Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Analisis Historiografi Tambo Minangkabau 2013
Update: Jumat, 26-APR-2013

Abstrak : Tambo Minangkabau karya Ahmad Dt. Batuah dan A. Dt. Madjoindo adalah suatu karya sastra yang menceritakan sejarah (asal-usul) suku bangsa, asal-usul negeri serta adat-istiadatnya, yaitu Minangkabau. Karya sastra sejarah ini dapat disebut historiografi tradisional, yaitu: penulisan sejarah suatu negeri berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat secara turun-temurun yang mencakup unsur sastra, mitologi, dan sejarah. Tambo Minangkabau tergolong kelompok karya sastra yang penting dan jumlahnya banyak,  baik dalam karya sastra Indonesia lama (Melayu) maupun dalam karya sastra Nusantara (daerah). Dalam sastra Melayu banyak dijumpai karya sastra sejarah seperti ini, misalnya, Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, Hikayat Banjar, Silsilah Kutai, atau Tuhfat an-Nafis. Tambo Minangkabau sendiri ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa.

Key words : Naskah, Hikayat, Sejarah, Daerah

A.  Pendahuluan

Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf Latin.[1] Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil ditemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di Museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden sebanyak 3 naskah, di  perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.[2]

Masyarakat mengenal Tambo Minangkabau melalui saduran dan tinjauan yang bersifat sampingan terhadap isi Tambo tersebut. Sedikitnya terdapat delapan saduran cerita menyangkut Tambo Minangkabau, yaitu:[3]

(1) Curai Paparan Adat Lembaga Alam Minangkabau (Dirajo, 1919 dan 1984),

(2) Mustiko Adat Alam Minangkabau (Dirajo, 1953 dan 1979),

(3) Tambo Minangkabau (Batuah, 1956),

(4) Tambo Alam Minangkabau (Sango, 1959),

(5) Tambo dan Silsilah Adat Alam Minangkabau (Baca, 1966),

(6) Tambo Pagaruyung (Basri, 1970),

(7) Tambo Alam (Basri, 1970b), dan

(8) Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah (Mahmoed, 1978).

Lebih lanjut disebutkan, tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir pada tiap-tiap negeri di Minangkabau. Tambo biasanya sangat dimuliakan, bahkan dikeramatkan.  Sehingga orang yang memiliki dan menyimpannya  dimuliakan masyarakat. Sementara isi Tambo hanya diketahui pemilik dan para kerabat dekat. Tambo pun banyak pantangannya, seperti tidak boleh dibaca di sembarang waktu dan harus disimpan di tempat yang baik.[4]

B.     Minangkabau Dalam Lintasan Sejarah

Nenek moyang orang Minangkabau, sama dengan nenek moyang orang Indonesia lainnya, berasal dari daratan Asia. Mereka mengarungi Laut China Selatan, menyebrang Selat Malaka, dan kemudian sampai dan menetap di wilayah Sumatera Barat.[5]  Daerah Sumatera Barat sendiri pernah menjadi daerah penyebaran agama Budha, yaitu, pada masa pemerintahan Raja Adityawarman di Pagaruyung.[6] Lama setelah Adityawarman mangkat, Sumatera Barat menjalin hubungan terutama dengan Aceh yang sudah lebih dahulu memeluk Islam. Islam kemudian mewarnai budaya Sumatera Barat secara kental. Penyebaran Islam di Sumatera Barat mendapatkan akselerasinya dengan hadirnya Syekh Burhanuddin, orang Sintuk Pariaman.[7]

 Sejak tahun 1595, armada dagang Belanda sudah mulai terlihat di Pantai Barat Sumatera Barat. Hegemoni politik Belanda di Sumatera Barat dimulai tahun 1666 ketika dilakukan pembangunan loji dagang mereka di Pulau Cingkuk dan diiringi pembangunan benteng di Padang. Seiring dengan semakin kukuhnya kekuasaan Belanda, pengaruh Aceh dan bangsa Eropa selain Belanda semakin berkurang.[8]

Kekuasaan Belanda di Sumatera Barat sempat terputus pada bulan November 1795, digantikan oleh pemerintah Inggris. Pada masa penjajahan Inggris adalah era dimulainya gerakan Paderi. Namun, sebagai realisasi dari konvensi London tahun 1814, Inggris harus menyerahkan Sumatera Barat kembali ke tangan Belanda. Setelah itu, Belanda berkuasa untuk kedua kalinya sampai balatentara Jepang milai menduduki wilayah tersebut tahun 1942.[9] Belanda yang berniat menguasai Sumatera Barat secara utuh merasa gerah dengan pengaruh gerakan Paderi ini. Akhirnya pada tahun 1821, Belanda mulai melakukan konfrontasi dengan kelompok agama tersebut. Pertentangan Belanda dengan kaum Paderi akhirnya meluas ke seluruh rakyat Sumatera Barat. Pada masa berikutnya muncul seorang pemimpin bernama Tuanku Imam Bonjol. Dengan dibantu oleh seluruh masyarakat, Tuanku Imam Bonjol berupaya untuk mempertahankan wilayah Bonjol sebagai benteng terakhir Paderi. Namun akhirnya pada tahun 1837, Belanda dapat mengalahkan perlawanan rakyat tersebut dan berhasil menduduki nagari Bonjol. Imam Bonjol akhirnya ditawan dan diasingkan ke Lotak (Manado).[10]

