Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan Agama Lain
Update: Rabu, 11-MEI-2016

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan masyarakat muslim Nusantara terkait dengan ibadah sehari-hari seperti sholat, banyak diproduksi di kawasan itu. Ekonomi yang tumbuh dengan pesat itu tentu saja sangat berbeda dengan daerah lain, karena pada tahun 1960-an itu lagi mengalami krisis dalam masalah ekonomi. Tidak mengherankan, modal pertumbuhan ekonomi itu telah membuat dua orang petinggi negeri, Bung Karno dan Bung Hatta, pada tahun-tahun tersebut pernah datang ke Majalaya.

 

Di dalam lingkungan dengan semangat kemandirian ekonomi yang sangat kuat di Majalaya itu keluarga H. Abdul Hamid yang akrab dianggil dengan sebutan Mama Abdul dengan pasangannya, Ibu Hj. Siti Hamidah mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan dasar-dasar akhlak yang sangat kuat. Mereka, keluarga dengan latar belakang pesantren  sangat berbahagia dengan ketujuh anak mereka. Bahkan kebahagiaan itu lebih lengkap lagi ketika 23 Juli tahun 1970 lahir juga seorang anak yang kemudian diberi nama Ilim Abdul Halim.

 

Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius sekaligus juga di tengah masyarakat industri dengan tingkat motivasi persaingan kehidupan ekonomi yang ketat, Ilim kecil mendapat tempaan awal nilai-nilai keagamaan dari lingkungan keluarga sendiri. Ilim kecil mengaji di jama’ah pengajian dengan ibu dan kakaknya yang menjadi gurunya karena ayahandanya meninggal ketika Ilim berusia tiga tahun. Dari  ibu dan kakaknya itulah Ilim Abdul Halim mendapatkan nilai-nilai yang utama terkait penanaman nilai-nilai akhlak serta disiplin dalam kegiatan belajar, mengaji serta beribadah.

 

Dari ibunya, Hj. Siti Hamidah, Ilim kecil mendapatkan nilai-nilai kemandirian untuk meraih keberhasilan dalam hidup. Ibunya yang tidak menempuh pendidikan formal tapi memiliki bekal pendidikan pesantren yang cukup ini, menanamkan nilai keuletan dalam hidup karena disamping dia menjadi guru ngaji bagi masyarakat, dia juga berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibunda yang tidak dapat menulis Latin serta lebih mampu dengan tulisan Arab, merupakan putri dari penghulu KH. Sambas, anak buah dari KH. Hasan Mustopa, seorang filosof serta sufi besar  tanah Sunda. Dengan sendirinya, pada Ilim yang merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara ini mengalir teureuh sebagai menak Sunda dari KH. Sambas yang menjadi penghulu untuk daerah Cicalengka.

 

Melewati bangku pendidikan di SD, SMP serta SMA di Majalaya, Ilim kemudian masuk  ke pesantren Bustanul Wildan serta pesantren Keresek Garut mengikuti jejak seorang kakak dan orang tuanya yang pernah masuk ke pesantren itu. Di pesantren Keresek itu Ilim pernah menjadi murid dari Ajengan Oha. Jenjang pendidikan formalpun kemudian berlanjut dengan menjadi mahasiswa Perbandingan Agama (PA) Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung yang dimasukinya tahun 1993 serta ditamatkannya pada tahun 1997. Mengenai latar belakang mengambil jurusan Perbandingan Agama ini karena ingin membuka cakrawala yang baru terkait pendalaman terhadap ajaran Islam maupun untuk bisa membuka cakrawala yang lebih luas serta inklusif untuk mempelajari berbagai agama serta kemungkinan semakin terbukanya lingkungan pergaulan dengan umat yang berlainan keyakinan. Menjadi mahasiswa Perbandingan Agama membuka kemungkinan untuk bisa bergaul luas secara lintas iman.

 

Selepas dari pendidikan S1, untuk semakin membuka cakrawala pemikirannya dalam bidang yang diminatinya, Ilim pun mengambil program S.2 bidang studi Perbandingan Agama di Universitas Gajah Mada pada tahun 2002 serta diselasaikannya pada tahun 2004. Pada program studi yang dikemudian hari berkembang menjadi program Center for Religious and Cross Culture Studies (CRCS), cakrawala dialog antar agama semakin terbuka karena di kelasnya sendiri terdiri dari orang-orang yang berlainan keyakinan. Orang Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha serta Ortodox Syria merupakan teman-teman sekelas yang turut mematangkan pandangan inklusifnya tentang dialog antar iman. Ilim kini juga sedang mengambil S3 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung serta konsisten dengan pilihannya sejak S1 pada Program Studi Perbandingan Agama.

 

Dengan konsisten pada Program Studi PA yang diambilnya sejak SI, telah memberinya kelapangan hati untuk lebih banyak bergaul secara lintas agama serta lintas budaya. Memang seringkali terdapat kesulitan untuk memberikan penjelasan, terutama terhadap keluarga terkait luasnya pergaulan dengan non-muslim. Namun semuanya kemudian bisa dijernihkan dengan semangat pergaulan yang dikerangkai dengan nilai-nilai universal kemanusiaan. Latar belakang kehidupan sebagai santri tampaknya menjadi semacam pijakan ideologis untuk bisa mengembangkan nilai-nilai ukhuwwah Islamiyyah, ukuhuwwah wathaniyyah serta juga ukhuwwah Insaniyyah. Dari optik-nya sebagai seseorang yang hidup dalam tempaan tradisi religius yang kuat sedari kecil, mengembangkan toleransi dalam wujud luasnya pergaulan dengan non-muslim itu merupakan spirit dari ukhuwwah insaniyyah.

 

Menikah dengan Masyitoh S.Ag pada tahun 2005, Ilim merasa bahwa ia lahir, tumbuh serta besar di Majalaya. Namun kemudian berkembang di Bekasi, kota tempat tinggalnya kini. Dari pernikahan yang dijalaninya selama  sebelas tahun, pasangan Ilim dengan Masyitoh kini telah dikaruniai tiga orang anak: Raihan Khalifaturrahman Abdus Salam Panatagama (9 tahun), Najla Najiyah Raisa Panatapertiwi (4 tahun), Zaim Madani Abdurrahim Panatainsani (1,5 tahun). Kedisiplinan serta kemandirian yang diajarkan orang tuanya yang sekarang diterapkan oleh Ilim Abdul Halim terhadap putra-putri yang kelak akan melanjutkan jejak-jejak perjuangannya, penanaman nilai-nilai di keluarga menjadi hal paling penting menghadapi kenyataan bahwa hidup sekarang sedang dihadapkan dalam transformasi besar-besaran dalam segala hal, termasuk terkait dengan hubungan antar umat beragama.

 

Sebagai dosen jurusan PA Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, nilai-nilai toleransi juga yang dia ajarkan terhadap para mahasiswanya. Namun Ilim juga memberi catatan bahwa dalam dialog dengan agama lain, faktor KEIMANAN tetap menjadi modal utama. Dengan keimanan yang kokoh saja, seseorang sangat mungkin  masuk pada ranah kemanusiaan serta melakukan dialog, tanpa dihantui kehilangan akar keyakinan sendiri.[]DODO WIDARDA