Pojok Dekan

Memagari Pendakwah

Setelah isu sertifikasi ulama reda, kini muncul rencana penyusunan pedoman ceramah di tempat ibadah oleh Kementerian Agama RI. Sebagaimana dijelaskan menteri agama, ada empat hal yang melatarbelakangi rencana ini. Keempat hal tersebut...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

Biografi KH. Hasan Maolani

K.H. HASAN MAOLANI (1779-1874). Masyarakat setempat menyebutnya “eyang Manado,” karena di akhir hidupnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara oleh pemerintah Hindia Belanda. Hasan Maolani lahir di Lengkong, Garawangi,...

Arsip
Aktivitas Dosen

Ilim Abdul Halim; Iman Sebagai Modal Dialog dengan...

Majalaya, sebuah kawasan dari Kabupaten Bandung yang dikatakan sebagai kota Dolar pada tahun 1960-an, tumbuh dengan ekonomi yang luar biasa karena pertumbuhan pabrik-pabrik tenun di  sana. Kain sarung yang menjadi penanda kehidupan...

Arsip

Ahmad, Calon Doktor dari Perbandingan Agama
Update: Senin, 1-FEB-2016

Dikampung Cisarua Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru yang jauh dari hingar bingar ternyata menyimpan pemuda berusia 28 tahun anak seorang petani yang sedang menempuh pendidikan untuk menadapatkan gelar doktor.

 

Ahmad Saepudin, warga RT13 RW02 Desa Sukamulya ini, genap berumur 28 tahun. Namun di usia terbilang muda ia tidak lama lagi menyandang gelar doktor.

 

Anak pertama dari 6 bersaudara yang lahir tanggal 09 Agustus 1987 yang meniti karir pendidikannya dengan susah payah hingga sekarang duduk di bangku kuliah S3 di salah satu Universitas Negeri Islam di kota Bandung.

 

“Saat ini usia saya 28 tahun, sekarang saya sedang menyelesaikan S3 di salah satu Universitas Negeri di Kota Bandung,” ujar Ahmad kepada Cidahu News, Rabu (27/1/2016).

 

Meski menyadari dengan status anak seorang petani terbilang tidak mampu, namun dengan tekad ditambah keinginan yang tinggi ia dapat melanjutkan pendidikannya dengan jeri payah sendiri.

 

Lulus S1 di Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin pertengahan tahun 2011 tercatat 3,5 tahun dengan predikat cum laude dan membaktikan diri di salah satu Sekolah Menengah Kejuaran (SMK) di Kecamatan Plered. Tahun 2012 dia melanjutkan kembali S2 di di kampus yang sama, lulus tahun 2014 masuk sebagai mahasiswa Cum laude di Prodi Religious Studies Pascasarjana Universitas Islam Negeri SGD Bandung dengan IPK; 3, 71.

“Setelah saya ulus S2, saya diangkat sebagai asiten dosen ( Asdos) di universitas tempat kuliah saya dulu,ditambah mendapat beasiswa dari provinsi untuk menlajutkan ke. S3,” tambahnya.

 

Menurutnya, Pendidikan itu penting tidak mengenal status laki-laki atau pun perempuan sebab, pendidikan adalah modal utama untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.

 

Sementara itu, Kepala Desa Sukamulya Tresna Himawan menuturkan, rasa kagum ditambah bangga ia rasakan setelah mendengar adanya masyarakat di Desanya yang mayoritas sebagai buruh banguanan.

 

“Alhamduliah ada salah seorang masyarakat saya yang sangat peduli dengan pendidikan. Karena untuk menyandang gelar doktor memang bukan orang sembarangan. Saya selaku kepala desa Sukamulya sangat terharu ,” tutupnya. (CidahuNews)