Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Dodo Widarda: Berkiprah Melayani Kemanusiaan
Update: Jumat, 15-APR-2016

Era globalisasi dan kapitalisasi  berimplikasi kepada  pergeserean nilai, cara pandang, orientasi filosofi hidup seseorang. Kadang tak sedikit orang terjebak berpikir Fragmatis dan instan demi memenuhi hasrat duniawi, baik  kepentingan pribadi, keluarga, maupun  golongannya. Sehingga ia lupa dengan tugas dan fungsinya di dunia bahwa ia adalah seorang Hamba Tuhan yang tujuannya hanya mengabdi tiada henti, melayani tanpa pamrih.


Prinsif Melayani itulah yang dipegang erat oleh Dodo Widarda, seorang lelaki yang punya semangat baja, berpendirian teguh laksana batu karang dalam memperjuangkan nilai-nilai  keadilan dan kemanusiaan.
Pria kelahiran Sumedang ini, punya komitmen kuat dan loyalitas tinggi dalam melayani kemanusiaan. Bahkan ia sering  terjun kepada masyarakat untuk memberikan motivasi dan pencerahan kepada  anak anak muda “ Kapanpun, dimanapun prinsif hidup saya adalah melayani baik sebagai di kampus, tokoh masyarakat maupun sebagai kepala keluarga, “ ungkap Dodo saat di temui di ruang kerjanya, Fakultas Ushluddin-UIN Bandung,Kamis,(14/04)


Sebagai seorang Aktivis Kemanusiaan, Dodo tak menegenal lelah untuk melayani dan  mencari solusi  terhadap problematikia yang dihadapi masyarakat .Dengan semangat penagbdian  Ia berusaha membangun kebersamaan dan kooordinasi sinergis dengan elemen terkait.” Saya terjun ke masyarakat  tidak harus jadi hero, atau membuka konfrontasi dengan pihak lain, tapi, bagaimana masalah-masalah sosial  keagamaan bisa di cari solusinya (win win solution), “ kata Dodo optimis
Salah satunya ia terjun langsung dalam menangani korban  pemebangunan Waduk Jati Gede sumedang dengan membantu masyarakt  dalam pembangunan mesjid dan  memberikan support kepda anak-anak sumedang karena sekolahnya tenggelam akibat proyek  waduk tersebut.

“  Ada 23 gedung Sekolah yang di tenggelamkan, Anak-Anak sumedang perlu di beri motivasi dan support untuk menghilangkan traumatic,akibat proyek waduk. Sebab, kalau tidak segera di tangani, secara psikologis akan berdampak pada perkembangan kedepannya, “ ujarnya.
Sebagai seorang Suami dari Istianah, M.P.d.I, Ia selalu membangun ruang komunikasi  dan  menanamkan kepada keluarganya untuk mencintai dan mengamalkan Al-Qu’an, karena dengan prinsif itu, hidup akan penuh keberkahan dan kebahagian dunia – akhirat.


Sebagai seorang Dosen, Dodo punya komitmen menanamkan nilai-nilai kejujuran  kepada mahasiswanya baik dikampus maupun di luar.”  Budaya instan dan berfikir pragmatis  mendorong mahasiswa untuk bersikap tidak jujur, padahal, prilaku tersebut awal dari kehancuran baik secara pribadi maupun institusi, “ Tandasnya.
Pria jebolan UI yang selalu  berpenampilan low frofile ini, kini menjadi Ketua LESBUMI ( Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) NU Jawa Barat, Anggota MUI Jawa Barat Bidang Seni Budaya, dan Dosen Filsafat, Prodi Filsafat Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN SGD Bandung. (harry gibrant)

 

Sumber: www.ekpos.com