Pojok Dekan

MOTIVASI MENULIS ARTIKEL

“Artikel ilmiah adalah pencapaian akademisi bidang ilmu tertentu”

 

“Artikel ilmiah itu detail. Terdiri dari bagian yang kecil-kecil, sangat terperinci, dan segala hal ihwal tentang ketentuan...

Arsip
Pojok Pembantu Dekan

MENJANGKAU HATI DENGAN REGULASI

HANYA dalam sinetron persilangan pernikahan antara si kaya dan si miskin terjadi. Hanya dalam cerita-cerita fiksi, pernikahan antara mereka yang status sosialnya tinggi dengan yang status sosialnya rendah dirayakan. Dalam dunia...

Arsip
Aktivitas Dosen

HARMONI KEBINEKAAN

Apabila bangsa ini tidak mampu mengelola kebhinnekaan dan membiarkan makin melebarnya keadilan sosial ekonomi, bukan tidak mungkin negara bernama Indonesia akan bubar di 2030. Sumbu ledaknya ada pada isu Suku, Agama, Ras dan Antar...

Arsip

AGAMA AKAN MATI, KITA SEDANG MEMBUNUHNYA SECARA PERLAHAN
Update: Senin, 7-OKT-2019

BENARKAH agama akan mati? Benarkah kita hidup di jaman di mana kita akan menyaksikan agama terbunuh atau dibunuh secara perlahan?

Buku berjudul The End Of Religion Era, yang ditulis Guru Besar Pemikiran Islam Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, Prof. DR Afif Muhammad MA mencoba menyuguhkan tentang kemungkinan kematian agama bisa terjadi. Ya,,,kematian agama bisa saja terjadi dan kita semua adalah pembunuhnya.

Sejarah peradaban manusia di dunia, sesungguhnya telah membuktikan bahwa agama memang kerap terkubur, meski kemudian bangkit kembali dan bahkan membangun peradaban yang menakjubkan. Pluktuasi itu terjadi bahkan sejak jama Yunani Kuno meski istilah agama baru dikenal setelahnya.

Lihat saja sejarah pengetahuan yang dimulai pada masa Yunani Kuno. Ketika Mitos mulai tergerus oleh logos dan berpuncak pada keemasan masa sopis yang meyakini tidak ada lagi kebenaran mutlak, yang ada hanya kebenaran absolute. Pada pase ini, Mitos terkubur, dan logos meraja. Meminjam istilah Pakar Filsafat Pendidikan penulis buku Filsafat Umum Prof DR Ahmad Tafsir, Akal telah berjaya dan hati telah terkubur.

Hingga kemudian muncul seseorang bernama Socrates, yang dengan pengorbanan dirinya hati kembali bangkit dan duduk pada singgasanana yang sejajar dengan akal. Namun pengorbanan sang juru selamat justru kembali membawa petaka, ketika Hati ditempatkan pada singgasana semula, Akal menjadi dicampakan hingga Bangsa Eropa mulai masuk ke jurang kegelapan Dark Age.

Kebangkitan Bangsa Eropa yang puncaknya ditandai dengan Revolusi Industri, seolah kembali sukses mendudukan akal pada singgasana yang sejajar dengan hati. Namun pertarungan keduanya seolah tak pernah selesai sampai era millennium seperti sekarang ini.

Buku The End Of Religion di bagian awal seperti hendak mengulas pertarungan yang entah memasuki ronde ke berapa. Namun,dalam banyak catatan sepertinya Sang Penulis meramalkan agama akan kalah atau bahkan bisa kalah. Fenomena yang diungkap penulis terkait hal itu salah satunya adalah perilaku para penganut agama yang cenderung simbolis ketimbang substantive atau agama sebagai sistem nilai.

Pada bab-bab berikutunya, penulis mencoba menawarkan solusi agar agama tidak mati. Solusi yang ditawarkan, tak lain adalah kembali menawarkan agama sebagai sistem nilai yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya, karena penulis merupakan seorang pemikir Islam, maka sistem nilai yang ditawarkannya adalah sistem nilai yang dilandaskan pada syariat Islam.

Untuk tahu lebih dalam tentang isi buku tersebut, silahkan datang pada Acara Bedah Buku, The End Of Religion, yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin  pada Selasa, 9 Oktober 2019 di Aula Koordinatorat Perguruan Tinggi Islam (Kopertais) Jl.Ah.Nasution 105 Bandung.
Dalam acara tersebut, Prof Afif Muhammad (penulis buku) akan menjadi pembicara kunci (keynote speaker). Sedangkan Pembedahnya adalah Dosen Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, Drs.Ahmad Gibson Albustomi, dan menghadirkan seorang Pembanding yakni DR.Wahyudin Darmalaksana, MA Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung. (Nurholis)