Dapat ditumpasnya berbagai perlawanan lokal tidak berarti terhentinya perjuangan menentang kolonialisme. Rakyat Kamang dan Manggopoh melakukan perlawanan, karena pajak yang tinggi dan kekangan yang diterapkan pemerintah Kolonial. Pada masa selanjutnya, gerakan kebangsaan muncul menggantikan perlawanan lokal. Serikat Islam, Jong Sumatranen Bond, Partai Nasional Indonesia, dan Muhammadiyah melakukan perlawanan terhadap pemerintah Kolonial.[11]

 Pada tanggal 17 Maret 1942, Jepang mulai menduduki Bukittinggi dan Padang. Akhirnya Jepang menguasai wilayah Sumatera Barat sebagai bagian dari penguasaannya atas wilayah Indonesia. Jepang berkuasa di Sumatera Barat sampai kekalahan yang dideritanya dalam Perang Pasifik yang kemudian direspons oleh para pejuang kemerdekaan di Jakarta dengan proklamasi kemerdekaan.[12]   Pada tanggal 13 Oktober 1945, sekutu mendarat di Teluk Bayur. Seperti di daerah-daerah lain, NICA ternyata membonceng kedatangan Sekutu dengan maksud yang jelas, yaitu, ingin berkuasa lagi di Indonesia, ternasuk di Sumatera Barat. Perlawanan pun pecah diseluruh wilayah Sumatera Barat.  Pada tahun 1948, provinsi Sumatera pecah menjadi tiga provinsi, yaitu, Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Dalam struktur baru tersebut, Sumatera Barat, bersama Riau dan Jambi, menjadi bagian dari Sumatera Tengah. Bukittinggi ditetapkan sebagai ibukota provinsi Sumatera Tengah dan Mr. M. Nasrun ditetapkan sebagai Gubernurnya.[13]

Pada tanggal 15 Februari 1958, di Padang lahir gerakan separatis bernama Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Untuk menghadapi pemberontakan tersebut, pemerintah pusat melancarkan operasi 17 Agustus yang dipimpin Kolonel Achmad Yani. Sebelum akhir tahun, seluruh wilayah Sumatera Barat telah terbebas dari pengaruh gerakan pemberontakan tersebut. Setelah keadaan membaik, pemerintah menetapkan Sumatera Barat sebagai provinsi. Pembentukan provinsi tersebut berlandaskan UU No. 61 tahun 1958.[14]

C.    Gambaran Umum Isi Tambo

            Tambo Alam Minangkabau mengetengahkan 8 Bab. Secara berurutan, yaitu: Asal-usul Minangkabau, Agama Islam berkembang di Minangkabau, Perang Kolonial, Minangkabau dengan Adatnya, Undang-undang Pemelihara Alam Minangkabau, Rumah Gadang di Minangkabau, Adat Yang Takluk Kepada Orang Yang Berlaki Bini, dan Tjuraian Negeri-negeri Tua di Minangkabau.

Dengan mengikuti bentuk-bentuk historiografi tradisional, Tambo Alam Minangkabau memenuhi keempat kategori historiografi tradisional, yang meliputi: bentuk mitos, genealogis, kronik, dan annals.

c.1 Bentuk Mitos

Bentuk Mitos ditemukan ketika membahas asal pusaka turun kepada kemenakan, sebagai beikut:

“Beberapa lama Sutan Balun di Tiku-Pariaman, maka pada suatu masa adalah Tuanku Radjo Tuo menjuruh membuatkan sebuah perahu besar. Setelah selesai perahu itu, maka hendak diturunkan kekuala. Maka turunlah semua isi negeri bersama-sama menghela perahu itu, tetapi tiada terhela.

      Maka bertanja Tuanku Radjo Tuo: “Ada Djugakah orang dalam negeri jang masih tinggal?

      Jawab Sjahbandar: “ Ada, tuanku! Seorang anak muda jang tinggal dirumah tuanku.”

      Titah Tuanku Radjo Tuo: “Panggilah dia!

      Maka dipanggil oranglah Sutan Balun, dan iapun datanglah ketempat perahu itu. Maka ditjobalah lagi menghela perahu itu bersama-sama dengan Sutan Balun, itupun tiada juga terhela.

      Maka ditanja orang kepada Sutan Balun: “Adakah akan terhela perahu itu atau tidak?”

      Djawan Sutan Balun: “Kalau hamba sendiri menghelanya, mungkin terhela”. Maka diminta oranglah dia menghela perahu it.

      Sutan Balun membakar kemenjan, diasapnya perahu itu berkeliling, lalu dicobanja menghelanya seorang diri, tetapi tiada djuga terhela. Maka berkata Sutan Balun kepada Tuanku Radjo Tua: “ Adapun perahu ini tiada mau turun kekuala, kalau tidak bergalang dengan tubuh manusia, tetapi jang akan djati galangnja hanja anak atau kemenakan. Djikalau tiada demikian, tiadalah perahu ini akan mau diturunkan kekuala”.

      Maka dipanggil oleh Tuanku Radjo Tuo anak Baginda, tiadalah ia mau, karena ditegah oleh mamaknja jang laki-laki.

      Kemudian dipanggil kemanakan baginda, iapun datanglah dan suka akan djadi galang perahu itu. (Kata setengah kisah, kemanakan radja jang djadi galang perahu itu, ialah seorang perempuan muda yang sedang hamil). Dibawanja alat pakaiannja dengan kasur bantalja akan tempat ia berbaring, sebab pada sangkanja tentulah ia akan mati. Kemudian tidurlah ia diatas kasur dihaluan perahu itu. Maka diletjut perahu itu oleh Sutan Balun dengan lidi tudjuh helai, dan melompatlah perahu itu terdjun kekuala. Akan batang tubuh kemanakan radja itudjangankan tertindih kenapun tidak olehja.

      Maka berkatalah Tjeti Bilang Pandai jang sebagai menteri oleh Tuanku Radjo Tuo, katanja:

      Adapun sedjak dahulu sampai sekarang, pusaka harta benda, sawah-ladang, emas-perak turun kepada anak semuanja. Maka sedjak sekarang ini, tiadalah harus pusaka turun kepada anak lagi, melainkan kepada kemanakan djuga turunnja.”[15]

 

c.2 Bentuk Genealogis

Asal-usul alam Minangkabau dihuni manusia belum jelas. Namun suatu kisah menceritakan sebagai berikut:

“Pada zaman dahulu, benua Afrika dan Amerika  bersatu, namanya benua Atlantik. Pada zaman Nabi Nuh a.s., terjadi letusan gunung di daerah itu. Karena itu, terjadilah gelombang pasang dan gempa besar yang disebut “Kiamat Nabi Nuh”. Pada waktu itu, seluruh penghuni bumi mati, kecuali pengikut setia Nuh as., dan binatang-binatang yang ikut naik bersama bahtera Nuh. Mereka terdampar di puncak gunung Ararat di tanah Syam. Setelah air surut, mereka turun gunung dan membuat tempat tinggal di sana.[16]

Setelah beberapa lama mereka berkembang biak di sana. Mereka pun secara rombongan-rombongan berpencar mencari kehidupan dan tanah baru. Ada yang ke India, China, dan terus ke Jepang. Sementara sebagiannya, pergi ke Asia tengah, Eropa, ke Kaukasi dan ada yang sampai ke Indonesia.[17]

Pada ringkasan genealogi yang lain diceritakan ada tiga orang anak raja dari tanah Hindu yang keluar dari negerinya mencari tanah jajahan. Anak pertama, bernama Seri Maharaja Depang. Ia pergi dengan beberapa orang pengiringnya  menuju ke sebelah Timur, yakni ke benua China. Kemudian menyebrang ke tanah Jepang. Anak kedua, bernama Seri Maharaja Alif beserta pengiringnya  menuju ke sebelah barat, ke benua Rum. Dan anak ketiga, bernama Seri Maharaja Diraja (ta) berlayar dengan menggunakan perahu menuju ke arah matahari hidup dengan ditemani beberapa pengiringnya serta lima orang istrinya.[18]

Di antara pengiringnya terdapat beberapa Tjeti Bilang Pandai.  Gelar ini semula hanya bagi orang Hindu, namun pada perkembangannya dipakai juga bagi orang asli Minangkabau. Sementara isterinya digelari anak raja, harimau campo, kambing hutan, kucing siam dan anjing yang mualim. Setelah lama berlayar, sampailah di pulau Andalas, pulau Perca. Perahunya tersangkut batu karang dan rusak.

Pada waktu itu belum ada jalan. Oleh karena itu, rombongan Seri Maharaja Diraja (ta) masuk ke hutan, mendaki bukit menuruni lembah. Pada suatu hari mereka melihat cahaya api di pinggang gunung berapi. Lalu mereka menuju ke sana. Mereka pun berdamai dengan masyarakat setempat. Namun karena pengetahuan rombongan Seri Maharaja Diraja (ta) lebih pandai dibanding pengetahuan masyarakat setempat, akhirnya rombongan Seri Maharaja Diraja (ta) memimpin masyarakat tersebut. Menurut cerita, bekas-bekas dusun itu, tempatnya di Periangan; tanahnya datar, dilingkupi aur duri, dan ada kuburan yang diyakini sebagai kuburan nenek moyang orang Minangkabau.[19]

 

c.3 Bentuk Kronik

Bentuk kronik ditemukan ketika membahas Alam Minangkabau Dibahagi Dua Kelarasan:

“… beberapa lama kemudian, semasa keradjaan Modjopahit, adalah seorang menteri bernama Aditia Warman, dititahkan radja Modjopahit berlajar ke Palembang dan ke Djambi akan mengepalai negeri-negeri itu sambil akan mentjari djadjahan taklunja djuga. Maka ia sampai ke Alam Minangkabau. Kedatangannja itu dikiaskan dalam tambo alam begini: “Lalulah enggang dari laut ke gunung berapi sendirinja hendak mentjahari makanannja. Maka ditembak oleh Datuk nan Batigo, bedil sedetak tiga dentamnja.Terkedjut binatang dalam rimba, tertjebur ikan dalam laut, mengias kuda semberani, berring bunji gentanja, kilat gemilat rupa pelananja. Membebek kambing dalam rimba, menjalak andjing dalam koto, mendengus bunji harimau, hiruklah orang banjak dan binatang jang diam keliling gunung berapi itu.

Maka segala datuk-datuk dan orang besar-besar dalam negeri Periangan-Padang Pandjang itu heranlah. Belum dilihat telah dilihat, belum didengar telah didengar, selama negeri bertunggui, akan rupa enggang itu. Maka djatuh telurnja kedalam negeri itu. Berkatalah setengahnja mereka jang diluar negeri itu: “Adapun telur itupun batinja belum lahir; kuda sembarani akan turun kenegeri Periangan Padang pandjang, kepada rumah Datuk Suri Diredjo. Ialah berpelana emas sendirinya, mengirit dia anak Dewata jang diam diatas gunung berapi. Sebab itulah maka kita tahu akan kuda semberani. Alam telah sudah berkembang, negeri telah sudah berisi manusia tiap-tiap koto”. … Adapun Aditia Warman itu dari Djambi mudiklah ke Batang Hari. lalu melangkah kebatang Umbilin dan mudik sampai Muko-muko di tepi Danau Singkarak, sebelah ke Batu Beragung. Di Batu Beragung inilah mulanja Aditia Warman mendjalankan niatnja, supaja ia mendjadi radja dalam Alam di Luhak nan Tigo.

Di batu Beragung itu ada batu bersurat tulisan hindu, di situ tertulis tahun 1268 tahun Djawa dan di Batu Bersurat di Pagar Rujung tertulis tahun 1278 tahun Djawa, djadinja tahun 1256 tahun Masehi.[20] Sejak saat itu pemerintahan terpecah menjadi dua: Laras Koto Piliang (melahirkan raja-raja Pagaruyung) dan Pemerintahan Bodi Tjaniago (pemerintahan bukan berasal dari terah raja).

 

c.4 Bentuk Annals

Sementara bentuk annals ditemukan dalam pembahasan mengenai Agama Islam berkembang di Minangkabau dan Perang Kolonial. Pembahasan pada dua bab ini, peristiwa sudah ditempatkan para urutan waktu yang jelas dan tidak ditemukan cerita tentang dewa-dewa yang berperan dalam kehidupan manusia. Pada kedua bab ini, persepsi dan interpretasi penulis sudah tampak. Contohnya;

“Pada tahun 1803 adalah tiga orang Minangkabau pergi naik hadji ke Makkah, jaitu seorang dari Pandan Sikat, seorang dari Sumanik (Tanah Datar), seorang dari Piobang, Limo Puluh Koto. Pada waktu itu adalah negeri Makkah sedang dalam perintah kaum Wahabi jang amat keras perintahnja. Dilarangnja orang merokok, makan sirih, berpakaian jang indah-indah dan disuruhnja radjin sembahjang. Siapa jang melanggar perintah itu dapat hukuman jang berat. Hal itu tiada menjenangkan hati anak negeri dan keamanan djadi terganggu. Karena itu Sultan Turki memerintahkan radja muda Mesir memerangi kaum Wahabi itu, hingga dalam tahun 1818 kekuasaan kaum Wahabi lenjaplah dari Makkah[21]

 

Contoh lainnya:

 

“Pada tahun 1822 sampai 1824 Kolonel Raaff mengalahkan Tanah Datar. Tetapi di Lintau ia mendapat perlawanan jang keras, hingga banjak serdadu Belanda jang binasa, begitu pula di Luhak Agam. Dalam pada itupun kekuasaan Orang Putih (‘ulama-‘ulama) bertambah kembang pula di Bondjol samapai ke Rao da ketanah Mandahiling.”[22]

 

 

D.  Analisis Historiografi Tambo Minangkabau

Prasasti yang dalam bahasa Minangkabau disebut batu bersurat ditemukan di Batu Beragung dan Pagar Ruyung. Batu bersurat di Batu Beragung ditulis pada1286 Saka dan batu bersurat Pagar Ruyung tertulis 1278 Saka (1356 M.).[23] Batu bersurat merupakan bentuk historiografi paling awal[24] bagi masyarakat Minangkabau.

Bentuk historiografi lainnya yang dihasilkan masyarakat Minangkabau adalah tambo. Di dalamnya, berbentuk prosa sejarah yang di sana sini disisipkan  pantun ibarat,[25] pepatah adat,[26] petitih,[27] hadis Melayu,[28] dan gurindam adat.[29] Selain itu, sebagaimana historiografi tradisional umumnya, tambo Minangkabau mengetengahkan  mitos asal pusaka turun kepada kemenakan,[30] genealogis masyarakat (asal-usul  manusia Minangkabau),[31] kronik Alam Minangkabau yang dibagi ke dalam dua kelarasan,[32] dan annals mengenai Agama Islam berkembang di Minangkabau[33] dan perang Kolonial.[34]

Hingga saat ini, naskah Tambo Minangkabau yang berhasil ditemukan cukup banyak, yaitu, berjumlah 47 naskah. Sehingga, kuat dugaan, tambo merupakan teks kanon bangsa Minangkabau,[35] dan kitab bagi orang Minangkabau. Dari sinilah teks orang Minangkabau dibangun, diyakini, dan dipercayai. Pada bagian akhir dari teks Tambo, biasanya bukan hanya persoalan  penggugatan yang ditawarkan, tetapi berisi teks asal usul nenek moyang bangsa Minangkabau. Bagaimana teks jati diri itu dibuat, bahwa kedudukan atau derajat bangsa Minangkabau sama derajatnya dengan bangsa China dan Jepang. Sebuah grand teks yang luar biasa dalam gambaran makro, bahwa bangsa Minangkabau merupakan bangsa yang besar di dunia.[36]

