Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Benturan Agama dan Budaya
Update: Rabu, 3-FEB-2016

Agama serta budaya adalah suatu tema yang menarik untuk di bahas apabila untuk melihat kekinian sekarang, seiring berkembangan zaman bias terlihat agama serta budaya adalah sesuatu yang tidak bias kita pisahkan. Agama ada karena budaya serta budaya sendiri  beberapa hal bias terjadi sebab suatu tradisi agama tertentu. Kita bias lihat sendiri beberapa waktu lalu terjadinya konflik yang mengatsnamakan agama padahal kalau kita lihat secara seksama, konflik tersebut lebih kepada dorongan ego individual masing-masing pihak yang membuat konflik perseorangan melebar hinggan merenggut nyawa puluhan sampai kepada ratusan orang yang tidak bersalah.

Banyak kasus yang kita tahu, yang berkaitan langsung dengan agama yang sebenarnya adalah bentrokan budaya orang-orang tersebut, seperti halnya pembakaran tempat peribadatan yang ada di tanah Cendrawasih Papua, kalau kita lihat pembakaran atau konflik tersebut beratasnamakan agama tetapi kita lihat ulang fakor pendorong konflik tersebut bias terjadi, missal, kebudayaan atau tradisi orang-irang di bumi Cendrawasih memang gemar untuk berperang bahkan konflik peperangan antar suku di sana sudah menjadi hal biasa untuk di nikmati ataupun di lihat  jadi tidak mengherankan apabila ada beberapa kelompok yang apabila konflik terjadi di sana, mereka terlihat mengatasnamakan kepercayaan atau agamanya, padahal, kalau kita lihat lagi tradisi atau budayanya orang sana  memang seperti itu yang sudah di wariskan  para leluhurnya.

Agama juga terkadang bentrok dengan kebudayaan dengan alasan budaya adalah sesuatu hal yang sudah di wariskan sejak dahulu kala oleh para leluhurnya sedangkan agama hanya beberapa orang yang mengatasnamakan dirinya di berikan tugas oleh Pencipta-Nya untuk memberikan ketentraman bagi kelompok sesuai dengan zamannya pada waktu itu. Anggapan ini tidak sepatutnya salah, tetapi hanya karena pola berpikir para orang-orang yang demikian lebih menekankan kepada sesuatu yang nampak dan sesuai dengan alur kesejarahan tanpa melihat nilai-nilai akibat yang di timbulkan akan kehadiran agama.

Kalau kita lihat misal, Islam datang selain untuk menyempurnakan agama ataupun beberapa wahyu dari Tuhan yang sebelumnya sudah pernah di berikan juga untuk mengeluarkan ataupun membebaskan orang-orang dari kungkungan kebudayaan yang marak ataupun negative pada masa itu karena kita tahu peradaban bangsa arab sebelum datangnya Islam seperti apa perbudakan yang sangat tidak berperti kemanusiaan, pembunuhan, perzinahan, sampai penguburan hidup-hidup seorang manusia menjadi suautu budaya tersendiri bangsa arab pada waktu itu , hal ini di pertegas dalam Quran Surah An-Nur: 33, “Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka , jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu . Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang sesudah mereka dipaksa itu.” (QS. An-nur : 33 ).

Maka dari itu kita lihat budaya bisa di bebaskan oleh agama tetapi sebagai tanda kutip yang di bebaskan adalah budaya-budaya yang memang membuat seseorang tidak memiliki kesempatan untuk hidup atau bisa di perjelas lagi bahwa yang di hapuskan adalah budaya-budaya yang memang berdampak negative untuk kita sebagai umat manusia.

Dan perlu kita lihat lebih jauh lagi persoalan budaya yang di hapuskan oleh agama sehingga terjadinya bentrokan antar budaya dengan agama, perlu kita tahu bahwa apa yang kita lihat, pakai, serta dermakan adalah produk dari budaya, tradisi-tradisi agamapun kebanyakan adalah produk dari akulturasi budaya dengan agama, misal saja Islam yang ada di Nusantara atau Indonesia. Sarung, Peci/Songkok, Sajadah, Kerudung/Jilbab kita tidak tahu bahwa  ternyata semua itu terjadi dan ada karena budaya jadi sangat tidak relevan apabila mengatakan bahwa agama hadir untuk membuat budaya hilang, sekali lagi saya mengatakan tidak relevan apabila mengatakan seperti itu.

Kita lihat saja Indonesia yang memiliki kurang lebih 138 bahasa berbeda, ratusan suku berbeda, ribuan tradisi yang berbeda, ribuan budaya yang berbeda belum lagi ratusan juta umat Muslim tanpa melihat perbedaannya mampu melebur satu sama lain tanpa melihat tradisi dan budayanya sehingga Islam datang ke dunia terkhusus ke Bumi Pertiwi kita Indonesia memang sebagai “Rahmatan lil alaaminn”. Jadi sebelum memberikan kita-kiat supaya kita tidak masuk dalam fenomena konflik budaya dan agama maka, STOP MENGATAKAN BUDAYA DAN AGAMA HARUS DIPISAHKAN. DON’T DO IT !!!

Di bawah ini ada beberapa kiat-kiat untuk menghndari konflik budaya dan agama (tambahan dalam buku Revolusi Mental Prof.Dr. Gunawan Suryadiningat dan Ibu Ari Wulandari) sebagai berikut:

  • Harus tidak mengatasnamakan ego-Individual, karena konflik biasanya terjadi karena ego individual seseorang kuat yang mempengaruhi suatu kelompok untuk menyerang kelompok lain.
  • Menerima pluralitas dan bersikap inklusif terhadap semua aspke kehidupan jadi jangan membenarkan pemahaman kelompok lain tanpa menelisik sedalam-dalamnya.
  • Jangan membedakan Budaya dan Agama atau tidak menaruh budaya dan agama di tempat terpisah kenapa seperti itu kita bisa lihat bahwa tradisi-tradisi Islam Nusantara saja yang sebelumnya jauh dari keIslaman berkat para ulama-ulama terdahulu, tradisi-tradisi yang berbau kesesatan di campur sedemikian rupa dengan bumbu keIslaman tanpa mencederai tradisi yang sudah ada.
  • Terkadang konflik yang mengatasnamakan budaya dan agama itu terjadi akibat kurang pahamnya seseorang tentang pengetahuannya pada aspek budaya dan agama sendiri jadi, untuk mencegah agar tidak timbulnya hal-hal yang tidak diingikan maka bekali dulu diri kita dengan pengetahuan budaya dan agama yang memang maksimal untuk mencegah hal yang tidak di inginkan terjadi.

Penulis: Asrizal A.Upe Jurusan Tasawuf Psikoterapi