Pojok Dekan

BIMBINGAN MAHASISWA MODEL USHULUDDIN UIN BANDUNG



TULISAN ini merupakan bentuk bimbingan mahasiswa yang berlangsung di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Setiap dosen memiliki tugas bimbingan mahasiswa. Pembagian...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

MENJANGKAU HATI DENGAN REGULASI

HANYA dalam sinetron persilangan pernikahan antara si kaya dan si miskin terjadi. Hanya dalam cerita-cerita fiksi, pernikahan antara mereka yang status sosialnya tinggi dengan yang status sosialnya rendah dirayakan. Dalam dunia...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

GURU OH GURU......!
Update: Kamis, 27-FEB-2020

"Hormati Guru. Perlakukan mereka secara beradab. Jangan jadi bangsa yang tak tahu balas budi. Tidak ada profesi yang lahir di negeri ini tanpa bantuan Guru," Radea Yuli Ahmad Hambali .

 

SAYA lahir dari keluarga guru. Darah yang mengalir di tubuh saya adalah "darah" Guru. Takdir, juga karena "warisan" darah itu pula, pekerjaan saya sekarang adalah seorang Guru.

 

Di jaman nenek, bapak juga ibu saya (saya masih ingat) Guru adalah profesi yang "menyedihkan". Menjadi Guru, sekalipun dia menempati posisi "istimewa" sebagai orang yang berkontrbusi menyuntikan ilmu dan pengetahuan juga akhlak kepada anak didik, adalah profesi yang sulit untuk mencapai maqom kaya. Lain soal jika seorang Guru memiliki profesi sampingan.

 

Bayangkan, untuk memiliki sebuah kursi, bapak saya harus mengumpulkan uang selama setahun. Dan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, seperti menyekolahkan anak, bapak harus rela "menitipkan" SK PNS nya di bank. Lalu untuk menutupi kebutuhan sehari-hari? Karena gaji hanya cukup seminggu, Ibu yang juga seorang Guru, sering menyiasati hidangan dengan melakukan improvisasi. Kami makan cukup dengan garam. Atau telor yang diiris tipis-tipis. Atau, cukup dengan membeli kuah gulai.

 

Dahsyat..

 

Menjadi Guru di jaman nenek, bapak juga ibu saya, harus punya mental baja dan kemampuan untuk ngutang sana-sini jika tidak ingin terpelanting menjadi miskin semiskin-miskinnya. Benar, posisi Guru adalah posisi yang dihormati tetapi dalam strata ekonomi, profesi Guru menempati lapisan yang dekat dengan garis kemiskinan.

 

Zaman memang berubah posisi dan kemuliaan guru dari sisi ekonomi merangkak membaik. Negara mungkin sedikit berbaik hati untuk mengangkat harkat dan martabatnya. Dibuatlah regulasi tentang sertifikasi, tunjangan untuk makan dan remunerasi. Sekalipun dengan administrasi yang kadang memberatkan dan berbelit, nafas Guru bisa sedikit lapang. Dan niat negara untuk meningkatkan kesejahteraan Guru layak dihargai.

 

Tapi tetap saja, profesi Guru sering dipandang sebelah mata. Tak jarang perlakuan yang diterima Guru sering tidak mengenakan. Ada Guru yang dilecehkan anak didiknya. Ada Guru yang dihina orang tua murid. Ada Guru yang harus menerima resiko digunduli oleh aparat keamanan.

 

Pantaskah Guru menerima hukuman sedemikian hebat? Apakah mereka melakukan kejahatan yang tak terampuni sehingga harus dibuat malu? Bagaimana dengan bangsat duit milayaran? Bukankah merekalah yang pantas untuk digunduli?

 

Bisa jadi benar, mereka telah melakukan kekeliruan hingga nyawa anak didiknya melayang. Tapi seharusnya, mata hukum dan keadilan lah yang pertama mengenali lalu menyimpulkan hukuman apa yang pantas mereka dapatkan.

 

Tanpa digunduli, saya yakin para Guru itu malu sendiri. Tidak hanya malu, hati mereka pasti sakit menyaksikan anak didiknya tewas dibawa air deras. Teriakan kepanikan, suara minta tolong serta ketidakmampuan menyelamatkan adalah hukuman yang lebih menyakitkan.

 

Hormati Guru. Perlakukan mereka secara beradab. Jangan jadi bangsa yang tak tahu balas budi. Tidak ada profesi yang lahir di negeri ini tanpa bantuan Guru.

 

Duh Gusti!

 

//; Penulis adalah DR Radea Yuli Ahmad Hambali MA, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung