Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Biografi KH. Hasan Maolani
Update: Jumat, 27-MEI-2016

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi, Kuningan Jawa Barat pada 1779. Ayahnya bernama Tb. Loekman. Menurut daftar silsilah yang ditulis dalam huruf Arab Pegon, berbahasa Jawa, Hasan Maolani masih keturunan ke-11 dari Sunan Gunung Jati. Hasan Maolani kecil mula-mula mendapatkan pendidikan agama Islam dari ayahnya. Setelah usianya cukup ia masuk ke pesantren mbah Padang. Di pesantren itu, ia menjadi santri kesayangan, karena kecerdasannya jauh melebihi teman-teman seusianya. Setelah itu, Hasan Maolani melanjutkan pendidikan agamanya ke pesantren Kedung Rajagaluh. Setelah dinyatakan lulus oleh gurunya, ia melanjutkan pelajaran agamanya ke pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Setelah itu ia  masuk ke beberapa pesantren di wilayah Cirebon.


Setelah dewasa, Hasan Maolani tertarik untuk memelajari tarekat (ilmu thariqat). Mula-mula ia memelajari tarekat Syatariyah. Selanjutnya memelajari  tarekat Qodiriyah. Tidak puas sampai di situ, ia memelajari tarekat Naqsabandiyah, dan tarekat-tarekat lainnya. Namun demikian, dari pencarian terhadap sejumlah ajaran tarekat tersebut, Hasan Maolani lebih tertarik dan memilih ajaran tarekat Syatariyah. Kelak, ia pun dikenal sebagai pengamal dan pengembang ajaran tarekat Syatariyah dari Lengkong Kuningan.


Setelah berguru ke beberapa pesantren, Hasan Maolani kembali ke tempat kelahirannya, Lengkong. Di sini ia menjadi penerus kepemimpinan pesantren yang telah didirikan oleh  Panembahan Dako (Syekh Moechammad Dako), seorang panatagama utusan dari kesultanan Cirebon pada akhir abad ke-18. Setelah Panembahan Dako wafat, berturut-turut pesantren Lengkong dipimpin oleh kyai Absori, kyai Simoeroeboel, dan kyai Arip. Setelah ketiganya wafat, kemudian  dilanjutkan oleh kyai Abdoel Karim dan kyai Fakih Tolab. Hasan Maolani sendiri baru memimpin pesantren Lengkong pada 1842-1874 setelah kyai Abdoel Karim dan kyai Fakih Tolab wafat.


Pada masa kepemimpinan Hasan Maolani, pesantren Lengkong  berkembang pesat. Berduyun-duyun orang datang ingin menjadi santrinya. Jumlah santri yang masuk ke pesantren Lengkong cukup banyak, hingga seluruh kobong yang jumlahnya (menurut sebagian pendapat 40, dan sebagian lainnya 50) tidak mampu menampungnya. Gaya hidup dan kepemimpinan Hasan Maolani yang sangat sederhana (zuhud), menjadi daya tarik bagi para santri untuk berguru kepadanya. Menurut Nina Herlina Lubis, sebagai bukti kesederhanaan Hasan Maolani, ia tidak pernah mempunyai pakaian lebih dari 3 stel. Bila ada lebih, maka ia akan segera memberikannya kepada yang membutuhkan. Hasan Maolani juga senang menjamu orang. Apa saja yang ia miliki, tidak pernah disembunyikan apabila ada orang yang memerlukannya. Selain itu, masih menurut Nina Herlina Lubis, Hasan Maolani tidak pernah menghina dan menggunjingkan orang lain. Ia selalu tirakat, tidak makan berlebihan, serta menghindari makanan dari jenis yang bernyawa. Para santri yang datang ke pesantren Lengkong umumnya mereka yang akan melanjutkan pendidikan agamanya ke daerah Timur Jawa. Di pesantren ini selain dipelajari ilmu-ilmu agama Islam secara umum, juga dipelajari ilmu tarekat, terutama Syatariyah. Selain para santri, mereka yang datang ke pesantren Lengkong  dengan berbagai keperluan, mulai dari yang mau berobat hingga meminta tolong untuk menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.


Kuat dugaan, adanya orang berkumpul setiap hari dalam jumlah banyak mengundang kecurigaan pemerintah Hindia Belanda yang baru saja selesai menghadapi Perang Diponegoro (1825-1830).  Selain itu, para jawara dan tokoh setempat yang semula menjadi tujuan orang-orang merasa terusik dengan kehadiran Hasan Maolani. Mereka mulai mencoba mengganggunya baik secara spiritual, maupun melalui fitnah. Hal yang disebut terakhir, diduga, semakin menambah kecurigaan pemerintah Hindia Belanda. Kecurigaan itu tertuang dalam Laporan Politik Pemerintah Kolonial tahun 1839-1849 (Exhibitum, 31 Januari 1851, no. 27)., dan dalam tulisan E. de Waal, Onze Indische Financien, 1876, sebagaimana dikutif Nina Herlina Lubis, tentang adanya gerakan Kiyai Hasan Maolani. Pada laporan itu dijelaskan, bahwa pada 1841 memang banyak orang berdatangan ke pesantren Hasan Maolani di Lengkong, tetapi tidak bermaksud untuk mengatur siasat dalam rangka menentang pemerintah Kolonial. Mereka datang hanya untuk mendapatkan ilmu dan ajaran agama. Adalah suatu hal yang wajar, bahwa Hasan Maolani sebagai guru agama dan pemimpin pesantren Lengkong mempunyai banyak santri. Ia pun sangat disegani masyarakat. Kehadiran maupun nasihat-nasihatnya, bahkan sampai pada upacara kenduri, selamatan (sedekah), dan persoalan-persoalan lain yang keluar dari mulutnya senantiasa dipatuhi oleh para pengikutnya, termasuk hal-hal yang bersifat takhayul. Dalam laporan itu disebutkan pula, bahwa pada 1842 Hasan Maolani mengangkat dirinya sebagai “pembaharu agama” di Keresidenan Cirebon dan sekitarnya, yang kemudian diikuti dengan pengiriman utusan-utusan serta pembuatan surat-surat selebaran mengenai ajaran-ajarannya. Dalam pengamatan pemerintah Hindia Belanda, surat-surat itu membawa akibat dan pengaruh besar bagi penduduk dan pemerintah.
Temuan lainnya, dalam kitab  Fathul Qorib yang merupakan karya tulisnya, kini tersimpan di rumah peninggalan Hasan Maolani di Lengkong, Hasan Maolani secara khusus membahas Bab Jihad. Disebutkan, ada dua jenis jihad, yaitu jihad akbar (berperang melawan hawa nafsu sendiri), dan jihad asghar (berperang melawan musuh). Salah satu ajaran Hasan Maolani tentang jihad yang dianggap membahayakan eksistensi pemerintah Hindia Belanda, sebagai berikut:
”Jika sekiranya para orang kafir memasuki negeri Muslimin atau mereka bertempat yang dekat letaknya dengan negeri orang Islam, maka dalam keadaan yang demikian itu hukum jihad adalah fardlu ‘ain bagi kaum Muslimin. Wajib bagi ahli negeri itu untuk menolak (menghalau) para orang kafir dengan sesuatu yang dapat dipergunakan oleh kaum Muslimin untuk menolak.”

Dalam beberapa pengajiannya, Hasan Maolani juga selalu berpesan agar membaca al-Qur’an, salawat, sodaqoh, dzikir, bersilaturahim, melaksanakan sholat dan berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunah, serta jangan melakukan hal yang dilarang oleh Syari’ah. Pesan lainnya yang juga dituliskan dalam surat-surat dari Tondano adalah agar sabar, taubat dan banyak berdo’a, membangun mesjid dan menghidupkannya, hendaklah mencari ilmu dan tawadhu dalam hidup, jangan sombong, takabur dan riya, amanah, ikhlas, jangan makan yang berlebihan, dan makanlah yang halal.
Informasi selanjutnya tentang Hasan Maolani diperoleh dari Drie Javansche Goeroe’s, disertasi yang ditulis oleh G.W.J. Drewes (1925). Diinformasikan, bahwa pada awal 1842 di bagian Timur Keresidenan Priangan beredar surat selebaran yang menurut kata orang,  berasal dari Pangsor. Di antara isi surat selebaran tersebut dinyatakan, bahwa Hasan Maolani pada suatu ketika pernah mendengar suara gaib yang bertanya: “Kyai apakah anda mau diperturutkan dengan Iblis?” Atas pertanyaan itu, lalu Kyai menjawab, “Bukankah aku menjunjung Allah dan utusannya?” Sekali lagi suara gaib berkata, bahwa jika kyai tidak ingin diperturutkan lblis, maka ada keharusan untuk melaksanakan “selamatan” (sedekah). Waktu selamatan ialah pada malam Jum’at setelah selesai shalat, atau dapat juga dilakukan pada hari Selasa, atau hari Kamis. Dalam melaksanakan upacara selamatan gunakanlah piring tembikar yang sudah tidak terpakai lagi, demikian juga sisa makanan, nasi, lauk pauk, dan lain-lainnya janganlah diambil kembali. Tentu saja laporan itu harus diperlakukan secara kritis. Sebab, ajaran-ajaran Hasan Maolani, seperti yang terdapat dalam kitab Fathul Qorib, tidak ada yang berbunyi seperti itu, meskipun memang sedekah sangat dianjurkan. Hal itu boleh dilakukan kapan saja, bukan seperti yang disebutkan dalam laporan Kolonial.