Selain berbentuk tambo, bentuk historiografi lainnya yang ada di Minangkabau adalah hasil penelusuran dan inventarisasi naskah yang dilakukan dilakukan Pramono[37] di tiga wilayah, yang meliputi: Sumatera Barat (minus Mentawai), Riau dan Kepulauan Riau. Dalam penelusurannya, Pramono berhasil ditemukan 173 naskah. Dari jumlah tersebut, 151 naskah ditemukan di Sumatera Barat. Lebih jauh Pramono menyebutkan, semua naskah yang ditemukan beralaskan kertas dan ditulis dengan Aksara Jawi dan Arab. Di dunia Melayu, tidak diketahui kapan pertama kali penggunaan aksara Jawi. Akan tetapi, diduga aksara ini tercipta dan digunakan setelah terjadi pertemuan dunia Melayu dengan agama Islam.[38] Paling tidak aksara Jawi sudah dipergunakan pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 seiring Raja Melaka—Parameswara— bergelar Megat Iskandar Syah memeluk Islam. Setelah itu, kesusatraan Melayu-Islam berkembang pesat. Kesusastraan Melayu-Islam itu, kemudian, diterjemahkan lagi ke dalam berbagai bahasa di Nusantara. Sejak itu pula dunia Melayu selalu disandingkan dengan Islam sehingga yang disebut Melayu apabila memiliki tiga ciri: berbahasa Melayu, berbudaya Melayu, dan beragama Islam.[39]

Bagaimana tradisi historiografi berkembang di Minangkabau? Paling tidak, terdapat dua tempat yang dimungkinkan menjadi tempat penulisan naskah. Pertama, lingkungan Surau (orang putih). Contohnya: Syair Nasuha: Sebuah Kajian Filologis, berbahasa Melayu dengan huruf Arab Melayu dan ditulis tahun 1854 dan 1881.[40] Contoh lainnya, Basimalin, ditemukan di desa Tarantang Kecamatan Harau, Sumatera Barat menggunakan bahasa Minangkabau dengan huruf Arab-Melayu, tanpa tahun.[41] Kedua, lingkungan pemerintahan setempat atau para tetua adat. Contoh: Petatah Petitih Adat Minangkabau, karya M.gr. B.M tahun 1903, berbahasa Minangkabau dengan tulisan Latin dan Arab Melayu, ditemukan di Solok[42]; Kaba Cindua Mato, karya Malim Sidi tahun 1850-1867 berbahasa Minangkabau, tulisan Arab-Melayu dan Latin.[43]

 

E.  Penutup

Hingga di sini dapat dipahami sebagai berikut: Pertama, tambo biasanya ditulis di lingkungan pemerintahan setempat atau para tetua adat. Isi tambo biasanya meliputi: Asal-usul Minangkabau, Agama Islam berkembang di Minangkabau, Perang Kolonial, Minangkabau dengan Adatnya, Undang-undang Pemelihara Alam Minangkabau, Rumah Gadang di Minangkabau, Adat Yang Takluk Kepada Orang Yang Berlaki Bini, dan Tjuraian Negeri-negeri Tua di Minangkabau. Kedua, penulisan tambo dimaksudkan untuk menyusun sejarah daerah yang dalam kaca mata sejarah modern dapat digolongkan ke dalam historiografi tradisional. Ketiga, penulisan tambo dimaksudkan: (a) untuk memperjelas dan mempertegas identitas para penguasa/tetua adat  dan memperkuat ikatan kekeluargaan di antara mereka, (b) untuk memperjelas dan mempertegas status dan kedudukan mereka sebagai penguasa setempat. Keempat, selain naskah tambo Minangkabau banyak pula ditemukan historiografi lainnya dalam naskah-naskah yang bukan hanya terdapat di Indonesia, tetapi juga banyak ditemukan di perpustakaan Belanda.

DAFTAR SUMBER

 

A.    Buku

Batuah & Madjoindo. 1956.

Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Edi S. Ekadjati (ed.). 1999.

Direktori Edisi Naskah Nusantara, Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara-Obor Indonesia.

 

Mahmud Yunus. 1993. 

Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Bidakarya Agung.

 

Nina Herlina. 2009.

Historiografi Indonesia dan Permasalahannya. Bandung: Satya Historika.

 

 

B.     Web. Site

Anonimous, 2010.

          http://sejarahbangsaindonesia.co.cc/1_4_Sejarah-Sumatera-Barat.html. Diakses tanggal 30 Oktober 2010.

 

Edwar Djamaris. 2010. 

“Tambo Minangkabau Suntingan Teks Disertai Analisis Struktur” dalam http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/detail.jsp?id=96268&lokasi=lokal. Diakses tanggal 30 Oktober 2010.

 

Fadlillah. 2010. “Dekonstruksi Jati Diri Bangsa Minangkabau” dalam http://sejarahbangsaindonesia.-co.cc/1_4_Sejarah-Sumatera-Barat.html. Diakses,  30 Oktober 2010).

