Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Denyut Nadi Fakultas Ushuluddin
Update: Senin, 21-DES-2015

Prof Dr H Rosihon Anwar, M.Ag dipandang sebagai sosok pemimpin yang memberikan makna tersendiri bagi sivitas akademika Fakultas Ushululuddin. Dalam kaitan proses pendidikan, Prof Rosihon dinilai cukup greget, bersemangat, peduli, dan memiliki daya juang serta sanggup bekerja keras membangun fakultas. Sehingga bisa pentas di fora regional, nasional, bahkan internasional. Hal inilah yang dapat mendorong para dosen, karyawan dan mahasiswa memiliki rasa cinta, citra, serta bangga terhadap almamaternya.

 

logo uinDalam kesehariannya, Prof Rosihon adalah sosok yang egaliter dan komunikatif. Karenanya saat diberi amanat kepemimpinan, dia tidak berubah gaya dan penampilan. Apalagi mengambil jarak dengan bawahannya.

 

Dia menganggap Ushuluddin adalah keluarga besar sekaligus mitra kerja, semua harus sinergis, kompak dan saling mendukung, menjaga citra lembaga, agar cita-cita fakultas mewujudkan visi misi bisa terealisasi dengan baik.

 

Dalam menjalankan amanatnya sebagai dekan, dia tidak menggunakan prinsip atasan-bawahan, tapi memperlakukan semua sivitas fakultas sebagai mitra kerja dalam menata bersama mewujudkan visi misi fakultas dan universitas. Bahkan, dia menganggap semua elemen fakultas sebagai keluarga yang mengedepankan silih asah, silih asih, silih asuh. Kebersamaan dan silaturahmi yang dibangun, membuat iklim kerja menjadi sinergis dan kondusif.

 

Pada awal kepemimpinannya (2011-2015), Prof Rosihon mampu melakukan adaptasi, evaluasi, dan menggali berbagai problematik fakultas. Dengan langkah pasti dia berhasil menata ulang pelayanan akademik. Melalui kebijakannya, sedikit demi sedikit problem fakultas bisa teratasi. Melihat kinerjanya empat tahun pada periode pertama, warga fakultas menganggap Prof Rosihon pantas untuk memimpin kembali. Sebab, memiliki obsesi yang kuat untuk mengembangkan Ushuluddin menjadi fakultas yang unggul dan kompetitif. Akhirnya melalui rapat senat fakultas, Prof Rosihon kembali diusung menjadi dekan yang kedua kalinya melalui proses aklamasi.

 

Pada periode kedua (2015-2019), Ushululddin sebagai fakultas yang unggul dan kompetitif lebih dipertegas. Strategi kebijakannya dilakukan melalui pendekatan pencerahan, pemberdayaan, dan pengembangan dalam rangka mengembangkan kultur akademik yang lebih kondusif.

 

Lalu meningkatkan kualitas yang berorientasi pada jaminan mutu dan inovatif dengan mengembangkan jaringan melalui pola kemitraan dan kerjasama dengan instansi lain. Tidak lupa modernisasi manajemen pendidikan dan pelayanan administrasi melalui penataan dan profesionalisasi institusi yang efektif dan efisien.

 

Ditanya tentang visi misi kepemimpinannya yang kedua, Prof Rosihon menegaskan bahwa Fakultas Ushuluddin harus menjadi pusat studi dan informasi keushuluddinan yang unggul, kompetitif dan layak bersaing. Mahasiswa diarahkan untuk menguasai ilmu-ilmu keislaman yang berorientasi pada penguasaan dan pengembangan wawasan bidang ilmu-ilmu pokok agama dengan kekhususan aqidah dan filsafat, tafsir dan hadits, perbandingan agama, dan tasawuf psikoterapi; untuk merespons berbagai perubahan sosial keagamaan di masyarakat.

 

Mereka juga harus mampu merumuskan pemikiran-pemikiran Islam baru yang memiliki tingkat relevansi dengan perubahan dan perkembangan sosial keagamaan di era modern. ”Ya mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional dalam bidang ilmu-ilmu keislaman, juga mengupayakan penerapannya untuk mewujudkan tatanan sosial dan keagamaan yang harmonis di masyarakat,” jelas kiai intelek ini. (adv/rie)

 

Sumber, Bandung Ekspres 10 September 2015