas yang dicanangkan oleh Kant, filsafat sangat begitu rentan posisinya ketika berada dalam lingkup universitas. Konflik antar fakultas yang dihadirkan oleh Kant adalah upayanya dalam mempertahankan otonomi filsafat dalam aktivitasnya di universitas. Ketika mahasiswa ataupun pengajar filsafat ingin memaparkan teori-teori mereka dalam ruang publik, maka sesungguhnya mereka tidak menyandarkan diri pada otoritas eksternal (sebagaimana higher faculty), tetapi pada otoritas nalar saja. Filsafat bisa sampai pada teori-teori mereka atas dasar penyelidikan yang bebas. Dan nalar, merupakan daya yang bisa mempraktikan penyelidikan bebas ini.

 

Epilog

Filsafat memang sebuah keistimewaan sendiri bagi pengetahuan manusia. Alasannya, karena filsafat merupakan kemampuan independen manusia dalam percobaannya merengkuh mengenai segala apa yang ada di dunia (termasuk diri manusia itu sendiri). Kemampuan filsafat seperti ini didasarkan kepada kekuatan nalar manusia. Dan nalar adalah jangkar utama ketika filsafat dihidupkan oleh manusia. Akibat pikakannya yang berkutat pada nalar filsafat membedakan diri dengan pengetahuan-pengetahuan manusia yang lainnya. Untuk itulah filsafat sejauh ini bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang bersifat independen.

Akan tetapi kemampuan nalar filsafat acapkali tidak dapat begitu saja diterima oleh pengetahuan yang berada diluarnya. Bahkan, bisa menjadi konflik yang tak kunjung selesai sepanjang sejarah peradaban manusia. Semisal, hubungan antara filsafat dengan sains, filsafat dengan agama, ataupun filsafat dengan otoritas kekuasaan. Tentu, konflik seperti ini mesti diselesaikan. Karena baik filsafat maupun pengetahuan yang lainnya adalah timbul dari kebutuhan manusia untuk mengerti dunia. Jika setiap pengetahuan bersifat terfragmen dan mengandung konflik, hal itu juga sekaligus membuat pemikiran manusia menjadi sempit serta kacau.

Setidaknya dalam pemikiran Immanuel Kant tentang konflik antar fakultas kita dapat melihat bahwa filsafat sering terlibat konflik dengan pengetahuan-pengetahuan yang lainnya. Ciri khas filsafat yang berada pada kemampuan mengkritik, menilai, dan memperbaharui apa yang ada di luar darinya, membuat pengetahuan lainnya bersiap menghadang laju filsafat tersebut. Namun, ada halnya konflik ini selalu didiamkan dan mungkin tidak dibicarakan serius dalam dunia akademik. Adapun jika kita membuat contoh yang sedikit empiris kita dapat melihat potensi konflik filsafat dengan pengetahuan yang lainnya terdapat di Univeritas Islam Negeri (UIN) Bandung, tepatnya di fakultas Ushuluddin.

Sebagaimana kita tahu fakultas Ushuluddin mempunyai jurusan-jurusan yang terdapat didalamnya, yakni ilmu tafsir Al-Qur’an-Hadist, Tasawuf Psikoterapi, Akidah dan Filsafat Islam (AFI), dan studi agama-agama (SAA). Tiap jurusan ini mesti memproduksi pengetahuan utama dalam Islam sebagaimana fokus fakultas Ushuluddin itu sendiri yang mengkaji kajian pokok agama. Secara mudah Ushuluddin adalah nyawa dari UIN Bandung sebagai ujung tombak pembuat paradigma. Karena tanpa Ushuluddin, UIN tidak akan jauh berbeda dengan universitas yang tidak membawa embel-embel agama dalam aktivitasnya. Akan tetapi, alih-alih memproduksi pengetahuan utama Islam justru tiap jurusan nampak terlihat asik dengan ruang lingkup mereka sendiri. Dan, jika pun dipertemukan dalam dialog bersama akan berujung pada potensi konflik.

Kita akan melihat konflik ini pada empat jurusan yang kiranya dapat memunculkan konflik yang cukup hebat, yakni anatara jurusan  Akidah dan Filsafat Islam (AFI), Tasawuf, Ilmu Tafsir Al-Qur’an, serta Hadist. Keempat jurusan ini tentunya mempunyai ciri khas yang berbeda dalam tinjauan perihal Ushuluddin. AFI mempunyai corak berfikir rasional, tasawuf adalah intuitif, dan ilmu tafsir bersifat tekstual. Ketika AFI mengkaji ilmu tafsir dengan kerangka rasionalnya, apakah hal ini tidak akan bersinggungan dengan jurusan tafsir yang menjangkarkan diri pada teks-teks kitab suci? Pertanyaan ini kiranya mengingatkan kita pada konflik antar fakultas teologi dan filsafatnya Kant, di mana problem penafsiran teks kitab suci justru menjadi hambatan bagi filsafat untuk menafsirkan teksnya dengan kaca mata rasional. Begitupun dengan jurusan tasawuf. Orientasi tasawuf yang bercorak intuitif sering menjadi sasaran kritik satire filsafat sebagai pengetahuan irrasional. Sebaliknya tasawuf mengkritik kerangka rasional filsafat yang justru menghalangi pengetahuan manusia kepada level yang lebih tinggi.