 

Pramono. 2010.“Skriptorium dan Naskah-naskah Melayu di sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau”, dalam  http://istayn.staff.uns.ac.id/files/2010/09/ko-dikologi-dan-kritik-teks.pdf.Diakses tanggal 30 Oktober 2010.

 

[1] Batuah & Madjoindo, Tambo Minangkabau, Jakarta: Balai Pustaka (1956: 7).

[2] Edwar Djamaris, “Tambo Minangkabau Suntingan Teks Disertai Analisis Struktur” dalam http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/detail.jsp?id=96268&lokasi=lokal. Diakses tanggal 30 Oktober 2010.

[3] Ibid.

[4] Batuah & Madjoindo, op. cit., hlm. 7.

[5]Dari http://sejarahbangsaindonesia.co.cc/1_4_Sejarah-Sumatera-Barat.html. Diakses tanggal 30 Oktober 2010.

[6] Batuah & Madjoindo, op. cit., hlm. 25-6.

[7] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Bidakarya Agung (1993: 18).

[8]Dari http://sejarahbangsaindonesia.co.cc/1_4_Sejarah-Sumatera-Barat.html. Diakses 30 Oktober 2010.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13]Dari http://www.sumbarprov.go.id/. Diakses tanggal 30 Oktober 2010.

[14] Ibid.

[15]Batuah & Madjoindo, op. cit., hlm. 22-23.

[16]Ibid., hlm.  11.

[17]Ibid.

[18]Ibid., hlm. 13-14.

[19]Ibid., hlm. 14.

[20]Ibid., hlm. 25-26.

[21]Ibid., hlm. 27. 

[22]Ibid., hlm. 58.

[23] Batuah & Madjoindo, op. cit., hlm. 26.

[24] Nina Herlina, Historiografi Indonesia dan Permasalahannya, Bandung: Satya Historika (2009: 29-30).

[25] Batuah & Madjoindo, loc. cit.

[26]Ibid., hlm. 34

[27]Ibid., hlm. 76.

[28]Ibid., hlm. 97.

[29]Ibid., hlm. 101-3.

[30] “Beberapa lama Sutan Balun di Tiku-Pariaman, maka pada suatu masa adalah Tuanku Radjo Tuo menjuruh membuatkan sebuah perahu besar. Setelah selesai perahu itu, maka hendak diturunkan kekuala. Maka turunlah semua isi negeri bersama-sama menghela perahu itu, tetapi tiada terhela.

Maka bertanja Tuanku Radjo Tuo: “Ada Djugakah orang dalam negeri jang masih tinggal?

Jawab Sjahbandar: “ Ada, tuanku! Seorang anak muda jang tinggal dirumah tuanku.”

Titah Tuanku Radjo Tuo: “Panggilah dia!

Maka dipanggil oranglah Sutan Balun, dan iapun datanglah ketempat perahu itu. Maka ditjobalah lagi menghela perahu itu bersama-sama dengan Sutan Balun, itupun tiada juga terhela.

Maka ditanja orang kepada Sutan Balun: “Adakah akan terhela perahu itu atau tidak?”

Djawan Sutan Balun: “Kalau hamba sendiri menghelanya, mungkin terhela”. Maka diminta oranglah dia menghela perahu itu.

Sutan Balun membakar kemenjan, diasapnya perahu itu berkeliling, lalu dicobanja menghelanya seorang diri, tetapi tiada djuga terhela. Maka berkata Sutan Balun kepada Tuanku Radjo Tua: “ Adapun perahu ini tiada mau turun kekuala, kalau tidak bergalang dengan tubuh manusia, tetapi jang akan djati galangnja hanja anak atau kemenakan. Djikalau tiada demikian, tiadalah perahu ini akan mau diturunkan kekuala”.

Maka dipanggil oleh Tuanku Radjo Tuo anak Baginda, tiadalah ia mau, karena ditegah oleh mamaknja jang laki-laki.

Kemudian dipanggil kemanakan baginda, iapun datanglah dan suka akan djadi galang perahu itu. (Kata setengah kisah, kemanakan radja jang djadi galang perahu itu, ialah seorang perempuan muda yang sedang hamil). Dibawanja alat pakaiannja dengan kasur bantalja akan tempat ia berbaring, sebab pada sangkanja tentulah ia akan mati. Kemudian tidurlah ia diatas kasur dihaluan perahu itu. Maka diletjut perahu itu oleh Sutan Balun dengan lidi tudjuh helai, dan melompatlah perahu itu terdjun kekuala. Akan batang tubuh kemanakan radja itudjangankan tertindih kenapun tidak olehja.

Maka berkatalah Tjeti Bilang Pandai jang sebagai menteri oleh Tuanku Radjo Tuo, katanja:

Adapun sedjak dahulu sampai sekarang, pusaka harta benda, sawah-ladang, emas-perak turun kepada anak semuanja. Maka sedjak sekarang ini, tiadalah harus pusaka turun kepada anak lagi, melainkan kepada kemanakan djuga turunnja” (Ibid., hlm. 22-23).