Dengan adanya surat selebaran itu, pemerintah Hindia Belanda berpendapat, bahwa telah terjadi keresahan di kalangan masyarakat pribumi yang mendapat surat-surat yang berisi ajaran dari Hasan Maolani.  Orang berduyun-duyun datang ke Lengkong untuk meminta nasihat, untuk berbagai masalah yang dihadapainya,  meminta kesembuhan dari penyakitnya.  Orang-orang yang berdatangan itu mulai dari Banten, Cianjur, Sukabumi, Sukapura (Tasikmalaya), Limbangan (Garut), hingga Banyumas, bahkan ada juga yang datang dari Ponorogo.


Selanjutnya Residen Priangan dalam surat itu memberikan saran, agar kerusuhan itu harus diselidiki di Lengkong. Penugasannya diserahkan kepada Residen Cirebon untuk diminta pendapatnya dengan mempersoalkan, apakah pengaruh Hasan Maolani mempunyai unsur yang berlawanan dengan kepentingan dan kewibawaan (policy) pemerintah?
Disebutkan, pengaruh Hasan Maolani semakin mendalam di kalangan penduduk, bahkan sampai merembet kepada para pemimpin pribumi. Hal itu dijadikan alasan oleh Residen untuk menangkap Hasan Maolani. Residen Priangan menulis surat ke Batavia yang menyatakan, bahwa rakyat lebih menghargai dan patuh kepada Hasan Maolani, daripada kepada Bupati Kuningan. Residen juga melaporkan bahwa Hasan Maolani akan melawan gubernemen (pemerintah Hindia Belanda) dan ajarannya bertentangan dengan ajaran Islam. Hasan Maolani yang sederhana dengan kata-katanya yang dibuat sedemikian rupa, hingga dipandang sebagai orang yang mempunyai kekuatan luar biasa dan dilebihkan dari keistimewaan ulama lainnya, sungguh membahayakan masyarakat serta mengganggu ketenteraman, jika kepentingan kiyai tersebut mendapat angin. Pada bagian akhir suratnya, Residen Priangan menulis kata-kata: “Saya berharap bahwa Paduka Yang Mulia akan mendapat alasan, juga dengan laporan yang telah diberikan oleh para Bupati mengenai orang tersebut, untuk mengasingkan kyai Lengkong dari Pulau Jawa”.
Dalam catatan keluarga, Hasan Maolani dibawa  oleh petugas pemerintah Hindia Belanda, pada Kamis, 12 Safar 1257 H./1837 M., waktu ‘asar. Dikatakan, bahwa Hasan Maolani akan dibawa menghadap kepada Residen Cirebon untuk dimintai keterangan. Ternyata, Hasan Maolani tidak pernah kembali. Ia langsung ditahan di Cirebon. Setelah berada dalam tahanan di Cirebon, para murid, santri, masyarakat datang berduyun-duyun tiap hari menjenguk Hasan Maolani. Hal itu membuat pemerintah Hindia Belanda kewalahan. Oleh karena itu, diputuskanlah untuk memindahkan Hasan Maolani ke Batavia. Di Batavia, Hasan Maolani tetap saja mendapat kunjungan para murid dan santrinya dalam jumlah yang mengkhawatirkan. Karena itu, setelah ditahan selama 9 bulan dengan mempertimbangkan seluruh laporan yang masuk, Hasan Maolani diasingkan ke Manado dengan status sebagai tahanan negara. Sebelum ke Manado, Hasan Maolani dibawa terlebih dahulu ke Ternate, dari sini kemudian dibawa ke Kaema. 100 hari kemudian dipindahkan ke Tondano. Pada 29 April 1874 tersiar kabar  Hasan Maolani wafat. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kiai Mojo, Tondano.[]

REFERENSI

Kusdiana, Ading, Jaringan Pesantren di Priangan (1800-1945), Disertasi, Bandung: Universitas Padjadjaran, 2013.

Lubis, Nina Herlina et al., Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat, Bandung: YMSI Cabang Jawa Barat kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, 2011.

-------, Riwayat Hidup K.H. Hasan Maolani, Makalah, Bandung: Tt.
Rosidi, Ajip et al. Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, Budaya termasuk Budaya  Cirebon dan Betawi, Jakarta: Pustaka Jaya, 2000.

WAWAN HERNAWAN