Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

DARI KENESTAAPAAN HIDUP, KINI MENJADI DOSEN
Update: Jumat, 12-FEB-2016

Dodo Widarda yang akrab dipanggil Widodo ini, lahir di sebuah desa nan eksotik di Cipancar-Sumedang, pada tanggal 9 Oktober 1970. Ayahandanya bernama Ahdiyat –seorang veteran pejuang kemerdekaaan RI, serta ibunya bernama Ummu Zahidah, seorang ahli tirakat yang seringkali menghabiskan waktunya untuk menjalankan ibadah puasa sunat.  Kehidupan yang sangat sederhana. Dari  keluarga yang sederhana ini, Widodo menempa dirinya serta juga mendapatkan tempaan dari lingkungannya, untuk siap mengarungi samodera kehidupan dengan sikap tidak neko-neko serta apa adanya. Kebiasaannya sedari kecail adalah tidur di atas sehelai tikar dengan  mempergunakan kedua tangannya sebagai bantal.

Menempuh pendidikan awal di SDN Cipancar serta selesai pada tahun 1984, kemudian masuk SMPN 3 Sumedang yang memberinya banyak kenangan serta kemudian menjadi siswa SMAN 1 Sumedang, sebuah sekolah favorit di kotanya. Pada masa-masa remaja ini, kegagalan cinta pertamanya pada seorang gadis yang dicintainya, telah mendorong dirinya untuk menyelami seluk-beluk dunia sastra. Mungkin semacam pelarian dari harapannya yang kandas di tengah jalan, tapi kemudian ia sangat menikmatinya dengan menjadi penyiar sastra untuk acara Gita Malam di Studio Radio Daerah (STURADA) Sumedang, yang dimulainya dari kelas 3 SMP sampai semester 5 di IAIN Sunan Gunung Djati Bandun g.

Setelah tamat SMAN 1 Sumedang pada tahun 1990, ia sempat luntang-lantung menjadi pengangguran selama dua tahun walaupun dengan aktivitas tetap di kotanya sebagai penyiar radio relawan dan juga aktivis teater . Pada tahun 1992, karena kerendahdirian gadis yang  dicintainya telah menjadi mahasiswi di IKIP Bandung, iapun akhirnya memutuskan untuk kuliah mengambil Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegemarannya untuk melakukan perenungan-perenungan filosofis serta memikirkan hal-hal yang pelik, ketika masuk komunitas Aqidah Filsafat memang  terasa menemukan ladang yang tepat untuk mengembangkan diri.  Bahkan Widodo sangat menikmatinya sampai ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1997.

Setelah menyelesaikan kuliah, ia pernah merasa hidup terlunta-lunta, hilang pegangan serta terjauh dari apa-apa yang dicita-citakan serta diperjuangkannya sejak masa-masa kuliah S1. Sampai akhirnya, pada tahun 2004, Dr. Rosihon Anwar, M.Ag mengajak kembali untuk bergabung mengajar di kampus, satu dunia yang telah ditinggalkannya selama bertahun-tahun. Tapi Pak Ros memberi syarat bahwa ia mesti mengambil program S2 agar bisa mengajar di IAIN. Setelah mengalami pergulatan hidup yang melelahkan pasca kuliah S1, akhirnya ia mengambil program Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia serta dengan kondisi yang pas-pasan kuliahnya itu diselesaikannya pada tahun 2006.

Kini, Widodo mengajar di Jurusan Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dosen yang juga penulis beberapa buah novel ini, kini menikmati kehidupannya bersama istri yang dicintainya, Istianah, M.Pd.I, di Blok Cemeti Cemeti Desa Kedokanbunder Wetan Kec. Kedokanbunder Indramayu. Agak telat serta baru menikah pada tahun 2014, ia kini mulai merasakan kebahagiaan hidup berumah tangga, dengan seorang istri hafidzah atau penghapal Al-Qur’an yang terasa memberikan banyak sekali keberkahan bagi kehidupannya.[]