[31] Pada zaman dahulu, benua Afrika dan Amerika  bersatu, namanya benua Atlantik. Pada zaman Nabi Nuh a.s., terjadi letusan gunung di daerah itu. Karena itu, terjadilah gelombang pasang dan gempa besar yang disebut “Kiamat Nabi Nuh”. Pada waktu itu, seluruh penghuni bumi mati, kecuali pengikut setia Nuh as., dan binatang-binatang yang ikut naik bersama bahtera Nuh. Mereka terdampar di puncak gunung Ararat di tanah Syam. Setelah air surut, mereka turun gunung dan membuat tempat tinggal di sana.

Setelah beberapa lama mereka berkembang biak di sana. Mereka pun secara rombongan-rombongan berpencar mencari kehidupan dan tanah baru. Ada yang ke India, China, dan terus ke Jepang. Sementara sebagiannya, pergi ke Asia tengah, Eropa, ke Kaukasi dan ada yang sampai ke Indonesia.

Pada ringkasan genealogi yang lain diceritakan ada tiga orang anak raja dari tanah Hindu yang keluar dari negerinya mencari tanah jajahan. Anak pertama, bernama Seri Maharaja Depang. Ia pergi dengan beberapa orang pengiringnya  menuju ke sebelah Timur, yakni ke benua China. Kemudian menyebrang ke tanah Jepang. Anak kedua, bernama Seri Maharaja Alif beserta pengiringnya  menuju ke sebelah barat, ke benua Rum. Dan anak ketiga, bernama Seri Maharaja Diraja (ta) berlayar dengan menggunakan perahu menuju ke arah matahari hidup dengan ditemani beberapa pengiringnya serta lima orang istrinya.

Di antara pengiringnya terdapat beberapa Tjeti Bilang Pandai.  Gelar ini semula hanya bagi orang Hindu, namun pada perkembangannya dipakai juga bagi orang asli Minangkabau. Sementara isterinya digelari anak raja, harimau campo, kambing hutan, kucing siam dan anjing yang mualim. Setelah lama berlayar, sampailah di pulau Andalas, pulau Perca. Perahunya tersangkut batu karang dan rusak.

Pada waktu itu belum ada jalan. Oleh karena itu, rombongan Seri Maharaja Diraja (ta) masuk ke hutan, mendaki bukit menuruni lembah. Pada suatu hari mereka melihat cahaya api di pinggang gunung berapi. Lalu mereka menuju ke sana. Mereka pun berdamai dengan masyarakat setempat. Namun karena pengetahuan rombongan Seri Maharaja Diraja (ta) lebih pandai dibanding pengetahuan masyarakat setempat, akhirnya rombongan Seri Maharaja Diraja (ta) memimpin masyarakat tersebut. Menurut cerita, bekas-bekas dusun itu, tempatnya di Periangan; tanahnya datar, dilingkupi aur duri, dan ada kuburan yang diyakini sebagai kuburan nenek moyang orang Minangkabau (Ibid., hlm. 11-4).

[32] “… beberapa lama kemudian, semasa keradjaan Modjopahit, adalah seorang menteri bernama Aditia Warman, dititahkan radja Modjopahit berlajar ke Palembang dan ke Djambi akan mengepalai negeri-negeri itu sambil akan mentjari djadjahan taklunja djuga. Maka ia sampai ke Alam Minangkabau. Kedatangannja itu dikiaskan dalam tambo alam begini: “Lalulah enggang dari laut ke gunung berapi sendirinja hendak mentjahari makanannja. Maka ditembak oleh Datuk nan Batigo, bedil sedetak tiga dentamnja.Terkedjut binatang dalam rimba, tertjebur ikan dalam laut, mengias kuda semberani, berring bunji gentanja, kilat gemilat rupa pelananja. Membebek kambing dalam rimba, menjalak andjing dalam koto, mendengus bunji harimau, hiruklah orang banjak dan binatang jang diam keliling gunung berapi itu.

Maka segala datuk-datuk dan orang besar-besar dalam negeri Periangan-Padang Pandjang itu heranlah. Belum dilihat telah dilihat, belum didengar telah didengar, selama negeri bertunggui, akan rupa enggang itu. Maka djatuh telurnja kedalam negeri itu. Berkatalah setengahnja mereka jang diluar negeri itu: “Adapun telur itupun batinja belum lahir; kuda sembarani akan turun kenegeri Periangan Padang pandjang, kepada rumah Datuk Suri Diredjo. Ialah berpelana emas sendirinya, mengirit dia anak Dewata jang diam diatas gunung berapi. Sebab itulah maka kita tahu akan kuda semberani. Alam telah sudah berkembang, negeri telah sudah berisi manusia tiap-tiap koto”. … Adapun Aditia Warman itu dari Djambi mudiklah ke Batang Hari. lalu melangkah kebatang Umbilin dan mudik sampai Muko-muko di tepi Danau Singkarak, sebelah ke Batu Beragung. Di Batu Beragung inilah mulanja Aditia Warman mendjalankan niatnja, supaja ia mendjadi radja dalam Alam di Luhak nan Tigo.

Di Batu Beragung itu ada batu bersurat tulisan Hindu, di situ tertulis tahun 1268 tahun Djawa dan di Batu Bersurat di Pagar Rujung tertulis tahun 1278 tahun Djawa, djadinja tahun 1256 tahun Masehi (Ibid., hlm. 25-26). Sejak saat itu pemerintahan terpecah menjadi dua: Laras Koto Piliang (melahirkan raja-raja Pagaruyung) dan Pemerintahan Bodi Tjaniago (pemerintahan bukan berasal dari terah raja) (Ibid., hlm. 25-6).