Posisi filsafat pun dalam universitas yang bercorak agama mengandung dilemanya sendiri. Di UIN Bandung jurusan Akidah dan Filsafat Islam mempunyai potensi konflik yang mungkin tidak terlalu disadari oleh kebanyakan orang. Setidaknya posisi rentan filsafat dalam hal ini kembali mempertanyakan hubungannya antara akidah dan Islam. Kedua hal yang disebutkan tadi adalah suatu kepercayaan agama. Ketika kedua hal itu diposisikan dengan filsafat muncul pertanyaan klasik soal filsafat dan agama.

Kant dalam konflik antar fakultasnya menyoroti kepercayaan agama yang menjangkarkan pada teks kitab suci. Sementara filsafat dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang landasan pertamanya adalah usaha nalar independen manusia.. Menurut A. Setyo Wibowo dalam tafsirannya mengenai pemikiran Martin Heidegger yang menyangkut persoalan teologi dan filsafat, ia menyatakan bahwa teologi adalah kebertanyaan yang pura-pura. Maksudnya, ketika seorang teolog bertanya tentang apapun jawabannya sudah tersedia dalam kitab suci (wahyu). Dengan demikian seorang teolog hanya berputar-putar ketika dirinya sedang berfikir. Hanya filsafat lah yang benar-benar bertanya secara an sich. Karena filsafat bertanya dengan kekuatan nalar independen manusia. Ketika kita melihat perbedaan landasan ini bisakah terjadi perpaduan antara agama dan filsafat? Atau justru sebuah konflik?

Tentu, kita tidak bisa dengan gampang menjawabnya secara anakronis bahwa perbedaan landasan tersebut akibat daripada pemikiran filsafat sekuler Barat. Dan kemudian menyelesaikannya secara gampang kalau filsafat kita adalah berkarakter khas Timur yang tidak mempertanyakan kembali kaitan antara teologi dan filsafat. Karena kiranya akan lebih bijaksana jika kita mencari kebenaran tentunya tidak dapat dibatasi oleh persoalan Timur-Barat belaka.

Selain itu juga potensi konflik filsafat pun muncul dengan faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut terdapat dalam kebijakan pemerintah. Dalam sebuah laporan berita kementrian pendidikan yang baru terpilih mencanangkan kebijakan bahwa fokus dunia pendidikan akan diarahkan pada dunia industri. Hal ini tentunya mempersempit kajian filsafat yang tidak mengarah kepada hal yang bersifat ekonomi.

Filsafat memang bukan berarti terbebas atau bersifat anti terhadap ekonomi. Filsafat disini adalah untuk mengevaluasi apa tujuan dari ekonomi sendiri, yakni keadilan. Namun, kebijakan menteri pendidikan justru memaksa agar filsafat bisa menjadi praktisi ekonomi. Kebijakan dari pemerintah ini tentunya menjepit aktivitas filsafat yang tugasnya mencari kebenaran menjadi sparepart dalam dunia industri. Ketika filsafat mulai mengkritik dan mengevaluasi daripada kebijakan pemerintah soal ekonomi, hal itu akan dianggap tidak relevan. Bahkan dianggap menganggu kepentingan pemerintah dalam rencananya soal pembangunan ekonomi.

Dengan demikian kehidupan filsafat dalam universitas masih rentan untuk dapat hidup bebas sesuai otonominya. Banyak kendala yang membuat pengetahuan ini menjadi problematis ketika harus mengembangkan pengetahuannya. Independensi dan kebebasan yang diungkapkan oleh Immanuel Kant sebagai pola kerja filsafat selalu bersitegang dengan faktor luar yang tidak menerima keberadaannya. Tentu hal ini bukan berarti filsafat bersikap bermusuhan dengan apa yang ada di luarnya. Pertanyaan bagi kita dalam melihat hal ini adalah mendialogkan kembali konflik yang terjadi. Karena tanpa filsafat suatu pengetahuan kemungkinan besar akan jatuh pada kemandegan. Lebih jauh daripada itu, tanpa kritik, evaluasi dan diskursus yang disandarkan pada nalar sebagai ciri khas filsafat, pengetahuan yang diproduksi oleh universitas akan terjatuh dalam sikap yang dogmatis. Apa yang diinginkan oleh Kant dalam pembelaannya terhadap filsafat adalah membuat universitas menjadi bebas, meneruskan kritik pada siapapun, serta membuat universitas tidak terjatuh dalam kekangan otoritas apapun.

 

//. Penulis adalah mahasiswa Aqidah & Filsafat Islam, sekaligus bukan siapa-siapa. Kecuali sebatas angka dalam catatan sipil kecamatan.