[33] Sementara bentuk annals ditemukan dalam pembahasan mengenai Agama Islam berkembang di Minangkabau dan Perang Kolonial. Pembahasan pada dua bab ini, peristiwa sudah ditempatkan para urutan waktu yang jelas dan tidak ditemukan cerita tentang dewa-dewa yang berperan dalam kehidupan manusia. Pada kedua bab ini, persepsi dan interpretasi penulis sudah tampak. Contohnya; “Pada tahun 1803 adalah tiga orang Minangkabau pergi naik hadji ke Makkah, jaitu seorang dari Pandan Sikat, seorang dari Sumanik (Tanah Datar), seorang dari Piobang, Limo Puluh Koto. Pada waktu itu adalah negeri Makkah sedang dalam perintah kaum Wahabi jang amat keras perintahnja. Dilarangnja orang merokok, makan sirih, berpakaian jang indah-indah dan disuruhnja radjin sembahjang. Siapa jang melanggar perintah itu dapat hukuman jang berat. Hal itu tiada menjenangkan hati anak negeri dan keamanan djadi terganggu. Karena itu Sultan Turki memerintahkan radja muda Mesir memerangi kaum Wahabi itu, hingga dalam tahun 1818 kekuasaan kaum Wahabi lenjaplah dari Makkah (Ibid., hlm. 47).

[34] “Pada tahun 1822 sampai 1824 Kolonel Raaff mengalahkan Tanah Datar. Tetapi di Lintau ia mendapat perlawanan jang keras, hingga banjak serdadu Belanda jang binasa, begitu pula di Luhak Agam. Dalam pada itupun kekuasaan Orang Putih (‘ulama-‘ulama) bertambah kembang pula di Bondjol samapai ke Rao dan ke tanah Mandahiling”  (Ibid., hlm. 1956: 58).

[35]Arti kata Tambo dalam kamus KBBI (1994:998) adalah; “sejarah, babad, hikayat, riwayat kuno, uraian sejarah suatu daerah yang seringkali bercampur dengan dongeng: seperti Tambo Minangkabau, Tambo Bengkulu”. Adapun dalam Kamoes Bahasa Minangkabau Bahasa Melajoe-Riau oleh M. Thaib gelar St. Pamoentjak (1935:236); “Tambo berarti hikayat, kisah, riwayat dahulu kala,  seperti dalam kalimat bahasa Minang: ‘maurah si tambo lamo (mengurai si tambo lama, atau menceritakan hal yang telah lalu zamannya)’. Tambo juga berarti Jaras, manambo berarti menjaras, seperti dalam kalimat bahasa Minang: ‘ato’ alalang satambo; daun nipah satambo, yang artinya atap lalang atau daun nipah seikat kecil”. Edwar Djamaris (1991:13), mengatakan; “Kadang-kadang Tambo disebut juga Tarambo, kata ini sama maknanya dengan kata babad dalam bahasa Jawa atau Sunda. Kata Tambo dan Babad ini diguanakan  sebagai judul cerita prosa lama yang biasa disebut sastra sejarah atau historiografi tradisional, penulisan sejarah menurut kepercayaan atau pandangan masyarakat setempat secara turun-temurun. Di dalam sastra Jawa, di samping kata Babad digunakan kata lain sevagai kata pertama judul karya sastra jenis ini yaitu sajarah, pustakaraja, serat, dan serat sarasilah”.  Adapun menurut A.A. Navis (1984:45-46); “Tambo berasal dari bahasa Sanskerta, yakni Tambay atau Tambe yang artinya bermula. Tambo merupakan salah satu warisan kebudayaan Minangkabau yang penting  (maksudnya Tambo Minangkabau –pen),. Ia merupakan kisah yang disampaikan secara lisan oleh tukang kaba  yang diucapkan oleh juru pidato (maksudnya para pemangku adat seperti para penghulu atau Datuk –pen). Orang sering membagi Tambo itu dalam dua jenis, yakni Tambo Alam, yang mengisahkan asal-asal nenek moyang serta bangunan kerajaan Minangkabau, dan Tambo Adat, yang mengisahkan adat atau sistem  dan aturan pemerintahan Minangkabau pada masa lalu” (Fadlillah, “Dekonstruksi Jati Diri Bangsa Minangkabau” dalam http://sejarahbangsaindonesia.-co.cc/1_4_Sejarah-Sumatera-Barat.html. Diakses,  30 Oktober 2010).

[36] Ibid.

[37]Pramono,“Skriptorium dan Naskah-naskah Melayu di sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau”, dalam  http://istayn.staff.uns.ac.id/files/2010/09/kodikologi-dan-kritik-teks.pdf.Diakses tanggal 30 Oktober 2010.

[38] Ibid.

[39] Ibid.

[40] Edi S. Ekadjati (ed.). Direktori Edisi Naskah Nusantara, Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara-Obor Indonesia (1999: 439).

[41] Ibid., hlm. 408.

[42] Ibid., hlm. 434.

[43] Ibid., hlm. 413.